Author Archives: webmaster

Jangan Serius Dengan Zodiak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, zodiak adalah lingkaran khayal di langit yang berpusat di ekliptika dan dibagi menjadi dua belas tanda perbintangan, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, dan Pises. Sementara di kompas.com saya baca, zodiak merupakan sebuah sabuk khayal di langit dengan lebar 18 derajat yang berpusat pada lingkaran ekliptika, […]

Mengapa Legalisasi Arak Bali Dibutuhkan Masyarakat?

Arak tak sekadar minuman, tapi juga bagian dari kebudayaan.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengeluarkan aturan baru yang melegalkan minuman berfermentasi khas Bali, seperti tuak, arak, dan brem, pada awal bulan ini. Namun, aturan tersebut menimbulkan kontroversi karena hal itu berarti melegalkan minuman beralkohol seperti arak dan tuak.

Koster menjelaskan aturan ini penting untuk melindungi salah satu aset budaya lokal serta untuk mengembangkan potensi perekonomian rakyat dari industri minuman tersebut.

Tidak sedikit yang menyayangkan keputusan ini karena khawatir terhadap dampak negatif minuman beralkohol tersebut pada kesehatan. Mereka juga khawatir legalisasi ini dapat meningkatkan tingkat kriminalitas karena banyak kasus perkelahian dan pembunuhan diawali dari aktivitas minuman beralkohol. Meskipun belum ada satu pun penelitian yang bisa membuktikan hubungan antara tindakan kekerasan dan minuman alkohol pada masyarakat Bali.

Saya yang sudah meneliti sektor pertanian dan pariwisata di Bali serta dampaknya pada kehidupan sosial selama 23 tahun berpendapat bahwa masyarakat Bali memang membutuhkan legalisasi arak dan tuak.

Selain karena fakta di masyarakat yang menunjukkan adanya peran kunci minuman arak dan tuak dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali, beberapa penelitian terhadap sistem penjualan minuman tersebut memang mengindikasikan bahwa legalisasi ini akan menguntungkan masyarakat lokal.

Bagian Peradaban

Produksi arak dan tuak di Bali berkembang sebagai bagian peradaban umat Hindu.

Tuak adalah minuman yang airnya disadap dari bonggol buah kelapa atau pohon enau. Tuak yang baru disadap rasanya manis dan tidak beralkohol. Ketika didiamkan, tuak akan berfermentasi dan mengandung alkohol.

Arak berasal dari tuak yang disuling. Kadar alkoholnya bervariasi hingga 40 persen, tergantung lamanya proses penyulingan.

Tuak dan arak menjadi bagian penting dalam pelaksanaan upacara keagamaan Buta Yadnya, yaitu upacara yang bertujuan menjaga keseimbangan alam agar tidak mengganggu aktivitas manusia.

Dalam setiap upacara tersebut ada aktivitas menumpahkan arak dan tuak secara bersamaan ke tanah yang disebut metetabuh.

Upacara ini bisa dilakukan dalam skala kecil dan skala besar. Dalam skala kecil, upacara tersebut dilaksanakan di pekarangan warga setiap saat jika dipandang perlu. Sedangkan dalam skala besar, upacara Buta Yadnya dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi di perempatan besar di masing-masing ibu kota kabupaten di Bali.

Arak juga memiliki fungsi sosial yakni membangun kebersamaan dan memperkuat ikatan kekerabatan di masyarakat.

Arak sering digunakan sebagai simbol dimulainya hubungan antarbesan. Ketika dua keluarga calon mempelai bertemu, ayah dari mempelai laki-laki dan perempuan bersulang dan minum arak bersama untuk menandai keluarga yang bersangkutan sudah menjadi kerabat dekat.

Selain itu, sejumlah desa di Bali memang memiliki tradisi minum arak dan tuak yang diadakan bersamaan dengan pelaksanaan upacara agama di lingkungan keluarga, klan, maupun desa. Misalnya, tradisi masyarakat minum arak mengiringi upacara metatah (potong gigi) dan pernikahan di Kabupaten Karangasem, Bali.

Pemerintah daerah selama ini memang melegalkan penggunaan minuman arak untuk keperluan upacara agama. Yang tidak diperbolehkan adalah untuk keperluan komersial.

Namun, dengan adanya aturan baru, penggunaan arak untuk keperluan komersial diperbolehkan dengan melibatkan mitra lokal berbentuk koperasi. Hal tersebut penting mengingat pemasaran arak yang bersifat ilegal saat ini merugikan petani kecil.

Pembeli mencoba tuak manis Legenda. Foto Luh De Suriyani.

Usaha Kecil

Sejumlah penelitian menunjukkan produsen arak umumnya bermukim di kawasan pertanian miskin. Mereka kebanyakan adalah petani yang membudidayakan pohon kelapa dan enau yang digunakan sebagai bahan baku tuak dan arak. Petani-petani tersebut berada di kawasan Desa Merita di Kabupaten Karangasem dan Desa Bondalem di Kabupaten Buleleng.

Penelitian pada 2015 menunjukkan penghasilan pembuat arak di Desa Bondalem hanya Rp 1,25 juta per bulan.

Dalam penelitian tersebut digambarkan seorang produsen hanya mampu menghasilkan arak 5 liter per hari. Jika satu bulan sama dengan 30 hari, maka produksi arak di satu produsen sebanyak 150 liter per bulan. Jika dirata-rata, maka petani mendapat harga arak Rp9.000 per liter.

Padahal harga di pasaran bisa mencapai Rp 70.000 per liter. Petani mendapat harga rendah dari pengepul arak yang selalu menentukan harga serendah mungkin. Alasannya, mereka harus menjualnya di pasar gelap dan kucing-kucingan dengan penegak hukum.

Lewat aturan baru, petani diharapkan dapat memiliki daya tawar lebih tinggi untuk mendapatkan harga pantas untuk produk minumannya. Petani juga bisa mendapatkan keuntungan lebih jika mereka bisa menjual produknya secara langsung pada konsumen baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri secara legal.

Dan pada akhirnya, petani yang tinggal di daerah miskin bisa meningkatkan kondisi perekonomian mereka.

Terbuka Lebar

Legalisasi arak akan memberikan spirit tumbuhnya ekonomi kreatif di pedesaan. Industri arak menjadi bukti bahwa tumbuhnya kreativitas dalam menyokong peningkatan nilai tambah produk pertanian. Selama ini produk pertanian hanya dijual dalam bentuk mentah sehingga harganya rendah.

Sepanjang adanya pembinaan dan pendampingan agar produksi arak memenuhi standar kesehatan dan dikemas secara profesional, arak bisa saja menjadi komoditas bisnis pariwisata yang baik.

Kementerian Perindustri pernah melaporkan ekspor arak Bali ke Jepang, Jerman, dan Australia pada 2011. Hal ini menunjukkan adanya prospek pengembangan industri arak Bali. Dengan adanya regulasi baru, peluang kerja dan bisnis bagi petani penghasil tuak dan arak semakin terbuka lebar.

Semoga saja mereka kian sejahtera. [b]

Catatan: Tulisan ini terbit pertama kali dan disalin dari The Conversation. Dimuat di sini seizin penulisnya untuk penyebarluasan informasi.

Pendidikan Ekologi yang Relevan untuk Bali

Gubernur Bali Wayan Koster telah mengemukakan 22 misi Provinsi Bali.

Misi nomor 4 pembangunan Bali tahun 2018-2028 adalah tersediannya pendidikan yang adil, merata, terjangkau, dan berkualitas serta melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Misi tersebut menyenangkan untuk dilihat saat dipampang di depan tembok atau didengar oleh siaran media.

Bagaimana pelaksanaannya hari ini dan di masa depan? Marilah lihat situasi di lapangan.

Di Bali masih ada sekolah yang tidak layak fasilitasnya. Di Karangasem, ada sekolah yang atapnya rawan runtuh. Ini membahayakan guru dan siswa saat sedang belajar. Kasus serupa juga terjadi di Jawa Timur hingga menyebabkan murid dan guru meninggal dunia.

Sekolah negeri unggulan di Bali fasilitasnya di atas kelayakan, sementara sekolah bukan unggulan sarana dan prasarana boleh jadi tidak memadai. Itu yang terjadi kota. Belum lagi bila membandingkan kondisi infrastruktur fisik pendidikan di dalam kota dengan di pinggir kota hingga pelosok desa.

Dari fasilitas fisik yang belum memadai, sekarang kita akan melihat praktik pendidikan yang ada. Murid-murid SD hingga SMA mempelajari ilmu pengetahuan alam. Proses pembelajaran tidak hanya melalui buku teks khusus pelajaran sekolah.

Di hampir semua perpustakaan sekolah, amat sedikit buku yang bertema ekologi pulau Bali tersedia. Seharusnya pemerintah mencetak buku tersebut dan didistribusikan ke sekolah sekolah di Bali agar guru dan siswa memahami ekologi pulau ini.

Guru selayaknya mengajak siswa menonton film bersama mengenai flora dan fauna Bali, ekosistem pulau Bali dan masalah lingkungan yang terjadi di Bali saart ini. Film Kala Benoa yang menjelaskan akibat kerusakan lingkungan karena reklamasi Teluk Benoa dapat diputar di seluruh sekolah pulau Bali. Sekolah perlu mengadakan kerja sama dengan para pembuat film yang bertema ekologi pulau Bali sebagai media pendidikan siswa.

Murid-murid yang belajar ilmu alam di sekolah tidak banyak yang mengetahui macam-macam spesies tanaman budidaya dan liar yang hidup di Bali beserta kondisi tanah yang cocok untuk tanaman tersebut. Bila dibaca secara dangkal mungkin ini dianggap tidak penting. Namun, pendidikan ilmu alam harus sesuai dengan kondisi nyata di tempat di mana sekolah itu berdiri. Siswa perlu mengetahui hal tersebut supaya dapat meneliti manfaat tanaman tersebut bagi manusia dan lingkungannya dan dapat mengembangkan perekonomian desa dari sumber alam yang ada.

Murid-murid tidak tahu persis jumlah spesies burung, ikan dan hewan lainnya yang ada di Bali apalagi statusnya dalam konservasi. Mungkin hanya jalak bali yang paling diketahui. Sekolah sampai saat ini tidak mengajarkan kepada muridnya tragedi lingkungan yang telah terjadi di Bali mulai dari punahnya harimau Bali hingga hutan yang kurang dari sepertiga luas pulau.

Saat siswa diajak ke sawah, hutan dan padang penggembalaan, guru perlu membimbing siswa untuk mengidentifikasi spesies burung yang ada di situ dan memahami hubungan antara burung dengan hewan lain dan tanaman lain di sawah sehingga siswa belajar ekologi melalui pengalaman.

Bagi siswa yang tinggal tak jauh dari taman nasional Bali Barat sekolah perlu mengadakan perjalanan ilmiah ke sana lebih dari sekali. Dengan demikian siswa semakin mengapresiasi fauna dan flora liar Bali. Sekolah dapat memfasilitasi siswa yang menimba ilmu di Tabanan untuk melihat praktik pemeliharaan burung hantu untuk mewujudkan sawah organik di tempat yang dijuluki desa burung hantu.

Guru perlu mengajak siswa untuk membandingkan kondisi sawah di Jatiluwih dan Ubud sepuluh tahun yang lalu dengan sekarang saat sawah semakin digusur dengan akomodasi pariwisata.

Belum Reflektif

Pendidikan alam yang diajarkan di sekolah belum reflektif dalam arti menghubungkannya dengan keadaan di lapangan. Di sekolah murid diajari pentingnya hutan di pegunungan dan perbukitan. Mereka mengetahui peran amat berharga hutan bakau bagi pesisir dan nelayan.

Murid-murid tidak diberi kesempatan untuk berpikir kritis penyebab hutan terdegradasi yang terhubung dengan kebijakan pembangunan. Murid-murid amat jarang diajak melakukan belajar lapangan melihat langsung kondisi hutan bakau, sawah dan hutan pegunungan yang tersisa. Siswa mempelajari dampak pestisida dan pupuk kimia bagi ekosistem sawah dan sekitarnya tapi tidak pernah berdialog langsung dengan petani yang menggunakkannya tersebut untuk memberikan pendidikan kecil agar mengurangi pemakaiannya demi kesehatan lingkungan.

Bali termasuk kawasan Segitiga Koral (Coral Triangle). Ini berarti terdapat terumbu karang dan padang lamun yang merupakan eksositem laut terkaya di dunia. Murid memang mendapatkan informasi mengenai fungsi terumbu karang dan padang lamun serta kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang dan lamun hingga akibat yang ditimbulkan.

Namun, pada pelajaran di sekolah guru jarang menginformasikan jenis jenis koral dan lamun yang ada di Bali kepada siswanya. Akibatnya kesadaran untuk peduli laut masih belum cukup. Di tepi pantai, sering terdapat sampah yang akan mencapai padang lamun dan terumbu karang sehingga mengakibatkan biota laut terancam.

Pendidikan alam bagi siswa di Bali tidak hanya untuk mengenal kondisi ekosistem dan jenis jenis mahluk hidup yang ada di dalamnya. Siswa perlu diberi pendidikan untuk mengolah hasil alam dari tanah Bali. Tidak hanya mengolah daun kelapa, tetapi mengolah bagian pelepah kelapa, nira kelapa, kulit kelapa dan batang kelapa.

Siswa perlu melihat langsung penggilingan padi menjadi beras. Mereka dapat berkesempatan mempelajari pengolahan sisa sisa tanaman padi seperti pembuatan minyak dari bekatul dan pengolahan jerami padi menjadi tikar. Saat mempelajari pengolahan hasil laut, murid murid memperoleh peluang untuk mengolah limbah ikan menjadi tepung atau sesuatu yang memiliki nilai guna.

Pendidikan alam seperti betujuan agar siswa peka bahkan peduli terhadap keragaman hayati dan keberadaan spesies di ekosistem terpenting bagi orang Bali yaitu sawah. Harapannya, mereka bisa bersama-sama menahan laju alih fungsi sawah serta menggalakkan pertanian ekologi yang ramah lingkungan. Dalam mempelajari ekologi, guru mengajarkan kepada siswa untuk menghubungkannya dengan aspek keadilan sosial dimana setiap orang berhak atas air bersih, udara segar, makanan sehat dan lingkungan yang layak huni.

Yang terpenting siswa perlu diberi kesempatan berpikir kritis melihat dampak lingkungan dari pembangunan Bali yang mengabaikan lingkungan. Kurikulum pendidikan ilmu alam untuk Bali hendaknya tidak sekedar menjiplak saja apa yang dipraktikkan dari Jakarta. Dinas Pendidikan Bali perlu menyesuaikannya dengan kondisi alam dan budaya yang ada. [b]