jika ada yang bertanya olahraga apa yang bisa aku lakukan sekarang? mungkin dua jawabannya. satu berenang. satu lagi berlari. oh, atau sebenarnya ada empat. pingpong dan bulutangkis. sekedar nepok-nepok bulu ayam dan bola, bisa lah.

membincnag olahraga, sebenarnya 6 tahun terakhir progressku sangat pesat, jauh lebih lumayan dibandingkan 25 tahun sebelumnya. hahaha. 6 tahun terakhir akhirnya aku bisa berenang, 2 tahunan ini bisa main pingpong (all hail titiw yang sabar ngajarin! :D) dan setahun ini, bisa lari hingga 5 atau 10 kilometer. so proud of my self.

memiliki pengalaman ngga enak dengan guru olahraga jaman SD membuatku tidak pernah menyukai olahraga. sudah ya memang badan meski berpostur bongsor tapi lemah lunglai tak bertenaga, ditambah trauma dan segala macam alasannya yang membuat alasan untuk bermalas-malasan menjadi makin valid.

tapi namanya umur, makin kesini tiba-tiba semua hal tak lagi semudah sebelumnya. kalau dulu tinggi badan selalu bisa menyamarkan gumpalan lemak, sekarang hal itu tak berlaku lagi. kalau dulu habis lahiran G, lalu kerja dan mulai stress membuat berat badan justru lebih ringan dari waktu lajang, sekarang tak begitu lagi. sudah makin nyaman sama kota ini, sudah makin bisa mengatur flow kerjaan yang bikin stress, berat badan ngga berkurang lagi. justru nambah hingga berkilo-kilo dalam 2 tahun terakhir.

dan ya, berat badan pulalah motivasi terbesarku untuk akhirnya memutuskan lari. karena aku sudah menyerah dengan segala macam teori diet yang konon bisa mengurangi sekian kilogram, padahal ya segitu-segitu doang.

melihat beberapa teman berhasil lari, aku jadi berfikir pastilah bisa. masa sih lari tinggal melangkahkan kaki aja ngga bisa? tinggal di lingkungan perumahan yang kalau dikelilingi lebih dari 2 kilometer, dengan udara yang masih bersih dan sepi, harusnya ngga ada alasan untuk menunda-nunda lari. tapi namanya manusia ya, yang selalu punya alasan untuk bermalas-malasan, selalu ada saja pikiran ini itu yang menghalangi keinginan untuk lari. hingga di suatu titik, i told my self..enough!

pada suatu pagi di bulan-bulan ini setahunan lalu, akhirnya aku lari. mengambil sepatu yang sudah bertahun-tahun di lemari, lalu berlari. semangat, sangat semangat. tapi baru 200 meter nafas sudah mau berhenti. hahaha. ternyata tida semudah yang dibayangkan. 2 kilometer keliling kompleks, mungkin aku berhenti lebih dari 10 kali. setiap 200 meter berhenti, begitu terus hingga sebulan kemudian. lalu perlahan-lahan semakin panjang. 500 meter, lalu 1 km.

3 bulan bertahan dengan ritme seperti itu, bikin gemes sekaligus geregetan. akhirnya aku gabung dengan nike coach, semacam paket trainning dari aplikasi nike+. di situ kita bisa pilih mau ambil yang mana. targetku sebenarnya ngga muluk-muluk, cuman bisa terus lari 5k. tapi karena menu 5K beginner terlihat ngga jauh beda dengan yang kulakukan setiap harinya, maka kupilihlah pake yang 5K intermediate.

jangan senang dulu, meski namanya 5K, tapi ternyata porsi latihannya hingga 12K. Errrrr.. 8 minggu, 5 hari per minggu. total 200 kilometer. ehem banget!

nike+ ini semacam komitmen biar aku ngga mangkir-mangkir lari. untu meminimalkan kemalasan-kemalasan, dan menemukan alasan untuk terus lari jika ada yang bertanya. setidaknya aku bisa memberi jawaban kenapa berlari terus ke mereka.. “Karena coach aku bilangnya demikian!” (nike coach maksudnya :D)

dan begitulah, kelar 2 bulan memang akhirnya bisa lari 5K tanpa pake jalan, bahkan kadang bisa juga 10K. tapi pake cidera di minggu-minggu awal, huhuhu. cideranya bukan karena keseleo, atau over trained, tapi karena kurangnya stretching setelah lari. karena salah pilih sepatu. dan karena ngga ada pemanasan yang cukup. alasan-alasan yang kayaknya sepele, tapi ternyata di lari hal itu krusial sekali. sempat ke fisio terapi, tapi akhirnya sembuh dengan ke ISMC yang ada di Senayan, rumah sakit yang biasa ngurusin atlet-atlet yang cidera. for the first time aku merasa diriku seperti atlet! hahahaha. Berkat rekomendasi Titiw, akhirnya ketemu dokter Andy yang menelaskan panjang lebar kenapa cidera, alih-alih harus ada tindakan terhadap kaki pincang kala itu.

lalu, apa kabar setelah 1 tahun lari? apa kabar setelah bisa lari 10K tanpa henti?

berat badan turun, pasti. berkilo-kilo yang sangat lumayan lah. mood yang ancur-ancuran pun lebih stabil setiap harinya. dan, lebih bahagia. ngga lagi sibuk ngeributin hal-hal kecil karena lari saja sudah cukup melelahkan. ngga lagi sibuk mikirin remeh temen karena terlalu sibuk mikirin, “jadi ini lari lagi..atau berhenti?”

begitulah. satu tahun lari dan masih saja memperdebatkan lari atau ngga hari ini. 3 kilo atau 5 kilo. 5 kilo atau 10 kilo. lewat rute ini, atau itu? pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari jadi kontemplasi selama berlari. pertanyaan yang pada akhirnya dijawab dengan pilihan yang paling sulit, rute yang paling jauh. pertanyaan-pertanyaan yang ketika sudah selesai dijawab..it feels good!

karena di setiap pertanyaan itu, adalah tantangan. mau sejauh apa berlari, mau sejauh apa memenangkan pertarungan melawan diri sendiri?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *