Pelatihan Excel untuk Difabel

Dengan duduk di kursi rodanya, Ketut Sudianti, 28 tahun, menggerakkan tetikus (mouse) di tangannya. Dia berusaha menjumlahkan angka-angka di kotak-kotak program Excel di laptopnya. Dua perempuan lain, Putu Ita Puspitasari, 20 tahun, dan Eka Suandewi, 23 tahun, berada di kanan kiri Sudianti. Ketiganya adalah penyandang difabel.

Sabtu siang lalu mereka merupakan bagian dari 13 difabel lain yang sedang belajar mengoperasikan Excel, program yang biasa dipakai terutama untuk keuangan. ”Kami belajar agar nanti biasa mengoperasikan kalau kerja,” kata Sudianti yang diiyakan Ita dan Eka.

”Ini pengalaman pertama kami belajar Excel. Tapi kami pasti bisa. Yang penting kan niatnya,” tambah Ita. Dia terlihat sudah biasa mengoperasikan komputer tersebut.

Bagi ketiga difabel tersebut, keterbatasan tubuh bukan penghalang. Meski harus duduk di kursi roda, atau menggerakkan kursor dengan tangan kiri, dan seterusnya, mereka terlihat bersemangat mengikuti pelatihan yang diberikan Bali Blogger Community (BBC) selama sekitar empat jam tersebut.

Sekitar 12 peserta itu pun belajar tentang bagaimana memasukkan, menjumlahkan, atau mengalikan angka-angka yang dituliskan di papan. Mereka berada di ruangan berbentuk L seluas kira-kira 4x 8 meter persegi di gedung Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung yang juga kantor Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Abiansemal, Badung. Peserta didampingi anggota BBC yang membimbing cara menggunakan program tersebut.

Pelatihan tesebut merupakan bagian dari Kursus Singkat Menuju Kerja yang diadakan Yakkum Bali, Yayasan Senang Hati, dan Yayasan Bunga Bali. Tiga lembaga pendamping difabel di Bali ini bekerja sama dengan lembaga lain seperti BEDO dan VSO Indonesia mengadakan pelatihan selama tiga bulan.

Dayu Windiyani, pengurus Yayasan Senang Hati yang mewakili panitia pelatihan mengatakan pelatihan tersebut terdiri dari dua hal penting yaitu soft skill seperti motivasi diri dan hard skill seperti keterampilan komputer, memasak, dan seterusnya. ”Kami ingin memberi bekal agar teman-teman kami siap bekerja,” kata Dayu.

Materi yang diberikan, menurut Dayu, berdasarkan pengalaman difabel lain yang sudah bekerja. Misalnya tentang apa saja kemampuan yang sering dibutuhkan oleh perusahaan penerima kerja. Pengalaman ini diperkuat hasil riset masing-masing organisasi terkait dengan kemampuan difabel yang sesuai kebutuhan perusahaan.

Dari sinilah pelatihan kemudian dibuat dengan menekankan pada kemampuan seperti Bahasa Inggris, Komputer, dan semacamnya tersebut. Materi itu kemudian disampaikan lebih banyak dalam bentuk praktik langsung. ”Target kami pada Januari nanti para peserta pelatihan sudah siap untuk training ke perusahaan-perusahaan,” ujar Dayu.

Peserta pelatihan sejak 8 September hingga 28 November itu adalah penyandang difabel dari tiga yayasan tersebut. Pesertanya diseleksi dari berbagai daerah seperti Karangasem, Tabanan, Klungkung, dan daerah lain.

Adapun pemateri pelatihan berasal dari berbagai relawan. Salah satunya adalah anggota BBC yang memberikan pelatihan tentang komputer, terutama tentang program Excel. ”Kami senang karena bisa membagi ilmu yang kami harap dapat membantu meningkatkan kapasitas teman-teman difabel,” kata Agus Sumberdana, anggota BBC.

BBC sendiri memang mempunyai kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi. Kegiatan ini berupa pelatihan tentang teknologi informasi baik komputer maupun internet yang diberikan pada komunitas-komunitas seperti sekolah alternatif, banjar, dan sekarang kalangan difabel. Karena itulah ketika diajak oleh panitia untuk memberikan pelatihan, BBC segera menerimanya.

”Bagi kami berbagi adalah sebuah konsep menyisihkan sedikit waktu, sumber daya yang kami miliki dan dipadukan dengan beberapa orang sehingga akan lebih banyak orang yang berdaya,” ujar Agus.