Hari Raya Galungan kali ini datang beriringan dengan Hari Raya Idul Fitri. Tidak barengan sih, hanya saja sangat berdekatan. Oleh karenanya jauh-jauh hari aku udah hitung-hitungan dengan bli, mulai dari menghitung anggaran untuk mudik, THR Idul Fitri dan Galungan, banyaknya cuti yang harus di bagi untuk kedua hari besar tersebut. Setelah berbagai perdebatan akhirnya memang kami berdua mengutamakan cuti yang ada untuk dapat mudik ke Nganjuk. Pertimbangan tentu karena datangnya Hari Raya Idul Fitri itu hanya datang setahun sekali. Sementara Hari raya Galungan itu kan 2 tahun sekali. Pertimbangan utamanya jelas, kesempatan untuk dapat berkumpul dengan keluarga di Nganjuk komplit itu juga hanya sekali setahun. Jadi aku gak mau kejadian 3 tahun lalu terulang. Yaitu saat kami memutuskan untuk tidak mudik dan berujung pada aku tiada henti menangis karena kangen keluarga. Sejak saat itu memutuskan jika ada rejeki diusahakan mudik tiap Idul Fitri.
Setelah satu minggu ambil cuti Idul Fitri mau gak mau aku harus merelakan tidak ambil cuti saat hari raya Galungan. Jadi hanya libur di hari H Galungan-nya saja. Biasanya sih ambil cuti di manis Galungan agar punya waktu untuk bersantai di rumah atau agar dapat sembahyang ke pura-pura. Saat hari H Galungan sih berlangsung biasa saja seperti sebelum-sebelumnya. Mebanten, membuat lawar lalu makan bersama-sama, saudara berdatangan, hari otonanku dan akhirnya melanjutkan hari dengan bersantai di rumah. Kebetulan keluarga bli asli Denpasar jadi tidak ada acara pulang kampung.
Hari manis Galungan (sehari setelah Galungan) agak berbeda karena aku harus kembali masuk kerja sementara keluarga yang lain ada yang masih libur. Bahkan bli juga ambil libur. Rasanya berat hati, saat yang lain libur sedangkan kita harus berangkat kerja. Meski secara keseluruhan di kantor sepi karena sebagian besar ambil cuti tapi khusus teman-teman yang satu lantai kebetulan pada gak cuti jadi gak sepi-sepi amat sih. Nyame kantor aku sembahyang sebelum akhirnya memulai aktifitas kerjaan. Baru beberapa saat ambil kerjaan, bli sms, mengabarkan bahwa Pak De (adik bapak mertuaku) meninggal dunia. Memang Pak De sudah lama menderita Diabetes yang sudah beberapa hari ini makin parah. Namun berita tersebut tentu sungguh mengejutkan. Bagaimanapun Pak De tinggal satu rumah dengan kami dan setiap hari aku dapat melihatnya melewati hari-harinya dalam sakit. Akhirnya tanpa mauku, harus ambil cuti juga di hari Manis Galungan ini. Sungguh, beberapa kejadian dalam hidup ini tiada dapat kita duga akhirnya.