buku (ketiga) dan perjalanan : cantik itu luka

buka ketiga yang dibaca tahun ini, ha! melebihi target bulanan untuk menyelesaikan satu buku setiap bulannya. *sombong*

buku ini pertama dibaca pas berangkat ke Yogyakarta akhir bulan lalu, di sela menunggu pesawat berangkat, di sela menunggu pesawat mendarat. biasanya, begitu naik langsung molor :)) setelahnya ngga tersentuh lagi, hingga perjalanan ke surabaya kemarin. ya, mungkin harus sering melakukan perjalanan agar semakin cepat buku terselesaikan. hahaha.

membaca buku ini sangatlah melelahkan, 496 halaman. beberapa halaman kadang saya fast reading karena terlalu panjang dan bertele-tele, tapi kemudian setelah lewat saya mengulangnya kembali karena pada bagian yang panjang dan bertele-tele tersebut ternyata ditulis memang tidak tanpa tujuan.

novel ini sendiri entahlah masuk ke kategori mana, dari pemilihan bahasa yang puitik dan alur yang berangkat dari kehidupan para tuan belanda di jaman penjajahan, membuatnya semacam novel klasik. tapi dari alur yang sangat panjang hingga tahun 70an, dengan celana jeans dan segala macam kehiduan hedon pada tahun segitu, dan pastinya dengan perilaku yang digambarkan, novel ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian.

cantik itu luka semacam cerita sejarah yang melompat-lompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, dari perkawinan saudara (dan sekalipun tak pernah ada kata incest disebut di situ) hingga soal marxisme. dengan internationale yang didengungkan di sela-selanya. sambil tak lupa menyelipkan tentang sosialisme, dan bagaimana pada akhirnya berujung pada kapitalisme kecil-kecilan (istilah yang digunakan ketika tokoh komunisnya berjualan celana kolor).

sudah banyak pastinya yang menulis tentang sinopsis novel ini, secara ini novel terbit pertama kali tahun 2004. trus kenapa baru baca sekarang? karena pertama, ngga pernah tertarik dengan sinopsis sampulnya yakni tentang 4 perempuan cantik bersaudara, semua cantik kecuali si bungsu yang menjijikkan. sinopsis yang sangat ngga menarik. karena tanpa harus membacanya, saya tahu rasanya bagaimana menjadi yang paling jelek di antara 4 kakak-kakak perempuan yang cantik. 😛

dan alasan kedua, karena tahun lalu buku ini masuk dalam salah satu buku yang dibahas oleh newyorktimes. iya, kiblatnya ke amerika, hahaha.

tapi ternyata novel ini jauh lebih kompleks dari drama keluarga the ugly ducking. setiap tokohnya adalah gambaran karakter yang unik dan persistant, tidak seperti  para medioker yang berfikir dirinya adalah unicorn (sudah, dew..sudah). meski nama dewi ayu, -nama tokoh yang sering disebut- , diklaim sebagai tokoh utama, tapi menurut saya semua tokoh di novel ini adalah tokoh utama. bahkan rosina yang bisupun memegang peranan penting. alur yang diacak, hubungan sebab akibat dari hawa nafsu para tokohnya, membuat saya harus membaca lagi beberapa halaman di belakang, mengingat-ingat ini anak siapa, asalnya dari mana, nama aslinya siapa, hubungannya dengan tokoh lain seperti apa, endebra endebre.

tokoh favorit saya? kamerad kliwon. pemuda komunis yang membawa lubang hitam kemana-mana akibat cinta yang kandas. hahaha. tokoh-tokoh di sini tidak ada yang sempurna, sangat terlihat nyata dengan pilihan-pilihan dan alasan di baliknya. dengan konsekuensi dari apa yang diipilihnya.

novel yang sangat kompleks, intens dan sangat melelahkan. kita seakan tak sempat bernafas santai  dengan membaca hubungan antar tokohnya yang rumit, dengan tatanan sosial yang diacak-acak, tanpa batasan imajinasi dan realita. tanpa ada ukuran norma-norma dan juga dosa. novel ini adalah tentang gambaran hawa nafsu yang terburu-buru, kesabaran yang berbuah dan jatuh cinta yang bisa saja terjadi tanpa rencana.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *