buku kedua : travel time to the old me

pagi ini, saya tergesa bangun begitu alarm berbunyi. 04.30.

saya memang selalu set alarm jam segini, setiap hari meskipun tidak sedang ada jadwal lari. saya sedang melatih tubuh saya untuk bisa bangun rutin jam sekian. perkara akhirnya beneran bangun, atau tidur lagi, atau baru melek jam 6, adalah lain soal. yang sering terjadi adalah 2 pilihan terakhir, apalagi jika tidak ada jadwal lari. saya tidak bisa menipu otak saya, atau tepatnya tidak bisa mendisiplikannya, jika tidak perlu-perlu amat.

tapi pagi ini berbeda. saya langsung bangun tepat jam 4.30 ketika alarm baru bunyi sekali. tanpa berkedip (karena saya tahu jika saya berkedip maka saya akan merem lagi), saya bergegas keluar kamar. mengambil handphone, dan buku.

sebuah buku membuat saya ingin bangun pagi. ada urgensi untuk lekas-lekas membacanya. urgensi, apa ya bahasa yang lebih lumrah dari urgensi? 

urgensi untuk membaca yang hadir tiba-tiba setelah sekian lama, semacam time travel yang membawa saya ke diri saya dulu, a person I used to be. perasaan macam ini, entah kapan terakhir kali saya rasakan. mungkin 7 atau 8  tahun lalu ketika saya masih mampu membaca sekitar 3-5 buku per bulan (yah..5 buku aja sombong!). yang jelas ketika saya belum menikah, jomblo dan galau, berada di dalam kamar kos yang salah satu dindingnya saya cat biru gelap tanpa ijin ibu kost, dengan kasur di lantai dan kaki yang nangkring di dinding. dengan TV yang tak pernah dinyalakan , sambil memutar CD berisi lagu-lagu britpop yang sebagian besar didengarkan untuk mengingat mantan yang ini dan yang itu (hi there! :D).

ketika merasakan urgensi itu, sekelebat saya semacam dibawa ke masa lalu. dan melakukan perjalanan ke masa lalu hanya karena merasakan dorongan yang kuat untuk menyelesaikan buku itu, ternyata rasanya menyenangkan. menyenangkan untuk bisa melihat diri sendiri, dulu.

oh, kayaknya dulu pernah menjadi lumayan keren, culun, ngga penting dan memalukan.

melihat diri tumbuh hingga menjadi sekarang itu semacam refleksi, ngapain saja  7 dan 8 tahun ini. dari jomblo galau yang kalau ngga kerja, ke pantai atau baca buku, menjadi emak-emak beranak satu yang punya lumayan banyak koleksi buku tapi bahkan anak sendiri kayaknya ngga pernah melihat emaknya ini membaca. dari lajang yang bisa gegoleran di tempat tidur baca-baca hingga siang sebelum akhirnya harus bergegas mandi karena 30 menit lagi harus ada di kantor (iya, dulu 30 menit di bali cukup untuk mandi, dandan, naik motor ke kantor tanpa terlambat!) hingga menjadi emak-emak yang bangun tidur, lari pagi, belanja sayur, masak, mandi, antar anak sekolah, siap-siap kerja yadayadayada.

di sensasi yang datang dengan sangat singkat itu, saya semacam menemukan kemewahan. perasaan jumawa dan bahagia. bahagia melihat bahwa perempuan lajang, galau dan tanpa tujuan hidup itu, ternyata baik-baik saja 8 tahun kemudian.

dan inilah buku yang membuat saya bisa merasakan hal yang demikian. saya kira saya harus berterima kasih ke penulisnya, ho! 


saya awalnya under estimate buku ini, karena konon isinya adalah soal romansa. dengan latar belakang keluarga nu-muhammadiyah. kirian bakalan mirip-mirip romeo – juliet dengan kearifan lokal.

baru setelah pakde totot mengulasnya di path, sebagai salah satu novel terbaik yang dibaca tahun 2015 (yang pastinya dibaca karena juara sayembara menulis novel DKJ 2014 juga sih :D) , jadi ada keinginan untuk membelinya. dan setelah membaca tuntas, tenyata roman hanya bumbu-bumbu untuk membuat pembaca sedikit berbunga-bunga.

yang menarik adalah ketika flashback  ke masa lalu, sejarah masuknya golongan pembaharu ke Desa Tegal Centong (seting untuk cerita tersebut), dan terbentur agama yang sudah menyatu dengan tradisi dan budaya di desa tersebut. dengan setting tahun 60an, maka novel ini ngga bisa hanya bahas tentang agama, tapi juga kuminis, isu seksi untuk generasi masa kini yang seolah-olah #menolaklupa , tapi nomer handphone pasangan aja ngga ingat. #eh

mau tak mau ketika membacanya, saya ingat desa mejono di kediri, jawa timur juga,  tempat saya berasal. meski di sana hanya sampai SD, tapi saya jadi mengingat-ingat kebiasaan-kebiasaan di desa, mengingat tentang satu-satunya masjid di Lor Embong yang ketika teraweh, ada jadwal untuk imamnya. hanya ada 2 imam yang akan mempimpin shalat dengan bergantian, –dan setelah membaca buku ini–, saya baru paham kenapa ketika imamnya pak ini, anak-anak kecil semangat sekali teraweh (termasuk saya), dan kenapa ketika yang mimpin sholat si bapak itu, kita sampai tidur-tidur di masjid. -__-

dengan pengetahuan agama yang cethek, buku ini semacam jawaban hal-hal apa yang menjadi pembeda NU dan Muhammadiyah, dan kenapa demikian. buku ini kelar 2 hari, ho! rekor dalam sekian tahun menikah! :))

saya sangat menikmati sajian humor dan tradisi yang sangat lokal sekali. di desa saya juga punya versi lain gumuk genjik, –yang dipercaya sebagai batu bertuah–, dengan nama mbah sampuro. dan lainnya, dan lainnya. yaaaahh… meski ketika saya kecil, saya tak mengalami konflik NU dan Muhammadiyah. keduanya berdampingan dengan damai, dan anak-anak NU-Muhammadiyah pun ada beberapa yang menikah dan kayaknya baik-baik saja.

tapi mungkin karena sudah baik-baik saja, perlu isu baru untuk disulut ya? semacam isu syiah – sunni seperti sekarang, mungkin? ๐Ÿ˜€


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *