Author Archives: a

About a

jurnalis, blogger, editor, sekali-kali jadi tukang kompor. :)

Melatih Tentara Menjelajah Dunia Maya

Biasa mengokang senjata, sekarang tentara menjajah, eh, menjelajah dunia maya.

Begitulah suasana ruang Seksi Informasi dan Pengolahan Data (Infolahta) Markas Kodam IX/Udayana di Denpasar Rabu lalu. Sekitar 15 tentara itu belajar membuat dan mengelola blog bersama. Aku bersama Dek Didi, teman di Bali Blogger Community (BBC), memandu mereka untuk mendaftar, menulis, dan mendesain blog.

Kami diminta pihak Kodam memberikan pelatihan tersebut pada anggotanya.

Continue reading

Bantuan Anda Telah Kami Salurkan

Sumbangan ke korban bencana di Mentawai, Sumatera Barat dan Wasior, Papua Barat telah dikirimkan.

Tak banyak, sih. Masing-masing cuma Rp 2.550.000. Tidak ada apa-apanya jika dibanding sumbangan dari perusahaan-perusahaan besar ke para korban bencana, apalagi dibanding jumlah korupsi Gayus Halomoan Tambunan.

Sumbangan itu kami kumpulkan melalui kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi, lebih singkat disebut Berbagi saja, Bali Blogger Community (BBC) pada Minggu, 14 November 2010 lalu. Kegiatan dalam rangka perayaan tiga tahun komunitas blogger Bali ini diadakan di Lapangan Renon, Denpasar.

Continue reading

Kelas Beranda offers an alternative learning place

While sitting on the floor, Wayan Samah wrote about education in Bali in his notebook.

“The cost of education in Bali is too expensive for us. Therefore, we can’t get a formal school education,” he writes.

The ten-year-old boy was born in Karangasem, one of the poorest districts in Bali. He was only a first grader when three years ago he withdrew from his school, a dilapidated elementary school in Tianyar, Kubu sub-district. The cost was too expensive for his family, and the school was too far from his home. Samah had to walk three hours to reach the school.

Six months ago, Samah and his parents moved to Perang hamlet in the village of Lukluk, Badung regency. Badung is the richest regency on the island, receiving billions of Rupiah annually from the lucrative tourism industry. Yet, even in this wealthy region education costs are still too expensive for Samah, who now works as a fruit seller earning around Rp. 300,000 (US$34) per month.

Three months ago Samah joined Kelas Beranda, which is taught by volunteers. Kelas Beranda literally means “Veranda Class”, referring to the place where the class is held twice a week.

Kelas Beranda, which started last September, was initiated by young volunteers and offers a free education program for poor children. These volunteers, mostly activists from local NGOs, share their knowledge and skills with Samah and other children left behind by the formal education system.

Kelas Beranda was initially supported by the Local Commission for Child Protection and Indonesian Women of Hindu Dharma (WHDI).

On that Thursday evening, volunteer Intan Paramitha arrived at Kelas Beranda around 6 p.m. Three wide-eyed kids greeted the 21 year-old young woman with broad smiles and, later on, big hugs. Intan sat on the floor and started the class. Fifteen minutes later volunteers Asta Ditha and Widya Rata arrived.

The pupils were divided into three groups. Intan supervised the five “senior” pupils. Two of them had already become mothers, having babies even though they had yet to celebrate their 20th birthdays.

Widya taught biology to three teenagers from Karangasem who were also forced to withdraw from elementary school. Asta helped five kids with lessons on the basics of reading and writing.

“We don’t use a fixed curriculum because every child here has different needs and a different learning pace. Some want to learn how to read while others want to learn how to write.

“The lessons we provide are very much determined by what the kids want to learn,” Asta said.

Because the children also want to learn about English and math, the volunteers enthusiastically teach them these two subjects even though they are usually considered difficult topics, even by students at formal schools.

“We want to be able to speak in English,” pupil Kadek Widyawati said.

“It was fun to learn with them because they are very funny and easy going. We often crack jokes during class,” she added.

On that evening the volunteers asked the children to read a chapter in a book written by prominent Balinese author and social commentator, Gede Aryantha Soethama. The chapter narrates Soethama’s acidic criticisms of Indonesia’s education system, which he says discriminates against children from low income families. The volunteers told the pupils to write a comment about the chapter.

Instead of a comment, Samah wrote a conclusion. “Education has become so excessively expensive it drives many children out of schools.”

Article published at The Jakarta Post.

Di Bali, Sinergi itu Masih Mimpi

Di Jakarta, media dunia maya bersinergi digdaya dengan media arus utama. Di Bali masih jauh panggang dari api.

Banyak contohnya. Dua di antaranya yang terbukti ampuh adalah ketika media arus utama memberitakan penahanan Prita Mulyasari. Prita adalah konsumen yang dipenjara gara-gara emailnya tentang keluhan terhadap pelayanan rumah sakit bocor ke ranah publik. Prita dipenjara dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dia pun ditahan.

Setahuku, penahanan Prita isu ini sudah pernah ditulis oleh para pegiat dunia maya namun kemudian tenggelam lagi. Kasus Prita mencuat lagi ketika media arus utama memberitakan penahanan Prita. Secara masif, berita-berita itu terus diproduksi oleh media arus utama, termasuk media-media besar, seperti Tempo, Kompas, Metro TV, TV One, maupun media-media lain.

Di sisi lain, para pegiatan dunia maya juga aktif membangun solidaritas untuk Prita melalui group, banner, blog, dan seterusnya. Kasus Prita kemudian membangunkan kesadaran warga di dunia maya ataupun dunia nyata bahwa ada hak warga yang telah dirampas oleh Negara ataupun mereka yang punya kuasa.

Pada kasus Cicak Lawan Buaya pun demikian. Grup di Facebook yang mendukung anggota Komisi Pemberantasan Korupsi Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto menjadi salah satu bukti bagaimana suara-suara di dunia maya itu menjelma menjadi kekuatan baru untuk menekan.

Media arus utama bersama jejaring sosial di dunia memberikan kekuatan luar biasa.

Tapi, itu di Jakarta. Di Bali belum. Belum banyak, atau bahkan belum ada, bukti suara-suara di dunia maya bisa ikut memberi warna pemberitaan media arus utama di Bali. Blog, Twitter, Facebook, seperti hidup di dunianya sendiri. Terpisah dengan pemberitaan media arus utama seperti Bali Post, Radar Bali, NusaBali, Bali TV, Dewata TV, dan media-media lain di sini.

Menurutku ada beberapa penyebab. Pertama, pengguna jejaring sosial di Bali lebih suka berbagi tentang dirinya dibanding lingkungannya. Tulisan di blog, update status di Facebook, atau kicauan di Twitter dari Bali lebih banyak berbicara tentang penggunanya. Misalnya, dia lagi di mana, ngapain, dan semacamnya.

Sebagian blogger Bali memang menulis isu-isu lain secara reguler. Misalnya, Pande Baik yang rajin berbagi tentang gadget maupun jejaring sosial. Atau dr Made Wirawan yang menulis isu kesehatan dan internet. Tapi, isu-isu tersebut jarang terkait langsung dengan tema-tema aktual di Bali.

Aku sendiri tak jauh beda. Jarang menulis tentang tema-tema aktual di Bali. Kalau toh nulis di blog ini memang lebih bersifat personal. Kalau di Bale Bengong lebih sering menulis isu-isu “remeh temeh” yang memang tak seksi sama sekali untuk media arus utama.

Sebenarnya, akan menarik kalau ada blog yang rajin menulis dengan analisis terkait isu-isu aktual di Bali. Tapi, ini bukan pekerjaan mudah. Selain butuh waktu juga butuh pengetahuan cukup untuk memberikan tulisan dengan perspektif berbeda dibanding media arus utama. Aku sendiri menyerah. Belum bisa melakukannya.

Penyebab kedua, masih gagapnya media arus utama dengan jejaring sosial. Media-media di Bali masih gagap atau bahkan belum menggunakan jejaring sosial untuk mendukung kerja mereka. Bali Post, harian tertua dan terbesar di Bali, misalnya, belum serius mengelola page di Facebook. Di websitenya, Bali Post belum membuat integrasi dengan Facebook.

Begitu pula dengan Twitter. Media arus utama di Bali hanya Bali Post dan Bali TV yang punya akun microblogging ini. Itu pun belum serius digarap. Itu masih mending dibanding Radar Bali, NusaBali, atau Dewata TV. Mereka belum punya akun Twitter, setidaknya hingga tulisan ini aku buat.

Padahal, kalau punya akun di Twitter, mereka tak hanya bisa terus menerus berbagi informasi tapi juga mendapat respon atau informasi dari followernya.

Penyebab ketiga, belum adanya aktivis dunia maya terkemuka di Bali atau sebaliknya, tokoh penting di Bali yang rajin berjejaring sosial. Ini sangat bisa diperdebatkan tapi, menurutku, lumayan penting. Di Jakarta, banyak pengguna jejaring sosial yang punya nama ini dan jadi referensi media arus utama. Untuk blog, misalnya, Budi Putra, Enda Nasution, Ndorokakung, atau Pandji bisa jadi acuan.

Mereka-mereka ini tak hanya punya nama tapi juga jadi acuan oleh media arus utama untuk melihat isu aktual melalui blog atau twitternya. Begitu pula di Twitter. Sherina Munaf, Fahira Idris, Budiman Sudjatmiko, dan seterusnya adalah pengguna Twitter yang kicauan mereka pun bisa jadi acuan.

Di Bali, menurutku, seharusnya Jerink Superman is Dead dengan hampir 50.000 follower bisa membentuk opini Tweeps tentang isu aktual di Bali. Tapi, Jerinx sepertinya lebih sering menggunakan Twitter untuk menjawab sapaan atau pertanyaan penggemarnya dibanding membahas isu-isu aktual di Bali.

Bali perlu orang-orang yang sudah punya “nama” sekaligus kemauan dan wawasan untuk berbagi lewat Twitter. Aku bayangkan, misalnya Ngurah Harta atau Wayan Juniartha yang sudah punya “nama” itu rela ngetwit atau berbagi opini lewat blog. Aku yakin cerita mereka akan jadi salah satu acuan.

Perempuan-perempuan BBC Memang Oye!

Dengan mobil pick up, Sakti Soediro membawa barang-barang sisa dari Berbagi Tak Pernah Rugi Bali Blogger Community (BBC). Dialah salah satu wanita tangguh di BBC.

Sakti pula yang begitu usai terjadi bencana Gunung Merapi aktif mengumpulkan sumbangan dari berbagai kelompok. Sakti, perempuan single yang baru saja patah hati itu, membuat pos-pos penyaluran sumbangan untuk pengungsi di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Sudah dua kali dia mengirimkannya ke Jogja, tanah kelahirannya. Maka, dia pula yang kami titipi barang-barang sisa kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi kali ini untuk kemudian dikirim ke korban bencana di Merapi.

Berbagi Tak Pernah Rugi merupakan kegiatan rutin BBC. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Kalau biasanya dibuat dalam bentuk pelatihan teknologi informasi, kali ini kami mengadakannya dalam bentuk aksi amal untuk korban bencana. Sekalian perayaan BBC yang ketiga tahun dan solidaritas pada bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi.

Ada donor darah, konsultasi kesehatan, pasar barang bekas di sisi selatan Lapangan Renon setengah hari tadi. Semua hasilnya disumbangkan ke korban bencana. Paling dekat, sih, ke korban bencana di Merapi. Sakti yang akan mengirimkannya. Karena itu, menurutku, dialah salah satu perempuan tangguh di BBC.

Tapi, Sakti cuma satu di antara puluhan perempuan lain di BBC yang, menurutku, oye-oye. Mereka agak sepi di milis. Jarang berkomentar dan ikut hahahihi. Tapi kerjanya keren. Begitu pula di kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi kali ini.

Komang Rara dan Arie Suriasih, jauh-jauh hari berkoordinasi dengan pasukan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Badung untuk donor darah. Rara, yang baru gabung di mailing list sekitar dua minggu lalu, akhirnya keluar jiwa srikandinya. Dia, sebenarnya, sudah sering ikut kegiatan BBC. Tapi, biasanya “hanya” sebagai pasangan Gus Tulank. Kini, dia keluar sendiri.

Mereka berdua pula yang mengurusi konsumsi bersama Efi Nurhandari. Ada pula sumbangan dari Mbak Ning dan Mbak Ninok. Mereka sangat membantu dengan kue-kuenya. Apalagi Mbak Ninok dengan kue ulang tahun gratisnya buat kami. Semua tanpa diminta dengan suka rela menyumbangkannya pada kegiatan kali ini.

Lalu, pas hari H, maksudnya tadi pagi, perempuan-perempuan lain beraksi. Riri Prabandari, Wiwin, Endang, Ia, dan seterusnya. Perempuan-perempuan ini bekerja dalam diam ketika para laki-laki sibuk koar-koar, termasuk aku. Hehe..

Para perempuan ini menjaga barang-barang bekas yang dijual. Menjawab dan melayani tiap pembeli yang sekadar melihat atau menawar barang-barang yang kami jual: kaos baru, baju bekas, pohon bambu, CD, DVD dan seterusnya. Barang-barang ini tak semua bekas. Banyak pula barang baru. Mereka pula yang menghitung hasil penjualan yang semuanya akan kami sumbangkan.

Banyak dan aktifnya para perempuan inilah yang menyenangkan bagiku di ulang tahun kali ini. Tentu saja para lelaki perkasa di BBC juga bekerja keras. Selain Putu Adi Susanta alias Putu Tarno yang kerja keras mengurus sound system pinjaman dari One Dollar for Music dan Ari Bogel yang dapat pinjaman genset dari warnet Mercury. Lalu, Gus Tulank yang berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan tempat kegiatan. Juga Saylow, Ekadir, dan Bowo yang mengurusi banner.

Dan lain-lain dan lain-lain. Banyak nama yang tak bisa disebut satu per satu. Di BBC, laki-laki dan perempuan bahu membahu menyingsingkan lengan baju. *lebay. Terkumpul setidaknya Rp 3,2 juta, 31 kantung darah segar, serta beberapa barang dan sumbangan lain yang dikirim ke rekening Arie. Nanti akan ada tulisan lagi soal jumlah akhir dan pengumuman ini.

Maka, pada ulang tahun BBC kali ini, selain memberikan ucapan selamat ulang tahun dan terima kasih untuk kekeluargaan selama ini, aku mau memberikan sembah takzim untuk para perempuan BBC. Kalian, eh, kita semua memang oye!