Tag Archives: Karangasem

Timur dan Tutup Tahun: Merekam Perjalanan

Karangasem, penghujung tahun 2016. Ke timur, lagi dan lagi. Seperti yang sudah-sudah, ada dahaga yang mesti dibasuh perjalanan. Duduk berkendara mengejar cakrawala, senja yang aduhai menawan, semacam larut dalam stagnansi yang sekejap.  Rumah. Pesinggahan. Jasri. Tirta Gangga. Taman Ujung. Candi Dasa.    Rute yang sama. Misi yang hampir sama – menangguhkan diri dari korosi: hal-hal […]

Menjaga Kebersihan Pura, Apa Susahnya?

Menjaga kebersihan pura seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua. Foto Made Selamat.

Piodalan di Pura Dalem Muntig dilaksanakan tiap Tilem Kapitu. 

Begitu pula pada Tilem Sasih Kapitu kemarin. Saya sembahyang di Pura Dalem di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem ini. Suasana cukup ramai. Saya memilih datang pada pukul 3 sore. Berangkat dari rumah bersama keluarga.

Sesampai di halamam pura saya melihat pemandangan sampah canang, bunga dan kantong plastik berserakan. Masuk ke plataran pura, semakin banyak sampah kami temui.

Banyak dari pemedek yang enggan membawa canang sisa sembahyang untuk dibuang di tempat sampah. Entah apa yang dipikirkan, selesai sembahyang langsung pulang. Mungkin nanti ada pengayah yang membersihkan pikirnya.

Kalau bukan kita bersama-sama menjaga kesucian dan kebersihan Pura siapa lagi yang menjaganya. Mungkin gampang dan memang wajib jika pemangku yang harus membersihkan sisa canang di pelinggih atau piasan pura. Namun, di lantai tempat kita sembahyang apakah juga kewajiban beliau untuk membersihkannya?

Mari berpikir jernih, selesai sembahyang. Jangan lagi meninggalkan sampah canang sisa sembahyang dan sampah plastik berserakan di Pura. Karena membersihkan sampah juga merupakan wujud bakti kita kepada Tuhan.

Menjaga kebersihan pura adalah kewajiban kita semua. Suksma. [b]

The post Menjaga Kebersihan Pura, Apa Susahnya? appeared first on BaleBengong.

Mengenal Sejarah dan Pura Desa Biaslantang

pura-jati

Dulunya Biaslantang bernama Desa Tukad Besi atau Tukad Liki.

Alkisah I Gusti Aberang Singa mengungsi ke Desa Gelgel, lalu pindah ke Datah, Ujung, dan Panji, Buleleng. Terakhir ke Tukad Besi bersamaan dengan I Bendesa yang berasal dari Kayu Aya, kumpi I Pasek Gelgel.

Pada caka 500 desa ini hanya berpenduduk 70 orang.

I Gusti Aberang Singa bersama I Bendesa membangun Pura Puseh Desa Tukad Besi dibantu penduduk berjumlah 70 orang tersebut. Rahina Budha Umanis Perangbakat tanggal 11 Sasih Kedasa Caka 700 merupakan karya agung atau odalan sekaligus mlaspasin di Pura Puseh.

Setelah diplapasin, selang beberapa tahun kemudian tiba-tiba terjadi lilus, gejor atau gempa dan banjir besar. Semua masyarakat panik. Lalu pemangku desa ngandikayan atau memperingatkan warga dan anak-anak untuk mengingsir atau memindahkan Pelinggih Ide agar tidak tersapu banjir.

Para pemedek atau warga berlari dan mengambil pegayungan dan ngiring Ide ke gunung bernama Toya Pol. Di sana dilinggihkan atau ditempatkan sementara semua pegayungan.

Banjir yang datang sangat besar dan hampir setinggi gunung. Semua warga heran melihat banjir tersebut. Kemudian I Babah Manik Subandar minta pertolongan ke Desa Bebayu dan Peselatan untuk memindahkan gedong dan kereb.

Sesudah banjir selesai, tempat pura puseh desa Tukad Besi yang dulu telah hancur. Warga membangun kembali Pura Puseh Desa Tukad Besi di lokasi baru. Proyek pembangunan Pura Puseh baru berlangsung selama petang sasih atau empat bulan.

Setelah pura selesai dibangun dan diplaspasin baru kemudian pegayungan Ida megingsir atau dipendahkan dari Toye Pol ke Pura Puseh Biaslantang.

Dinamakan Biaslantang karena jauhnya jarak yang ditempuh dari gunung ke tempat yang lebih datar, lantang atau panjang. Selain itu jalan yang dilewati nuhut atau meniru bias atau pasir yang dibawa oleh banjir.

I Bendesa dan I Gusti Aberang Singa sangat dihormati dan menguasai wilayah Tukad Besi, karena mereka telah mendirikan pura Puseh. Tidak ada yang berani berbuat curang pada mereka.

Setelah itu mereka mengadakan puja wali dan menuntun Betare Sami ke Pura Desa Biaslantang pada rahina Radite Kliwon Medangkungan tanggal ping limolas, sasih Kadasa Caka 1721. Rahina tersebut dijadikan tanggal untuk odalan pura Puseh Biaslantang sampai sekarang.

Pura Jati
Pura Jati salah satu pura di Desa Biaslantang, merupakan pura penyungsungan jagat. Sebelum pura ini bernama pura Jati dahulu pura ini bernama pura Puncak Gading Watu Macepak. Maknanya, pemedal atau pintunya adalah batu macepak atau batu yang terbelah dua.

Pada suatu ketika ada pengenikan Ida betara Empu Geni Jaya kalau pura Watu Macepak diganti dengan pura Jati dan. Pura jati ini keempon oleh semeton pasek, yaitu dadia Jero Sedahan Berata.
Peaci-aci atau ngodalin dilaksanakan setiap purnama kapat atau buda wage kelawu. Jero mangku dipura ini dipilih berdasarkan keturunan, sekarang jero mangku di pura ini adalah jero Mangku Nesa.

Pura jati terdiri dari tiga tempat yaitu utama mandala, madya mandala, dan nista mandala.

Pegayungan Ida melinggih di Pura Jati. Dahulu jika nuwur Betara Tirta Ring Luhur Ida Mesanggraan di Pura Jati. Artinya jika kita nuwur atau memohon tirta di luhur maka ida ditempatkan sementara di Pura Jati.

Di Pura Jati juga ada satu batu besar di bawah, tepatnya di samping jalan raya. Batu besar ini berdampingan dengan pohon intaran yang tinggi dan besar. Secara niskala pohon intaran itu adalah tanaman cempaka kuning tetapi secara sekala kita melihatnya pohon intaran.

Cerita Terkait
Batu besar yang berdampingan dengan pohon intaran berada di sisi jalan dan tepatnya berada di bawah Pura Jati yang merupakan tempat peninjauan Ida. Dahulu karena letaknya di sisi jalan akar dari pohon intaran itu sedikit terpotong karena tidak sengaja akibat adanya proyek jalan raya.

Setelah terpotong kemudian akar tersebut mengeluarkan tirta dan banyak penduduk yang nunas tirta tersebut.

Pernah juga dadia yang mengempon yaitu Dadia Jero Sedahan Berata saat hendak bersih-bersih dan ingin menebang pohon intaran tersebut. Sebelum memotong jero sedahan mepinunasan minta izin apakah diperbolehkan untuk menebang pohon tersebut. Namun, setelah tiga kali mepinunasan namun ida betara tidak mengizinkan karena pohon intaran tersebut disenangi oleh Ida Betara. [b]

The post Mengenal Sejarah dan Pura Desa Biaslantang appeared first on BaleBengong.

Seledet Penari Kian Memudar di Desa Kami

penari-bali

Ilustrasi seledet penari Bali. Foto Anton Muhajir.

Gong tari nelayan terdengar dari Banjar Desa Biaslantang. 

Terlihat ibu- ibu berkumpul memakai kamben dan selendang. Mereka menari bergerak mengikuti aluanan gong melalui pengeras suara. Mengingat akan ada odalan di Pura Segara desa saat purnama, mereka semangat berlatih.

Ibu-ibu tersebut bersatu dalam wadah PKK yang diketuai Ayu Robiana Dewi yang tak lain merupakan istri dari Pak Kepala Desa Biaslantang, Kecamatan Abang, Karangasem. Setelah sekian lama tak terdengar dan terpendam, akhirnya sekarang ibu-ibu maju dalam segala bidang. Ini terutama ibu-ibu PKK yang mengalami kemajuan akhir-akhir ini. Dengan semangat baru, mereka berkegiatan untuk memajukan Desa Biaslantang tercinta.

Awal keaktifan PKK tersebut dimulai pas Usaba ring Pura. Ketika itu ibu-ibu PKK menarikan tari rejang lawas yang hampir 50 tahun tak diperhatikan dan dilupakan. Gagasan untuk menari pun datang dari sekaa gong yang ingat akan tabuh dari tari rejang lawas tersebut. Mulai saat itulah terlihat kemajuan dan semangat ibu-ibu.

Pemerintahan kepala desa sebelumnya sangat adem ayem dan hampir tidak ada perubahan justru membuat geram para pemuda dan pemudi untuk membawa kemajuan desa. Saat hari raya Ngesanga contohnya sudah menjadi kebiasaan para pemuda membuat ogoh-ogoh sementara para pemudi hanya duduk berdiam diri menyaksikan pengarakan ogoh-ogoh.

Namun, dua tahun terakhir ini berkat semangat dan kreatif kami sebagai pemudi, anak-anak perempuan Biaslantang pun berpartisipasi saat pengarakan ogoh-ogoh hari raya Ngesanga. Hal ini membangkitkan semangat para pemudi yang bisa menari untuk membuat suatu tarian kreasi guna memeriahkan perayaan Ngesanga.

Tentu saja tidak mudah untuk membentuk dan menyatukan semangat serta jiwa seni. Namun, berkat izin Tuhan semuanya berjalan lancar dan terlaksana sehingga membuat semua warga terkesan.

Tentu saja menjalin kerja sama dengan para penabuh gong dan agar bisa latihan kami menggunakan malam hari karena kegiatan masing-masing penari. Pertama kali tarian ditarikan pada 2014, pakaian dan riasan yang kami gunakan masih sangat sederhana. Lalu tahun berikutnya yaitu 2015 pakaian dan dandanan (make up) lebih bagus dari tahun sebelumnya karena dibiayai para donator. Saat itu ibu PKK belum seaktif sekarang.

Setelah dua tahun berhasil ikut memeriahkan perayaan Ngesanga, semangat kami para pemudi mulai tergeser oleh semangat ibu-ibu PKK. Mereka sudah terbentuk dalam sebuah wadah pemersatu yang terorganisir oleh desa. Adapun gagasan yang pemudi bentuk hanyalah berdasarkan semangat. Tidak ada wadah pemersatu seperti halnya muda-mudi. Sekarang para pemudi hanya menjadi penonton, tidak aktif dan berkreasi lagi.

Dulu pada tahun 2015 pas kesanga saya keliling desa dan ke pengusaha pariwisata di Amed mencari donator untuk payasan tariannya. Saya selaku ketua kelompok tari bentukan sendiri. Ayu Setia Pertiwi sebagai koreografer serta tata rias. Yunik sebagai bendahara. Waktu itu kami menari berdelapan dan mendapat apresiasi positif dari warga. Namun, karena masalah pribadi, sekarang kami jarang berkomunikasi.

Seiring makin jarangnya kami berkomunikasi, makin pudar pula seledet mata para penari pemudi-pemudi di desa kami.

Mari kita generasi muda jangan hanya berdiam diri menonton saja. Kita harus semangat kembali dan tentu sja berharap adah wadah organisasi seperti muda- mudi yang menjadi pemersatu semangat para anak muda. [b]

The post Seledet Penari Kian Memudar di Desa Kami appeared first on BaleBengong.

Kemikan Pedagang di Banjar Biaslantang

Ilustrasi warung pedagang kecil di Banjar Biaslantang, Desa Purwekerthi, Karangasem. Foto Anton Muhajir.

Ilustrasi warung pedagang kecil di Banjar Biaslantang, Desa Purwekerthi, Karangasem. Foto Anton Muhajir.

Kabar miring pun ikut berperan dalam persaingan sesama pedagang.

Terjadi transaksi antara penjual dan pembeli di Banjar Biaslantang, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem. Tepatnya di warung Bu Januari di mana pembeli, sebut saja Ibu Rangin, ingin membeli gula dan beras.

Ibu Rangin: Mebelanja, Mbok. Meli gula jak baas mejalan. [Belanja, Mbak. Beli gula dan beras berjalan.]

Ibu Januari: Oh. Nggih, Tut. Kudang kilo ngalih baas jak gula? [Oh. Ya, Tut. Berapa kilo beli beras dan gula?]

Ibu Rangin: Baas 2 kg jak gula bang dadua. [Beras 2 kg dan gula 2 kg]

Ada hal janggal dari percakapan antara penjual dan pembeli di atas, baas dan gula mejalan. Sedikit aneh memang. Kenapa ada gula dan beras mejalan padahal beras maupun gula tidak akan ke mana-mana keculai di pindakan.

Kata beras dan gula mejalan sudah menjadi istilah atau kebiasaan masyarakat setempat jika ada orang menikah, orang meninggal maupun dalam kegiatan lain terkait ayah-ayah di Banjar Biaslantang. Arti sesungguhnya dari kata mejalan karena beras dan gula itu akan berkeliling dan berpindah tempat, dari satu rumah ke rumah lain. Tentu saja keliling melalui kita masyarakat desa yang mesuka duka, metajukan, maupun meayah- ayah.

Sebut saja Bapak Simpen. Anaknya akan menikah. Saat itu masyarakat akan berbondong nelokin nganten ataupun kundangan. Tentu saja masyarakat datang tidak dengan tangan kosong atau metalang. Setidaknya membawa baas dan gula mejalan.

Setelah pernikahan telah usai, lalu beras dan gula itu pun dijual kembali ke pasar. Dari pasar kembali lagi ke pasar juga bisa disebut siklus pasar.

Biasanya masyarakat membeli beras pejalan memilih jenis beras terlebih dulu tergantung orang yang mempunyai acara. Beras yang selalu dipilih adalah beras dengan harga paling murah meskipun ada juga yang membeli beras yang bagus. Untuk gula pejalan biasanya berisi satu kilogram kurang seperempat.

Itu merupakan salah satu keunikan dan kebiasaan warga Banjar Biaslantang.

Persaingan

Namun, ada juga cerita atau sisi lain dari pasar di desa ini. Dengan berjalannya waktu, sebagian masyarakat memilih untuk membuat usaha sendiri yaitu dengan berdagang atau berjualan dan membuka warung sendiri. Di Banjar Biaslantang telah terjadi peralihan mata pencaharian. Menjamurnya pedagang dan warung kecil salah satu contohnya.

Mereka memulai usahanya. Barang yang mereka jajakan hampir sama dengan pedagang lain. Warung kecil yang banyak dan tempatnya berdekatan bisa disebut pasar tapi sedikit berbeda dengan pasar di desa tetangga, Desa Culik. Para pedagang memasok dagangan dari Pasar Culik maupun Pasar Karangasem. Artinya barang yang mereka jual adalah pindoan atau tidak langsung dari agen.

Banyak pedagang namun tidak kreatif. Hanya meniru barang dagangan pedagang lainnya. Misalnya pedagang tipat, dagang timpal kopi, dagang canang, dan yang marak sekarang adalah pertamini di pinggir jalan. Hal ini menimbulkan persaingan sangat ketat antara siapa yang paling laris dan siapa yang udu (tidak laku). Salah satu alasan laris maupun tidak tergantung pada mahal murahnya harga barang yang sama antara pedagang satu dan pedagang lainnya.

Persaingan kerap kali terlihat di antara pedagang apalagi yang berjualan lebeng-lebeng dan belek-belek seperti halnya dagang tipat dan timpal kopi. Sering kali kabar miring kadanan bisa ngeleak dijadikan senjata untuk mengurangi minat pembeli. Sebab, di Banjar Biaslantang kepercayaan masyarakat kental akan orang kadanan bisa ngeleak.

Keadaan seperti ini menguntungkan para konsumen. Mereka jadi lebih mudah berbelanja dan bisa menawar serta membandingkan harga antara pedagang satu dan pedagang lainnya. Banyak pedagang mengeluh karena pembeli terkesan pilih-pilih atau istilahnya memanying. Sebab, baru banyak ada dagang seenaknya menawar harga barang bahkan membandingkannya yang sontak membuat para pedagang kesal.

Pedagang paling laris di Banjar Biaslantang adalah Bu Sedani, ipar dari Bu Januari yang membuka warung bersebelahan. “Saya tidak mengerti kenapa pembeli lebih tertarik berbelanja di sana. Padahal, apa yang saya jual sama dengan yang dia jual. Bahkan jika apa yang pembeli butuhkan tidak ada di sana baru mereka belanja ke saya. Saya adalah penonton setia kelarisan warung sebelah,” ujar Bu Januari mengeluh.

Dia melanjutkan cerita. Pernah juga ada yang beli gula saja ke tempatnya lalu kemudian beli kopi ke tempat Bu Sedani padahal dia juga menjual kopi. “Entah apa yang pembeli pikirkan saat belanja ke tempat saya. Masalah harga dan bati ngematiang pedagang udu seperti saya jual Rp 3.000 di sana Rp 2.500. Jelas pembeli akan lari ke sana,” katanya.

“Tapi, bagi saya yang udu harus diangkat lagi Rp 500 agar dagangan bisa muter ketemu modal lagi. Kenapa bisa dijual dengan harga lebih murah padahal beli di Peken Culik sama harganya Rp 2.500 pun atep mbung. Bagaimana bisa dapat bati,” Bu Januari melanjutkan.

Membuka usaha sendiri seperti halnya membuka warung sangatlah bagus. Namun, perlu adanya kerja sama di bidang harga agar sama-sama dapat upah terutama yang jualannya udu. Di samping adanya persaingan yang positif serta lebih kreatif dalam berjualan agar menarik minat pembeli. Dalam hal persaingan jangan saling berburuk sangka dengan saling menjatuhkan dan membuat kabar-kabar yang tidak benar. [b]

The post Kemikan Pedagang di Banjar Biaslantang appeared first on BaleBengong.