Long Sa’an itu di Indonesia!

-Tentang manis udara pagi dari mana jejak awal berasal. Tentang dedaunan kering yang terbang karena buaian angin. Tentang ketulusan dan cinta akan tanda kelahiran. Tentang bagaimana semua dapat mewujud karena ada titik mula-

***

Saya belum bisa berkomentar tentang film ini karena sebenanrya film ini masih dalam tahap proses editing. Namun bagaimana Bang Erik selaku sutradara berhasil merekam gambar dengan kualitas yang bagus, lalu renyah suara Robi Navicula yang melatarbelakangi film ini sehingga membuat kita leluasa menangkap kesan yang hendak disampaikan meskipun belum semuanya digambarkan pada video berdurasi 25 menit ini. Film ini sesungguhnya belum ditayangkan di tempat lain kecuali di Bali.

Bagaimana film ini mampu membuat saya memiliki keinginan mengulas lagi?

Karena sudah sekian lama saya tidak pernah lagi mengulas film, membuat jurnal atau catatan perjalanan, dan hal-hal lain yang selalu saya senang lakukan setelah melewati sebuah peristiwa yang menurut saya cukup luar biasa. Maka perkenankan saya mulai mengetengahkan alasan mengapa saya ingin berbagi pengalaman menonton semalam dengan kekawan sekalian. Berikut,

Pada tahun 1960 desa Kenyah Dayak Long Saan yang sangat terpencil dan terletak tinggi di pegunungan hutan hujan dan sangat tertutup di Kalimantan, ditinggalkan oleh penduduknya. 1600 penduduk berjalan selama berbulan-bulan melewati pegunungan dan sungai untuk mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan pantai, perjalanan ini dilakukan demi perdagangan yang lebih baik, pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Singkatnya, untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak dan cucu mereka. Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah kembali ke Long Saan karena letaknya yang sangat jauh dan akses transportasi yang sulit.

“Jaman dahulu, jika kami ingin bermain ke sungai. Kami berangkat jam 7 pagi dan tiba di sungai jam 12 siang.” Ujar Laen yang adalah salah satu generasi Long Sa’an

Beberapa hal yang sempat dibagikan oleh sang sutradara ketika obrolan lepas berlangsung setelah film ini diputar.

“Tidak ada garam di Long Sa’an, jika mereka butuh garam, mereka menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk bisa menemukan garam dan kembali ke desa. Ada seorang ibu yang bercerita, jadi saat ekspedisi dari Long Sa’an ke Setulang, saat berangkat itu anaknya masih berusia sekitar dua bulan, dan ketika mereka tiba di setulang anaknya sudah mencapai usia setahun. Karena perjalanan tersebut benar-benar panjang dengan banyak perhentian diakibatkan kehabisan bahan makanan, terkena wabah penyakit dan sebagainya”

Film ini merekam perjalanan sekelompok suku Dayak (sekarang Sesepuh di desa baru, Setulang) kembali ke rumah masa kecil mereka, dimana mereka menghabiskan masa kecil mereka sepanjang jalanan di hutan, bermain di sungai, dan berburu. Selain itu perjalanan ini juga mengantar mereka kembali ke situs pemakaman kuno, tempat nenek moyang dan orang tua mereka dikuburkan. Sebuah situs pemakaman yang berada di dinding-dinding tebing tinggi berbentuk seperti perahu, tempat diletakan jenazah orang-orang yang sudah meninggal. Sebagian dari kita yang mengaku bangsa Indonesia mungkin tidak pernah tahu tentang ini, dan dengan ketidaktahuan kita; ketika ada bangsa tetangga yang mengakui keberadaan tersebut sebagai budaya dan situs kebudayaan mereka, kita berdecak kagum dan memuji tanpa pernah teliliti bahwasannya itu titipan nenek moyang bagi para generasi bangsa ini. Ironi!

Ekspedisi ini menunjukkan, bukan untuk pertama kalinya, betapa pentingnya tanah kelahiran bagi orang Dayak. Hubungan spiritual mereka dengan hutan, sungai, dan binatang – mungkin sulit bagi kita untuk memahami, apalagi dengan perkembangan hidup jaman sekarang yang begitu modern dan kapitalis.

Tahun 2012, ketika saya menghabiskan waktu selama satu minggu di Kalimantan Barat untuk sebuah kegiatan orang muda, yah saya cukup beruntung karena menyaksikan langsung, betul adanya bahwa orang Dayak mulai merasa kehilangan jati diri mereka. Tempat asal mereka yang adalah rimba. Kota-kota dibangun, lahan-lahan dibuka dengan ukuran dan kapasitas yang maha luas yang tidak sepatutnya sering dilakukan masyarakat setempat, yang biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari eh sekarang untuk memenuhi timbunan kekayaan orang tertentu.

Orang Dayak mungkin tidak berharap mengenakan kulit kayu lagi dan bermalam di rimba tanpa cahaya lagi, tetapi mereka tetap berharap bahwa hutan dan alam semesta ini tetap seimbang dan terjaga. Mengambil secukupnya sesuai yang dibutuhkan dan mengembalikan sebanyak sebagai yang sudah diambil. Sudah begitu saja, tidak repot, tidak ada birokrasi, tidak ada surat perjanjian bahkan materai 6000.

Lalu apakah ada yang peduli dengan ini?!

Harusnya PEMERINTAH. Iya, tetapi pemerintah urusannya buanyak dan semuanya belum tentu memiliki peta pemikiran yang sama. Trade recordnya bisa dilihat :p

Hm.. kan ada LSM/NGO! Heilooo… apakah semua Lembaga Swadaya Masyarakat bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan dan sosial masyarakat semesta ini?

Saatnya sama-sama kita mulai serius. Pelan saja, dari hal yang kecil. Pupuk kepedulian kita untuk sekedar belajar dan mencari tahu tentang Indonesia – tentang iklim perkembangannya – tentang budaya dan semua potensi yang bisa dikembangkan – tentang kita yang katanya generasi biru dan bisa melakukan semua karena kita JAGO!

Deuh saya sok sekali! hahaha

***
Saat memejamkan mata semalam karena kelelahan yang mendera, saya tiba-tiba teringat kampung halaman saya di kaki gunung Kelimutu. Tepatnya kampung halaman Bapak. Orang-orang di kampung bapak juga sebenarnya adalah masyarakat yang berpindah dari kampung induk mereka, anehnya mereka mencari pemukiman yang jauh dari sungai. Dahulu saat masih kecil, jika main ke kampung dan hendak mandi, kami diwajibkan turun ke sungai jam tiga sore sehingga bisa kembali ke kampung saat hari masih terang, kira-kira jam lima senja. Karena untuk turun ke sungai butuh waktu satu jam dan kembali ke kampung butuh waktu satu jam lagi, belum ditambah waktu untuk beristirahat, mencuri jeruk di ladang tetangga atau singgah ke kebun sendiri untuk membakar jagung dan kentang. Namun seberapa pun jauh, mendaki dan melelahkan kampung halaman saya tersebut, orang-orangnya tetap setia membangun rumah dan keluarga mereka, permanen. Di bukit tempat orang-orang kampung saya bermukim tersebut, jeruk, kemiri, vanili, kelapa dan semua palawija tumbuh dengan sentosa dan selalu memberi hasil sesuai yang orang-orang kampung butuhkan. Demikian pun orang-orang kampung saya, tak pernah lupa bersyukur, mengambil seperlunya, menjual karena membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup, mengatur sesajen kepada Tuhan dan nenek moyang mereka sebab telah diberikan hidup yang baik dan menggembirakan.

Semoga tulisan ini memberikan terang dan sukacita, saya hanya garam yang kadang-kadang terlalu asin 🙂

PS : Gambar diambil dari google “dayak tempo doloe”

Dan, dibawah ini salah satu thriler “Long Sa’an.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *