Ini status Facebook saya 10 Juli 2015 Pukul 10.23 AM. Sambil mengetik ini, air mata saya bercucuran

Ketika kita berada jauh dari rumah
Ketika kita harus berpacu dengan keras dunia
Ketika kita merasa dikhianati semesta
Ketika kita tidak bisa merekam wajah ceria
Yang terakhir dari “mereka” yang kita puja
Ketika atasan kita memohon loyalitas kita
Namun sesungguhnya tidak sinkron dengan realita
Ketika alam raya marah
Dan semua yang bisa kita andalkan ternyata percuma
Butuh berkilo-kilo meter lagi untuk tiba di rumah
Perlu berjam-jam tangisan lagi dan basa-basi pura-pura
Ini akan menjadi perjalanan yang sangat sengsara
Agar dapat bertemu Bapa

Dukacita yang mendalam untuk Adik Kekasih saya Nevy Seko
Tuhan sayang Bapa Emil (+) Requiescat In Pace

***

Ia mendatangi kamar saya malam itu dengan wajah yang basah.

“kak, saya minta tas kah”

Beberapa minggu yang lalu, saya keluar kota menggunakan tasnya yang lumayan kuat untuk mengisi barang-barang saya yang selalu terlalu banyak saat bepergian.
Saya belum ngeh, mengambil tas tersebut dari belakang pintu dan memberikannya yang sedari tadi berdiri di depan pintu.

“kau mau ke mana?” tanya saya

“Sa mo pulang kak”

Saya kaget. Serius

“Lho, bukannya kau rencana pulangnya agustus? kapan ko mo jalan?”

“Besok atau lusa, mana yang paling cepat. Bapa tua sudah … (dia tidak mengatakannya tetapi mengekspresikan dengan memiringkan kepala, yang saya pahami dengan sekarat) setelah melakukan itu, air matanya mengalir lagi. deras
Spontan saya dekati dia dan memeluknya erat. Lama kami berdua berpelukan dalam diam, hanya air mata yang mengalir. Dari matanya, yang saya rasakan menembusi kulit bahu saya dan air mata saya yang memang sudah terbiasa mudah luruh saat mendengarkan hal-hal pilu seperti ini.
Wajahnya masih terbenam di bahu saya ketika bicara seperti ini

“Mama bilang, kalian cepat pulang sudah, Dia (bapak) hanya tunggu kalian saja baru bisa pergi”

Oh God….it’s hard! For us, who really far from HOME!

***

Keesokan hari, saya masih bertemu Nevy di jalan saat menunggu jemputan ke kantor (karena saya selalu mengandalkan orang lain jika soal berkendara 😀 ). Katanya baru saja kembali dari Ubung, mau jemput adiknya dari Malang yang ternyata belum tiba. Wajahnya saat itu sungguh kuyu dan mata sudah merah sekali.

Di kantor, saat di toilet, hape saya berdering. Deuh, ditelfon saat bergaya tak senonoh itu entah penting atau biasa saja tetap tak mungkin diangkat. Maka saya diamkan, tak lama kemudian ada SMS masuk. Dari Wakil Ketua Syuradikara Bali Community rupanya. Kaka Mon Woge

“Ibu ketua, maaf mengganggu, saya cuma mau konfirmasi katanya Bapanya Nevy meninggal pagi tadi. tolong informasikan kawan-kawan dan koordinasi untuk doa bersama atau bagaimana. Sekian info”

Saya terkejut. bukan main. balasan saya singkat

“Sudah meninggal? Ya Tuhan….”

Saya kembali ke ruangan saya, duduk dan terguguh. Lama sekali. Saya telfon Nevy dan memastikan. Suara sesenggukan perempuan tegar itu saya dengar, saat itu nevy sedang di UBS mencari tiket pulang.

Akh!

***

Sejak 9 Juli 2015 situasi Gunung Raung _yang membikin sebagian orang Indonesia heran, sebab tidak pernah tahu ada gunung ini di negara ini_ tidak bersahabat. Sampai-sampai Bandara terkemuka seperti Ngurah Rai harus menutup sebagian besar penerbangannya demi menjaga keselamatan penumpang. Dan ini berita tidak baik untuk Nevy dan teman-temannya seperti kami yang berharap Nevy segera bertemu bapak dan berkumpul bersama keluarganya.
Sulit mendapatkan penerbangan yang cepat, memikirkan alternatif lain yaitu melalui jalan darat secara estafet. Ide gila lain yang membuat kami semua menarik nafas panjang. Damn!!! Macam beginikah kita anak rantau, jarang pulang, saat mau pulang apalagi keadaan genting, malah seperti di atas lautan dengan badai besar, terombang-ambing. Tidak pasti.

***

Tiket tercepat akhirnya jatuh pada hari Minggu, 11 Juli 2015. Keberangkatan pukul 12.10 Wita DPS-MOF (MOF = Maumere). Kami lega dan berharap semua berjalan lancar.
Minggu siang setelah kembali dari Misa, saya menghubungi kawan saya Welly. Kami berangkat bersama ke bandara untuk melepas Nevy dan adiknya berangkat.

AKAN TETAPI

Raung kembali mengamuk. Semua penerbangan dibatalkan. Bandara hiruk pikuk. Manusia berseliweran. Kami dan Nevy berpikir cepat. Tetap saja macet. Solusi hilang kemana kaden. Kampret!

Kabar dari Rumah Duka, Jenazah akan dikuburkan Besok 12 Juli 2015 Pukul 13.00 Wita.

Ucapan Nevy datar dan pasrah.

“Yah sudahlah, dirubah saja jadwalnya ke tanggal 15 nanti seperti saran maskapai. Saya pulang kapan saja juga toh bapak saya dikuburnya besok”

***

Entah pukul berapa saat itu, ketika Nevy muncul dan menyapa seperti tak ada apa-apa dari anak tangga.

“Selamat malam, kami pulang”

Saya kebetulan lagi ngulet di kamar (tadinya balik duluan karena Welly ada jadwal latihan sepak bola untuk Flobamora Cup). Terbangun saya segera dan bertanya

“Kok pulang?”

“Iya kak, mau gimana pesawatnya tidak bisa berangkat sekarang?”

Hancur!!!

Malam itu, kami tutup dengan berdoa bersama lagi. Memohon kekuatan dan pasrah yang teguh bahwasannya ungkapan “manusia boleh berkehendak, namun Tuhan yang menentukan” itu sangat tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Gimana men…???

Semoga BESOK 15 JULI 2015 SEMESTA MENDUKUNG, Nevy dan Tri bisa pulang – tiba di kampung halaman dengan selamat dan bertemu Bapak. Nisannya sudah tertulis nama bukan?

RIP Bapak EMIL SEKO. Tete Manis Jaga!

***
Sedikit catatan : Nevy sudah cukup lama mengajukan cuti agar bisa segera pulang karena mengetahui kondisi kritis bapak. Tetapi karena situasi tempat bekerja masih sangat membutuhkan kehadirannya maka harus diundur dahulu. Seharusnya sejak Senin 11 Juli kemarin itu, ijin cuti Nevy sudah di ACC dan dia sudah bisa berangkat segera. Namun …..

IYA NAMUN!

Dan ini status Nevy, Hari ini 14 Juli 2015 Pukul 10.00 AM. Dan lagi-lagi saya menangis setelah mengakhiri tulisan ini

Bapa tersayang,
Yg terus memantrai kami dgn doa,
Yg membuat kami terus berjalan,
Yg mendorong kami dgn kata-kata penyemangat,
Yg menarik kami dgn teladan hidup,
Yg membuat kami tahu arti mencintai dan kesetiaan,
Yg mengajarkan kami mengampuni dan memberi kesempatan lagi,
Yg selalu mengucapkan maaf dan terima kasih,
Yg selalu meyakinkan kami bahwa selama masih bisa merasakan sinar matahari harus bersyukur,
Yg selalu merindukan kami pulang, berkumpul, berpelukan, bertengkar, dan bercerita sampai pagi,
Yg selalu menyaksikan kami rebutan remote tv,
Yg menantikan kami untuk makan bersama,
Kita akan berkumpul pada waktunya pa.
Peluk sayang selalu.

Gambar : Google


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *