Category Archives: Artikel

Memopulerkan Jurnalisme Warga di Udara

Oleh Winarto

Sesuai dengan perencanaan yang telah didiskusikan di milis Baliblogger dan term of reference yang disusun untuk BBC on Air di Bali FM, maka pada hari Minggu, 15 November 2009 diadakan talkshow yang bertema “Jurnalisme Warga Bali”. Narasumber yang hadir pada BBC on Air kali ini adalah Luh De Suriyani, yang akan berbagi dan sharing mengenai citizen journalism dan portal citizen journalism bagi warga Bali, Balebengong.

Konsep dan perkembangan citizen journalism terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi terutama internet yang diikuti dengan berbagai macam social media; baik social networking, blogs, photo sharing, micro-blogging, video sharing dan lain sebagainya. Pada citizen journalism, warga masyarakat biasa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan, melaporkan, menganalisis dan menyebarkan berita dan informasi yang ada di sekitar mereka. Dalam jurnalisme warga, masyarakat ditantang untuk berani merekam setiap berita informasi yang ada di sekitarnya untuk kemudian dilaporkan dalam bentuk-bentuk berupa video, artikel berita ataupun foto.

Secara kebetulan, Kick Andy episode minggu ini yang ditayangkan hari Jumat malam dan diputar ulang hari Minggu sore, menyajikan topik mengenai “Menjadi Saksi Mata“. Dalam episode tersebut, dihadirkan masyarakat yang berhasil merekam berbagai kejadian unik, lucu, dramatis ataupun langka. Seperti diketahui bahwa Metro TV memiliki satu acara “I Witness MetroTV“, yang memberikan ruang bagi warga masyarakat untuk terlibat dalam jurnalisme warga. Jurnalisme warga baru menjadi topik yang banyak diperbincangkan dan akan menjadi suatu yang menarik jika warga masyarakat yang merekam dan melaporkan berita dan informasi yang ada di sekitarnya dan luput dari pemberitaan media massa.

Di Indonesia, telah banyak portal yang menyediakan ruang untuk menampung “gairah” masyarakat dalam jurnalis warga. Beberapa portal tersebut adalah PANYINGKUL, Kompasiana, Politikana, Wikimu, I Witness MetroTV dan sebagainya. Antusiasme warga masyarakat dalam merespon website yang menyediakan ruang untuk jurnalisme warga tersebut. Cobalah tengok ke masing-masing website tersebut, tentu ada banyak penulis yang notabene warga masyarakat biasa yang tertarik pada jurnalisme warga, serta tidak ketinggalan komentar-komentar dari masyarakat pula yang ditinggalkan pada masing-masing tulisan yang diposting.

Bale Bengong dan Jurnalisme Warga Bali
Booming jurnalisme warga melalui berbagai social media merupakan fakta yang menarik untuk dipelajari dan direspon. Di Bali pun tidak mau ketinggalan. Terdapat Bale Bengong yang dirintis dan dikelola oleh beberapa rekan jurnalis dan blogger di Bali yang bertujuan untuk tempat berbagi informasi apa saja tentang Bali. Portal tersebut dikelola secara partisipatif oleh siapapun yang peduli dan ingin berbagi informasi tersebut. Bale Bengong sekaligus merupakan bagian dari upaya mewujudkan jurnalisme warga di Denpasar maupun Bali (Untuk lebih mengetahui tentang Bale Bengong silahkan klik di sini).

Melalui Bale Bengong, warga di Bali khususnya ditantang untuk berani mengabarkan sesuatu berita dan informasi, termasuk mengangkat persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya, bahkan sekaligus menyusun solusinya. Oleh sebab itu, masyarakat perlu dimotivasi agar mereka mau diajak terlibat dalam penyusunan informasi dan berita, sebab prinsip dari jurnalisme warga adalah warga tidak hanya menjadi konsumen tapi juga sebagai produsen/penghasil sekaligus pengelolaan informasi itu sendiri mulai dengan cara membuat, mengawasi, mengoreksi, menanggapi, atau sekadar memilih informasi yang ingin dibaca.

Tantangan yang dihadapi oleh Bale Bengong sebagai salah satu media citizen journalism di Bali adalah bersumber dari masyarakat itu sendiri, yaitu mengenai kesadaran masyarakat akan arti penting sebuah informasi dan berita. Meskipun tertatih-tatih untuk “memprovokasi” masyarakat di Bali, namun upaya tersebut terus dilakukan melalui berbagai macam pelatihan gratis Citizen Journalism sekaligus pelatihan pembuatan blog ke masyarakat yang diorganisir oleh beberapa jurnalis di Bali, Bali Blogger Community dan Sloka Institute. Melalui upaya tersebut, paling tidak traffic Bale Bengong dan komentar-komentar yang masuk terus mengalami peningkatan.

Beberapa langkah kemajuan terjadi di Bale Bengong. Pada bulan Juli 2009, Saylow, sebagai webmaster Bale Bengong, mengubah theme website tersebut (Lihat Sepuluh Hal Baru di Bale Bengong). Tampak sangat menarik. Selain itu, Vivanews juga bekerjasama dengan Bale Bengong dalam U Report. Pada bulan Oktober lalu, Bale Bengong pun memperoleh award di ajang Pesta Blogger 2009 yang diselenggarakan di Jakarta untuk kategori “Blog harian dan umu m terbaik”. Tentu, hal tersebut adalah sesuatu hal yang sangat membanggakan. Meski demikian, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk memopulerkan citizen journalism di Bali khususnya dan website Bale Bengong.

Seperti telah dikemukakan di awal, telah banyak media yang menyediakan wadah untuk citizen journalism. Salah satu portal citizen journalism yang mampu mengalahkan media mainstream adalah Ohmynews yang berasal dari Korea. Bercermin dari website tersebut, tentu bisa mendorong Bale Bengong untuk lebih maju lagi sebagai salah satu media citizen journalism. Tentu, hal tersebut akan bisa terjadi terdapat partisipasi didukung penuh oleh warganya.

Diambil dari http://winarto.in/2009/11/memopulerkan-citizen-journalism-dan-balebengon…

Trekking Panduan Etika Blog

Oleh Dani Iswara

Tulisan ini hasil trekking di Google Indonesia terkait etika blog. Hanya bermaksud mengambil poin-poin yang bisa dijadikan panduan atau rujukan. Bukan hendak merumuskan suatu kode etik bagi narablog/blogger.

Kode etik sudah dimiliki oleh kaum profesi seperti jurnalis, advokat, dan dokter. Bukankah itu juga mengikat mereka saat memakai identitas profesi diri di media blog?

Jika berada di ranah publik, blog tentu harus memandang norma yang berlaku. Baik saat menulis/menyajikan konten di halaman sendiri dan komentar di halaman weblog orang lain. Bukan hanya hal salin tempel/copy-paste dan pembajakan konten.

Perlu atau tidak? Tentu saja perlu. Bahkan mungkin sudah diterapkan dengan tidak sadar. Tiap pemakaian mesin blog, fitur blog, dan hosting-nya memiliki ‘perjanjian’ tertentu, bukan?

Takut blog menjadi tidak lagi cair dan malah kaku? Agak miris memang melihat jalur hukum ditempuh demi bermasalah dengan blog.

Tiap tindakan tentu ada risikonya. Bagaimana mengurangi peluang terjadinya risiko tersebut? Lebih baik mencegah daripada menyesal kemudian, bukan?

Saya meringkas beberapa konsep umum menjadi 6 hal berikut:
* Objektif.
* Menghargai hak cipta.
* Jujur.
* Tidak bermaksud menyakiti.
* Melindungi kerahasiaan.
* Bebas bertanggung jawab.

Penjabarannya seperti di bawah ini:

Objektif
Konten hendaknya disajikan dengan objektif semaksimal mungkin. Lengkap informasi beserta fakta. Tidak terlalu interpretatif. Mengurangi penyesatan informasi. Bukan karena hanya dorongan/nafsu subjektif. Jika memang berupa pendapat pribadi/opini, asumsi, atau gosip, hal ini sebaiknya dinyatakan dengan jelas (lihat di bawah; jujur).

Menghargai hak cipta
Perhatikan lisensi atau hak cipta konten. Jika perlu, minta ijin untuk salin tempel/copy paste konten. Cantumkan sumber informasi (jujur).

Jujur
Terkait dengan identitas diri, sumber konten, dan konflik kepentingan.

* Identitas diri
Identitas asli, anonim, anonim semu/pseudonym sama-sama dihargai. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Identitas dapat menumbuhkan kredibilitas dan kepercayaan publik. Masih bisa disebut anonim jika sudah pernah kopi darat (kopdar)?

* Konten
Menyebutkan tautan sumber. Bukan sekadar menyajikan uniform resource locator (URL). Sebaiknya berupa teks pranala yang bisa diklik dan valid menuju sumber terkait. Penyajian URL inline menjadi duplikasi bagi pengguna pembaca layar/screen reader. Baca kembali Teks Pranala yang Aksesibel dan Usable di Dani Iswara .Net.

* Konflik kepentingan
Konten pesanan sponsor? Tautan afiliasi? Konflik kepentingan? Pengguna/pengunjung sebaiknya berhak mengetahuinya. Tulisan berbayar sepertinya masih kucing-kucingan dengan Google.

Tidak bermaksud menyakiti
Di kedokteran dikenal istilah do no harm. Tidak menyakiti/melukai. Respek pada sesama makhluk hidup. Konten hendaknya dibuat dengan niat baik. Bukan niat untuk menghina, membuat malu, arogansi, sengaja membuat tidak nyaman, atau menyinggung orang lain. Termasuk menghindari melakukan tindakan spam. Moderasi dan penghapusan (jika perlu), berhak dilakukan oleh pengelola untuk menyaring konten yang menyinggung suku, agama, ras, antar golongan, dan pornografi. Perselisihan? Jalur kekeluargaan disertai niat baik dapat diupayakan sebelum mengambil jalur hukum.

Melindungi kerahasiaan
Data pribadi berupa identitas nama, alamat surat elektronik, nomor Internet Protocol (IP), bahkan konten tertentu, dapat dirahasiakan oleh pengelola. Terutama konten yang bersifat internal atau untuk kalangan terbatas.

Bebas bertanggung jawab
Memperoleh informasi dijamin sebagai hak asasi (Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik). Menyajikan informasi dan mengemukakan pendapat pun hak asasi. Bebas, independen, tapi tetap bertanggung jawab. Jika terbukti ada yang salah, siap meminta maaf. Bahkan mengoreksi kesalahan atau melakukan pemutakhiran informasi.

Simpulan
Konsep-konsep di atas dapat tersaji di bagian penyangkalan/disclaimer.
Dunia kesehatan/kedokteran sudah punya etika blog (di Dani Iswara .Net). Ada Health on the Net code of conduct (HONcode) dan MedBloggerCode. Sedikit banyak ini melindungi para pencari informasi kesehatan/kedokteran (health seeker) di Internet dari penyesatan informasi.

Karena blog pun tidak lepas dari jejaring sosial, solidaritas antar narablog beserta komunitasnya, maka sanksi sosial bisa dijadikan sebagai peringatan awal. Saling mengingatkan sesama dengan cara kekeluargaan akan sangat membantu.

Menurut saya, penerapan etika blog justru dapat meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan publik. Sehingga iklim web, blog, dan Internet yang lebih sehat akan dapat dinikmati bersama.

Belajarlah lebih banyak dari orang yang bisa melihat kelemahan atau kekurangan kita.

Bacaan seputar etika blog
* Ethics di Wikipedia.
* Pendapat Saya tentang Etika Blog oleh Hidayat, 2006.
* Ini bukan Kode Etik Blog oleh Nukman Luthfie, 2008.
* Kode Etik untuk Blogger oleh Anggara, 2009.
* Etika Pecas Ndahe oleh Ndoro ‘Wicaksono’ Kakung, 2009.
* Kode Etik oleh Iman Brotoseno (chairman Pesta Blogger 2009).
* Kode Etik Blogger Indonesia (versi revisi) oleh Oktavianus Ken, 2009.
* Topik Blog Ethics (arsip Slideshare.net; ppt; 1,3MB) di Pesta Blogger 2009 oleh Ari Juliano Gema. Lihat juga blog beliau lainnya di DagDigDug, Lintasan – Obrolan seputar hukum dalam kegiatan online.

Menjaga Stamina Ngeblog

Sebenarnya agak geli juga ketika seorang teman dari Bali Blogger Community mengusulkan satu tema tambahan untuk bahan siaran BBC on Air yang dilakukan saban hari minggu malam di Radio Bali FM yaitu menjaga stamina nge-BLoG. Ini dilontarkan setelah melihat intensitas turunnya tulisan pada blog milik Agung Pushandaka, Wirautama dan tentu saja PanDe Baik hehehe… tetap ter-upade secara berkala meskipun berada ditengah demam microblogging Facebook ataupun Twitter.

Secara pendapat pribadi sih ada 2 (dua) faktor yang paling menentukan dalam menjaga stamina nge-BLoG, jika itu dilihat dari intensitas tulisan yang dipublish pada BLoG. Faktor pertama adalah waktu luang yang dimiliki oleh seorang blogger dan faktor keduanya ya tujuan yang ditentukan sejak awal nge-BLoG.

Waktu luang terkait dengan kesempatan untuk melahirkan tulisan yang nantinya akan publish pada halaman BLoG. Mencakup ide pemikiran, penulisan, pengembangan, perbaikan hingga waktu untuk menampilkannya. Waktu luang dipengaruhi oleh status pekerjaan dan lingkungan si Blogger.

Seorang Blogger yang memiliki pekerjaan sebagai bisnisman, mengharuskan tingkat mobilitas tinggi, kesibukan kerja padat, jangankan untuk nge-BLoG, bisa jadi waktu untuk bersenda gurau bersama keluarga sangat jarang dimiliki. Akan berbeda apabila si Blogger memiliki pekerjaan yang memungkinkan terciptanya waktu luang yang sangat banyak, misalnya seperti saya seorang PNS tanpa jabatan alias staf. Ketika pekerjaan itu selesai dikerjakan dalam waktu singkat secara otomatis sambil menunggu perintah saya memiliki waktu luang yang biasanya oleh teman-teman dilewatkan dengan cara beragam. Nge-gosip atau menonton gosip di layar televisi, main games bahkan ada juga yang langsung kabur entah kemana… sudah menjadi rahasia umum. Saya sendiri melewatkan waktu luang tersebut untuk beraktifitas di dunia maya mumpung koneksi internet sudah murah, entah untuk membaca berita terkini dari portal detik atau kompas, send received email, berbagi cerita via microblogging facebook hingga yang paling utama, mengelola BLoG.

Lingkungan si Blogger juga bisa mempengaruhi waktu luang loh. Seorang Blogger yang telah berkeluarga tinggal dalam sebuah keluarga kecil akan berbeda kondisinya dengan yang masih tinggal bersama ortu dan keluarga besarnya. Waktu untuk mengurus si kecil dan urusan rumah tangga lainnya bisa jadi merupakan prioritas utama. Apalagi kalo si Blogger masih melajang dan blom punya pacar. Waaahhh…

Faktor kedua seperti yang sudah saya katakan sebelumnya adalah Tujuan yang ditentukan sejak awal nge-BLoG. Seorang blogger yang berangkat dari keisengan lebih banyak bercerita tentang kesehariannya, aktifitas, jalan-jalan hingga apa yang ia ketahui atau yang berkaitan dengan hobi. Bisa juga tentang sesuatu yang gak jelas maksudnya. Hehehe… ini sih nyindir diri sendiri. Akan berbeda dengan seorang Blogger yang sedari awal sudah menetapkan satu tema atau topik tertentu sebagai isi dari pada BLoG yang dikelola. Misalkan mengkhusus tentang SEO, sepak bola, property ataupun cerpen.

Ditinjau dari segi rating atau traffic jelas yang memiliki tema khusus biasanya akan jauh lebih banyak pengunjungnya, mengingat kejelasan tema atau topik yang diusung. Orang dijamin akan kembali menengok BLoG tersebut untuk melihat tulisan terbaru, barangkali saja bisa berguna untuk menangani kesulitan yang dihadapi. Tidak heran jika ada yang mengklaim traffic kunjungan perhari pada BLoG tertentu mencapai angka seribuan orang. Jauh beda dengan BLoG milik saya kan ?

Hanya saja ketika ide penulisan itu habis, si Blogger biasanya akan mulai kebingungan mau membahas atau menulis tentang apa. Maka terjadilah yang namanya hiatus atau break sejenak sembari menunggu ide itu muncul lagi. Gak perlulah saya ungkapkan contohnya. Lihat saja dari tanggal terakhir tulisan dibuat atau intensitas lahirnya tulisan setiap bulannya.

BLoG pandebaik.com sejauh ini masih tergolong BLoG yang bersifat iseng-iseng saja. Sekedar menuangkan isi pikiran yang dipenuhi unek-unek soal pekerjaan, aktifitas kuliah, jalan-jalan hingga hobi. Gak ada yang spesial ataupun mengigit untuk dinikmati. Apabila ide tulisan mentok dalam kategori kerja, masih ada cerita lain yang bisa saya buat, entah itu tentang si kecil putri kami, tentang ponsel hingga keluh kesah yang (lagi-lagi) gak jelas maunya apa. Hehehe…

Dalam usia 2 (dua) tahun pertama (masih memakai alamat pandebaik.blogspot.com dan pandeividuality.net) rata-rata dalam sehari saya bisa melahirkan minimal 1 (satu) tulisan. Maka tak heran total postingan sudah mencapai angka seribuan. Cukup membuat shock pemilik Hosting saat pemindahan Server dari miliknya Egy Rakhahost ke Hendra Bali Orange.

Dalam perkembangannya setelah menggunakan domain pandebaik.com bisa dikatakan saya dijejali aktifitas kuliah tingkat akhir yaitu Tesis yang memaksa saya untuk mengupdate tulisan secara berkala 2 (dua) hingga 3 (tiga) hari sekali. Ini dilakukan agar waktu luang yang saya miliki bisa dibagi dengan keluarga maupun penyelesaian Tesis.

Jadi jangan terlalu heran atau kagum apabila BLoG saya ini dapat terus terupdate yaaa…

Dari http://www.pandebaik.com/2009/10/08/menjaga-stamina-nge-blog/

Jurnalis dan Blogger Bali Keluarkan Pernyataan Sikap

Menjelang sidang pembunuhan wartawan Radar Bali Anak Agung Prabangsa Kamis (8/10) besok, jurnalis Bali dan blogger dari beberapa organisasi profesi wartawan maupun blogger di Bali, hari ini mengeluarkan pernyataan sikap.

Pernyataan sikap ini disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali, Koordinator Daerah Bali Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-Reformasi), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali, Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Bali, Persatuan Wartawan Multimedia (Perwami) Bali, dan Bali Blogger Community.

Pernyataan sikap tersebut adalah sebagai berikut :

Menyikapi persidangan para tersangka yang diduga terlibat pembunuhan wartawan Radar Bali A.A. Gde Bagus Narendra Prabangsa, Kamis (8/10), elemen organisasi wartawan dan blogger di Bali menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Meminta aparat penegak hukum, yakni jaksa, hakim, dan pengacara yang menyidangkan perkara I Nyoman Susrama, cs berjalan secara fair, professional, sehingga dapat mengungkap kasus ini hingga tuntas.

2. Menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk menghormati profesi wartawan saat menjalankan tugasnya,

3. Jika dalam pemberitaan ada pihak-pihak yang merasa tak berkenan, diminta untuk menempuh jalur-jalur yang diatur dalam UU No. 40/1999 tentang PERS. Misalkan hak jawab, dan hak koreksi.

4. Stop premanisme terhadap jurnalis.

Bebaskan Prita Cabut Pasal Karet!

Pernyataan bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Bali Blogger Community (BBC) dan Aliansi untuk Kebebasan Informasi tentang Kasus Prita Mulyasari

Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga, kini telah dijadikan terdakwa dalam kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan. Ia terancam hukuman penjara enam tahun karena didakwa melanggar pasal 27 ayat 3 UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dia juga didakwa melanggar pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik.

Terhadap kasus yang dilatarbelakangi oleh penulisan email yang berisi keluhan terhadap pelayanan Rumah Sakit tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar bersama kalangan blogger dan pecinta kebebasan berpendapat dan berekspresi di Bali yang tergabung dalam Aliansi untuk Kebebasan Informasi (AKI) menilainya sebagai upaya membatasi kebebasan bereskpresi dan menyatakan pendapat. Pasal-pasal pencemaran nama baik yang bersifat multi tafsir memang sangat rawan digunakan untuk melakukan represi terhadap kebebasan menyebarluaskan informasi.

Pasal 19 Pernyataan Umum Hak-Hak Manusia yang diumumkan PBB 10 Desember 1948 menyatakan bahwa ”Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; dan hak ini termasuk kebebasan untuk memiliki pendapat tanpa gangguan serta untuk mencari, menerima, dan berbagi informasi serta gagasan melalui media apa pun dan tanpa mengindahkan perbatasan negara.”

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, kami menyatakan hal-hal sebagai berikut:
1. Bebaskan Prita Mulyasari dari dakwaan pelanggaran pencemaran nama baik
2. Hapuskan pasal-pasal mengenai pencemaran nama baik dalam berbagai UU di Indonesia
3. Gunakan jalur-jalur informasi untuk memberikan klarifikasi dan perimbangan informasi bila merasa dirugikan oleh penyebarluasan informasi.

Demikian pernyataan ini disampaikan kepada para penegak hukum dan masyarakat luas dengan harapan kasus Prita Mulyasari tidak akan terulang di kemudian hari.

Denpasar, 11 Juni 2009

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar
Bali Blogger Community (BBC)
Aliansi untuk Kebebasan Informasi