Majelis (Permusyawaratan) Rakyat

(pic by Roosvansia)

Kenapa ujug-ujug saya menulis tentang MPR sih? Iya, ini MPR Majelis Permusyawaratan Rakyat yang itu lho! Tulisan yang mungkin agak berbeda dari tulisan lainnya, tapi ya gimana ya.. saya juga mempunyai ketertarika terhadap isu-isu negara. Tsah. kalau selama ini kebanyakan uneg-uneg hanya mentok di wall facebook, mari kita coba ceritakan dengan lebih panjang. Di blog.

Jadi begitulah, kenapa saya tertarik untuk mendaftar ketika Mba Mira Sahid memposting undangan di group untuk gathering Netizen dan MPR. Terus terang saya ingin tahu, sekarang porsi MPR bagaimana sih?

Sebelum reformasi, MPR adalah lembaga tertinggi di Indonesia. MPR yang kala itu terdiri atas anggota DPR, utusan daerah, dan utusan golongan mempunyai wewenang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Dan ini absolut sekali kan? Tentunya dengan wewenang tinggi lainnya yakni mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar, yang mana semacam hukum dasar yang mengikat seluruh hukum dan tata negara Indonesia. Jadi kalau bisa mengubah UUD, sudah macam lembaga superpower kan ya? 

Tapi semuanya berubah ketika reformasi. Semenjak Presiden dan Wakit Presiden dipilih langsung oleh rakyat, maka fungsi MPR hanya mengesahkan saja presiden pilihan rakyat itu. MPR juga yang berhak membuat keputusan untuk memberhentikan Presiden/Wakil Presiden jika DPR menghendaki. tentunya dalam keadaan yg darurat macam 98 atau ketika Gus Dur mundur dari presiden tahun 2001. Semoga ngga lagi-lagi deh terjadi hal yang demikian. Jadi, MPR itu beda dnegan DPR ya. MPR ngga membuat dan mengeshakan Undang-Undang, jadi jangan tanya soalan UU Alkohol ke MPR , biar ngga diketawain 😀 

Lalu, kalau ngga ada hal-hal yang luar biasa, MPR ngapain saja? Kan melantik Presiden hanya 5 tahunan, mengubah UUD entah berapa lama sekali, dan menyetujui usulan DPR untuk memberhentikan Presiden juga entah kapan (knock on wood!). Itu sih alasan saya mendaftar di gathering ini. Jadi kalau ngga ada PilPres, MPR ngapain sih? 

MPR tetap menyelenggarakan rapat tahunan yang digelar 16 Agustus, 2 hari dari sekarang! Rapat tahunannya ngapain? Mendengarkan laporan Presiden tentang kinerjanya selama 1 tahun yang disampaikan dengan pidato. Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas MPR kan? Mendengarkan orang berpidato! Hahaha. Agenda lainnya adalah peringatan Hari Konstitusi yang jatuh pada tanggal 18 Agustus 2016, untuk memperingati disahkannya Undang Undang Dasar (UUD) 1945; dan acara ‘MPR Berdzikir’berupa ceramah dan doa bersama pada 29 Agustus 2016 untuk memperingati uang tahun MPR, yang terbuka untuk umum. Agustus ternyata juga bulan yang padat di MPR, mirip lah dengan perumahanku, yang menggelar aneka lomba Agustusan sebulan penuh -_____-” 



Di acara yang bertempat di salah satu kafe di Senayan City kemarin memang dibuat santai, yang datang bisa pakai baju apa saja asal bebas dan sopan ya, serta berwarna putih, biar kelihatan kalau kerja 😀

Netizen yang datang pun ngga ada pesanan khusus harus ngapa-ngapain. Kita cukup mendengarkan plan mereka, kenalan sama ketua MPR Zulkifli Hasan dari Partai PAN, yang di kabinet 2009-2014 adalah Menteri Kehutanan. Intinya, MPR ingin lebih down to earth, tidak dianggap sebagai sebuah lembaga tinggi yang tak tersentuh. Sebagai salah satu lembaga yang menjadi aspirasi rakyat, sudah selayaknya MPR pun mendengar langsung aspirasi rakyat jelata.

Acara yang dibuat santai tersebut sudah dilakukan di beberapa kota lain, sebelum akhirnya ke Jakarta hari itu. Ya memang seharusnya demikian kan, saatnya lembaga tinggi kita berkeliling untuk berbincang dan mendengarkan rakyat, alih-alih menjadi lembaga yang dikultuskan dan tak tersentuh di Jakarta sana? 🙂


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *