Category Archives: Jaringan Blogger

Es Kopi Susu Khayal, Favorit Para Generasi Milenial

Khayal Coffee Studio adalah salah satu coffee shop yang sedang hype dikalangan generasi millenial kota Denpasar. Coffee studio ini kerap dikunjungi para remaja untuk sekedar berkumpul bersama teman teman atau mengerjakan tugas sembari menikmati secangkir kopi serta ditemani wangi kopi yang khas. Khayal Coffee Studio didirikan oleh Cahaya Sedana pada Juli 2017. “Kopiku dan Khayalku Biarlah Menjadi Satu”, adalah pilosofi dibalik keunikan nama Khayal Coffee Studio. Bertempat di Jalan Tukad Barito Timur, No. 88, Denpasar, Khayal Coffee Studio buka pada pukul 10.00 – 23.00 WITA.

“Keunggulan Khayal Coffe Studio dibandingkan coffee shop lainnya yakni terletak dikawasan strategis, suasana yang nyaman dan barista yang berkompeten dalam meracik kopi”, ujar Ricky Sandiyoga, salah satu Barista Khayal Coffee Studio. Menurut Ricky, menu kopi yang menjadi favorit pengunjung adalah Es Kopi Susu Khayal, karena terbuat dari biji kopi pilihan yang dipadukan dengan resep khusus ala Khayal Coffee Studio menjadikan es kopi susu ini memiliki cita rasa yang istimewa.

Es kopi susu di Khayal Coffe Studio dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, yakni dari 18 sampai 25 ribu rupiah, menjadikan es kopi ini semakin diminati khususnya oleh para generasi muda. Selain es kopi, Khayal Coffee Studio juga menyediakan Hot Coffee, Iced Frape dan dessert, seperti French Fries dan Donat Kampung.

“Khayal Coffee Studio ini tempatnya nyaman, kopinya enak dan harganya terjangkau”, menurut salah satu pengunjung Khayal Coffee Studio, Mahatma Kundalini. Menu yang menjadi favorit Mahatma yaitu Donat Kampung, karena rasanya yang klasik dan sangat pas jika dihidangkan bersama es kopi susu.

The post Es Kopi Susu Khayal, Favorit Para Generasi Milenial appeared first on BaleBengong.

Awul-awul keren = Cloth Swap!

Kemarin (akhirnya) meniatkan diri ikut #tukarbaju atau cloth swap. Sebuah upaya untuk kurangi limbah tekstil dengan memperpanjang usia pakaian krg lebih 9 bulan dan mengurangi emisi karbon krg lebih 30%. Mengapa 9 bulan? Kata Amanda, salah satu pemantik diskusi — angka itu sudah disurvey dari jangka waktu bosannya seseorang akan pakaian yang dimilikinya. Dengan #tukarbaju […]

Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Kaum Muda

Para pemuda menyajikan makanan untuk warga

Desa mawa cara tampaknya sudah kembang kempis napasnya di negeri ini.

Banyak desa yang tak berbau khas pedesaan padahal para pemudanya banyak yang bergelar sarjana. Suasana guyub dengan kekuatan gotong royong dan tepa slira seakan luntur dari kultur desa maupun dusunnya. Terutama ketika maraknya teknologi di berbagai bidang mulai mendominasi.

Dusun Purworejo, Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Jika Anda mencari di aplikasi maps, maka akan tahu bahwa dusun ini tak berjarak begitu jauh dari pusat kota.

Sebuah dusun kecil yang terletak di utara Desa Metatu ini masih menyimpan satu napas panjang keguyuban dan persatuan melalui aktivitas para pemuda. Banyak sekali inovasi kegiatan yang ditelurkan para pemuda setiap tahunnya. Salah satunya yaitu Warung Subuh.

Kegiatan ini dirintis pada tahun 2018, meskipun embrio awalnya sudah sejak lama dilakukan ketika ada even besar. Bermula dengan cita-citanya untuk mengabdi kepada dusun, kepala dusun yang bernama Nanang Qosim mulai mengajak para pemuda untuk sebisa-bisanya berdedikasi di lingkungannya.

Para pemuda tengah begadang menyiapkan masakan

Perlahan mulai banyaklah para pemuda untuk turut serta tanpa imbalan maupun janji apapun. Maka, dirintislah Warung Subuh, sebuah konsep yang menggabungkan berbagai nilai baik dalam kehidupan horisontal (sesama manusia) dan vertikal (kepada Tuhan).

Warung Subuh merupakan sebuah wadah bagi para masyarakat untuk turut serta menyisihkan sebagian apa yang mereka punya setiap minggu. Tepatnya setiap subuh di hari Minggu, berlokasi di halaman masjid Al-Ikhlas Dusun Purworejo. Tidak ada batasan maupun kewajiban di dalam partisipasi warga, murni terbuka bagi siapapun yang menyumbang dengan nominal berapapun.

Bahkan, proses memasak dan menyajikan pun dibuka untuk siapapun yang mau memberikan tenaga dan waktunya. Dan alhasil, para pemuda siap begadang semalam untuk menyajikan hasil sumbangsih warga agar bisa dinikmati ketika subuh datang di hari libur.

Adapun menu yang disajikan, sepenuhnya diserahkan kepada kepala dusun, begitu juga dengan list donatur maupun waktu pengumpulan bahan masakan. Hampir setiap minggu tersaji menu yang berbeda, membuat para warga terasa nyaman dan guyub menyambut hari libur.

Konsep ini pun mulai dikembangkan sayapnya, para pemuda dusun memiliki inisiatif untuk lebih mengabdi. Salah satunya yaitu upaya memberikan jasa memasak gratis bagi warga dusun yang memiliki keinginan membuat hajat tetapi terkendala jasa juru masak maupun biaya.

Keberhasilan Warung Subuh yang mampu merekatkan solidaritas sosial para pemuda melahirkan ide-ide sosial lainnya. Di antaranya yaitu mobil pengantar sakit gratis bagi warga dusun yang tengah sakit, dan pengobatan gratis tiap Jumat.

Khusus di bulan Ramadhan ini, Warung Subuh bertransformasi menjadi Warung Ta’jil yang dibuka di depan jalanan masjid Dusun Purworejo untuk semua warga dan musafir.

Serangkaian ide tersebut membuat dusun ini mandiri dan tidak terlalu menunggu respon dari desa maupun kecamatan ketika terjadi sesuatu. Sehingga dusun ini bisa bernapaskan khas pedusunan di tengah desa-desa yang mulai tergerus individualisme ala kota. [b]

The post Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Kaum Muda appeared first on BaleBengong.

Bali Menggugah, Kini Harus Tabah

Ilustrasi bersih-bersih sampah. Foto Greenpeace Indonesia.

Bali yang tabah. Bali yang dulu menggugah, kini harus tabah.

Sebutan pulau Seribu Pura, surga dunia, lambat laun berubah dengan sebutan yang mengelus dada. Pulau sampah, surge sampah, bahkan yang paling menakutkan kenyataan bahwa Bali akan atau menuju sebutan pulau plastik. Sebutan yang tidak main-main.

Jika di Korea sana, banyak orang ingin operasi plastik demi mempercantik diri, Bali justru kebalikannya. Sampah plastik yang tak bertuan membuat Bali kian memprihatinkan.

Pantai, sungai, bahkan parit mengabadikan setiap detik bagaimana sampah memenuhi semuanya. Sampah yang sengaja dibuang tuannya, sampah yang sengaja ditimbun, hingga tumpukan sampah plastik yang tak berkesudahan membuat banyak orang akhirnya menyerah. Pernah ditemukan sampah kemasan mie instan yang diproduksi 10 tahun silam masih utuh dan mengambang di lautan.

Bisa dibayangkan, bagaimana kokohnya sampah plastik itu meracuni lautan, sumber air, juga lingkungan di Bali?

Jika dahulu Bali dikenal dengan pantai yang airnya, pasirnya, aromanya, berbisik merdu. Kini, banyak yang mengeluh justru bisikan itu lagi-lagi soal sampah plastik yang mengotori pantai, sungai, tempat wisata, serta seluk beluk Bali.

Dari data Dinas Lingkungan Hidup, jumlah timbulan (volume sampah atau berat sampah yang dihasilkan)di Bali terus meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2015 timbulan sampah di Bali mencapai 10.266,40 meter kubik tiap harinya. Untuk tahun 2016 meningkat menjadi 12.892 meter kubik. Tahun 2017 timbulan sampah menjadi 13.351,13 meter kubik per hari.

Kota Denpasar menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah di Bali. Dengan jumlah penduduk mencapai 880.600 jiwa, timbulan sampah yang dihasilkan Denpasar mencapai 3.719 meter kubik per hari. Klungkung menempati posisi kedua dengan timbunan sampah mencapai 2.893 meter kubik per hari.

Menyusul Buleleng dengan 1.923 meter kubik. Lalu Gianyar dengan 1.498 meter kubik, Jembrana 1.005 meter kubik, Tabanan 866 meter kubik, Badung 723 meter kubik, Bangli 559 meter kubik, dan terakhir Karangasem dengan 162 meter kubik per hari.

Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik ke laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok. Mengapa lantas kita berlomba-lomba menjadi pemenang dalam kategori mengecewakan?

Indonesia, khususnya Bali harus berbenah. Harus ada bukti nyata bagi anak cucu kita nanti bahwa Bali bukan pulau plastik, surga sampah. Bali, ya, Bali yang hijau, asri, indah, pulau surga senyatanya.

Di antara banyak orang yang pasrah dan menyerah, ada orang-orang peduli yang bergerak. Langkah sederhana dari desa untuk dapat mengurangi sampah plastik dan membantu pemerintah dalam menjalankan program Bali bebas sampah plastik. Kisah sekelompok warga yang peduli dan menamai diri Pego.

Sejumlah warga di Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, membangun komunitas yang gencar memburu sampah plastik.

Komunitas yang menamakan diri Peliatan Ngogo, ini berburu sampah plastik di kawasan suci seperti pura hingga kuburan. Upaya ini diharapkan dapat mengilhami masyarkat luas, untuk tidak memanfaatkan sampah plastik saat ke pura. Langkah kecil yang berarti bagi desa Peliatan.

Tidak hanya kalangan muda, aparatur desa hingga tokoh masyarakat setempat pun ikut ambil bagian. Gerakan ini diharapkan semakin meluas dan terpenting mentradisi di masing-masing rumah tangga. Sebab, jika sampah rumah tangga sudah beres, tak ada persoalan sampah kota, sampah provinsi, apalagi sampah negara.

Komunitas Pego ini adalah wadah bagi warga Desa Peliatan, khususnya anak muda untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Sekaligus sebagai solusi masalah kepedulian sosial. Dalam sepuluh tahun terakhir kondisi sungai di desa setempat cukup memprihatinkan. Selain limbah cair rumah tangga, juga bercampur limbah padat, yakni sampah plastik.

Mudah-mudahan dengan gerakan warga ini dapat menumbuhkan budaya malu kepada mereka yang selama ini membuang limbah ke sungai, begitu peringatan sang komando komunitas Desa Peliatan ini.

Bendesa Pakraman Peliatan, I Ketut Sandi mengakui, tidak hanya di perkotaan, kondisi air sungai di Peliatan juga mulai memprihatinkan. Kondisi ini juga yang mambuat krama setempat bergerak dengan aksi telusur sungainya. Mereka rutin dan menargetkan sungai yang mengalir di desa setempat kembali lestari.

Setelah sungai, Pego juga memastikan kawasan suci agar steril plastik. Bahkan mereka sudah mengeluarkan aturan untuk kalangan desa agar kegiatan persembahyangan hingga nunas Tirta dilarang menggunakan kantong plastik.

Alhasil beberapa bulan terakhir cukup efektif menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Buktinya, Pego yang didominasi oleh anak-anak muda ini dijadikan wadah berkreasi untuk kelestarian lingkungan. Komunitas ini juga dijadikan media informasi bagi pemuda terkait isu lingkungan, mengedukasi warga untuk peduli terhadap lingkungan dan utamanya melakukan aksi nyata demi penyelamatan lingkungan hidup.

Salah satu gerakan anak muda desa yang bisa menginspirasi desa lainnya untuk dapat mengurangi timbunan sampah plastik di Bali. Tentu, kabar baiknya, banyak pula warga desa yang secara sadar telah melakukan gerakan-gerakan serupa untuk membantu mengurangi plastik di lingkungannya masing-masing.

Mari kita gemakan gerakan positif ini agar tak berhenti di satu desa saja. Melainkan makin mewabah dan memberangus plastik dengan sendirinya.

Dua pejabat di Bali, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Gubernur Bali Wayan Koster mulai 2019 pun tampak serius dalam “menyelamatkan” Bali. Aturan pengurangan dan pelarangan menggunakan plastic seklai pakai telah berjalan dan semoga lekas menjadi budaya. Menyelamatkan Bali dari sampah plastik adalah gerakan ambisius yang tentu tidak bisa diwujudkan sendiri.

Seperti Pego di desa Peliatan, siapapun bisa bergerak. Mari lakukan. [b]

The post Bali Menggugah, Kini Harus Tabah appeared first on BaleBengong.

Sexy Killers Bukan Penghakiman

Apa Itu Sexy Killers?

Sexy Killers merupakan film dokumenter tentang kisah produksi, distribusi dan konsumsi listrik masyarakat Indonesia yang digarap oleh Watchdoc Indonesia. Jika belum tahu, Watchdoc Indonesia adalah rumah produksi audio visual yang berdiri sejak tahun 2009.

Sepanjang berdirinya, Watchdoc sudah memproduksi lebih dari 160 film dokumenter dan juga memperoleh berbagai penghargaan. Adapun orang yang berada di balik Watchdoc Indonesia adalah Dandy Dwi Laksono. Seorang mantan jurnalis di beberapa stasiun tv swasta.

Famplet Film Dokumenter Sexy Killer

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang siapa Dandy Dwi Laksono tersebut. Tulisan ini akan lebih membahas tentang isi film ini dari awal hingga akhir serta beberapa pendapat tentang tulisan ini. Karena sungguh di luar dugaan, film ini dapat memunculkan berbagai pandangan di kepala setiap orang. Sangat luar biasa.

Kontroversi Sexy Killers

Sejak kemunculannya, film ini sudah menjadi perbincangan banyak orang. Film yang ramai-ramai di tonton oleh banyak orang ini menuai berbagai pandangan. Sejak dikeluarkannya film ini, juga banyak daerah yang melaksanakan nonton bareng di tempatnya masing-masing. Hingga hari ini lebih dari 250 titik lokasi nonton bareng film ini. Bisa dibayangkan berapa juta masyarakat Indonesia yang sudah menonton film ini? Selain itu, sejak film ini resmi di unggah dalam platform Youtube sejak tanggal 14 April 2019 viewers film ini mencapai 21 juta hanya dalam waktu 2 minggu saja. Namun, uniknya film ini tidak masuk dalam trending youtube. Padahal jika dilihat dari jumlah viewersnya yang fantastis, film ini pantas masuk dalam trending youtube.

Selain dari segi jumlah penontonnya, baik pada momen nonton bareng maupun yang menonton di platform youtube. Film ini juga cukup menuai kontroversi, karena dalam film ini benar-benar mengupas habis keterlibatan kedua belah paslon yang sedang berkontestasi dalam Pemilu Tahun 2019 ini. Tanpa ada yang ditutup-tutupi, semua dibahas sampai tuntas keterlibatan elite politik Indonesia dalam oligarki tambang Indonesia.

Banyak juga yang mempertanyakan, kenapa film ini diputar pada detik-detik menjelang Pemilu diselenggarakan? Pertanyaan ini banyak sekali dilayangkan sebelum atau setelah menonton film ini. Bahkan dalam sesi diskusi Nonton Bareng film Sexy Killers di ISI Denpasar, ada salah satu penonton menanyakan hal tersebut kepada Dandy Dwi Laksono yang juga hadir sebagai narasumber kala itu.

Jawabannya sangat simpel dan masuk akal, “agar masyarakat dapat mengetahui siapa sebenarnya orang-orang yang akan dipilihnya nanti,” kurang lebih itulah yang dikatakannya. Jika, mengambil sudut pandang dari Sutradara Film, film ini diputar menjelang perhelatan demokrasi terbesar di Indonesia adalah untuk membuka wawasan masyarakat Indonesia akan calon pemimpin yang dipilihnya dan lebih memperkenalkan rekam jejaknya dalam bidang tambang khususnya.

Elite Politik Meragukan?

Saya yakin banyak yang meragukan elite-elite politik Indonesia setelah mengetahui data dan fakta yang disajikan dalam film Sexy Killers tersebut. Apalagi kebanyakan narasi-narasi yang dilontarkan oleh mereka sangat berbanding terbalik dengan apa yang nyataya terjadi.

Fakta bahwa bisnis tambang ini hanya dikuasai oleh segelintir orang dan ternyata dua kubu yang saling menyerang satu sama lain juga menjadi kolega dalam bisnis ini tentu akan menurunkan tingkat kepercayaan dari masyarakat kepada pemerintah sekarang. Dalam film tersebut juga disajikan cuplikan debat kandidat yang diikuti oleh kedua Calon Presiden yang pada kala itu sang moderator memberikan pertanyaan tentang nasib lubang bekas galian tambang yang terbengkalai dan memakan banyak korban jiwa di Kalimantan.

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, moderator menyebutkan 3500 lubang tambang yang belum direklamasi kembali. Namun, respon dari kedua Capres tersebut sangatlah mengecewakan. Hanya melontarkan narasi bahwa akan tegas melawan mafia-mafia tambang perusak lingkungan dan tidak ingin banyak berdebat akan hal tersebut. Mengecewakan bukan?

Tidak hanya sampai disana, dalam film tersebut juga ditampilkan cuplikan rapat komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Muhammad Nasir selaku Wakil Ketua Komisi dari Fraksi Partai Demokrat. Secara tegas menanyakan soal pertanggungjawaban pemerintah terhadap lubang-lubang bekas galian yang terbengkalai kepada pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM yang kembali lagi tidak dapat mempertanggungjawabkan ijin yang telah mereka keluarkan.

Mirisnya, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor tidak memiliki langkah strategis untuk menanggulangi lubang galian tambang yang makin hari semakin banyak merenggut korban jiwa. Pernyataan yang lebih parah lagi disampaikan oleh Gubernur Kaltim tersebut bahwa “korban jiwa terjadi dimana-mana, ya namanya nasib dia meninggal di kolam tambang.” Pernyataan yang sama sekali tidak memihak kepada masyarakat.

Dimana Posisi Negara dalam Kasus Ini?

Kembali lagi, dalam kasus yang melibatkan kehidupan masyarakat kecil negara tidak serius dalam menanggapai. Bahkan bisa dikatakan negara lebih memihak kepada pemilik modal yang secara nyata tidak memperdulikan nasib masyarakat terdampak langsung.

Bukan tanpa alasan, melihat dan membaca respon yang disampaikan oleh pemerintah yang notabene memiliki instrumen untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak terlihat keseriusannya. Terlihat hanya sekedar memberikan jawaban yang mampu memuaskan rasa ingin tau dari masyarakat banyak. Padahal belum tentu apa yang mereka katakan akan langsung ditindak lanjuti. Ditunda? Sangat besar kemungkinan tersebut karena tidak dalam prioritas mereka.

Padahal dalam UUD 1945 pasal 33 UUD 1945 berbunyi sebagai berikut : ayat (1) berbunyi; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat (2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat (3) menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ayat (4), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional dan ayat (5); Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Meneropong bunyi dari pasal 33 ayat 3, maka jika melihat realita hari ini apakah negara sudah mampu mengamalkannya? Belum. Kenapa demikian? Karena masih sangat banyak sumber daya kita yang dikuasai oleh pihak asing dan negara hanya bisa menikmati sedikit dari sumber daya melimpah yang dinikmati oleh pihak asing. Negara harus segera berbenah.

Bukan Penghakiman

Walaupun kita sebagai warga negara sudah mengetahui bahwa pemerintah kita memiliki banyak kekurangan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun, bukan berarti kita harus sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Sebagai warga negara, kita mesti memberikan kontribusi kepada negara, apalagi jika melihat pemerintah berada dalam track yang salah.

Wajib kita perbaiki yang dapat kita lakukan dengan berbagai cara, baik itu audiensi, demonstrasi atau bisa langsung melakukan aduan kepada Instansi terkait. Selain itu, media hari ini sangatlah efektif untuk menjadi ruang kita menyampaikan aspirasi. Tuangkanlah aspirasi dan pemikiranmu ke dalam bentuk tulisan dan sebarkan, sehingga banyak orang mengetahui apa saja keresahan serta apa solusi yang akan kamu berikan untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintah.

Warga negara yang cerdas adalah warga negara yang memberikan kritik sekaligus solusi atau gagasan kepada pemerintah.

The post Sexy Killers Bukan Penghakiman appeared first on BaleBengong.