Category Archives: Jaringan Blogger

Simakrama Polda Bali Pojokkan Gerakan Tolak Reklamasi

Massa ForBALI menduduki gedung DPRD Bali pada aksi Kamis (25/8). Foto Anton Muhajir.

Massa ForBALI menduduki gedung DPRD Bali pada aksi Kamis (25/8). Foto Anton Muhajir.

Polda Bali menggelar simakrama bersama warga. 

Pertemuan di ruangan Kemala Hikmah Markas Polda Bali Jl WR Supratman Denpasar itu dihadiri 63 lembaga beserta individu pada Rabu kemarin. Hadir juga desa adat anggota Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Sepanjang berlangsungnya pertemuan tersebut, tampak jelas ada upaya moderator untuk memojokkan gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa.

Sepanjang pertemuan tampak sekali upaya moderator memojokkan gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa, baik melalui penggiringan opini sampai dengan pemutaran video. Moderator juga beberapa kali memotong pembicaraan Bendesa Adat dan organisasi masyarakat yang menolak reklamasi teluk Teluk Benoa.

Upaya mendiskreditkan gerakan tolak reklamasi juga terlihat di pemberitaan massa baik cetak maupun online. Mereka menyebut Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dipanggil Polda sebagai buntut aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa pada 25 Agustus 2016.

Padahal senyatanya ForBALI di bawah pimpinan Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa datang ke Polda Bali untuk memenuhi undangan Polda yang menggelar simakrama.

Pertemuan yang diatur sedemikian rupa untuk memojokkan gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa mendapatkan reaksi keras dari Bendesa Adat yang memenuhi undangan tersebut.

Mendiskreditkan Gerakan
Bendesa Adat Kuta, I Wayan Swarsa menilai pertemuan itu hanya bertendensi untuk mendiskreditkan gerakan. Padahal, pembakaran ban oleh massa di bebeberapa titik tersebut adalah akibat, sehingga menurutnya harus dicari sebabnya.

“Puluhan ribu masyarakat adat Bali turun ke jalan dengan kemarahan. Mengapa mereka marah, karena ada pengabaian-pengabaian terhadap harga diri masyarakat adat,” kata Swarsa.

Koordinator Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa itu menambahkan, Bendesa Adat mengambil peran mengawal massa dan hasil rapat adat yang menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Itu yang kita kawal dan kami perjuangkan selam bertahun-tahun,” ujarnya.

Swarsa menyatakan hanya satu kali kejadian yang tidak bisa dipegang, tapi polisi dan media memblow up seakan-seakan pasubayan dan masyarakat adat sudah menodai Bali dengan membakar ban.

“Kenapa tidak bertanya kepada rakyat, mengapa rakyat sampai membakar ban?“ tanya Swarsa.

Kapolda Bali, Irjen. Pol. Drs. Sugeng Priyanto, S.H., M.H dalam sambutan pembukaannya menyatakan, polisi berhak menggunakan peraturan perundangan dan pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) untuk menjaga keamanan Bali.

Mempertahankan Harga Diri
Menanggapi itu, Bendesa Adat Buduk Ida Bagus Ketut Purbanegara menyampaikan, masyarakat adat Bali punya cara sendiri untuk mempertahankan harga dirinya.

“Bapak berhak menggunakan aturan itu. Silakan saja. Tapi kami masyarakat adat Bali juga punya cara. Pada saat kedua tangan Bendesa Adat ini tidak bisa lagi membendung masyarakat adat dengan segala kemarahannya, maka kami akan masuk ke dalam masyarakat adat kami dan membiarkan masyarakat mencari jalannya sendiri,” ujar Purbanegara.

Koordinator Jalak Sidakarya Made Ariel Suardana mengapresiasi simakrama Polda Bali. Apresiasi tersebut diberikan mengingat seharusnya yang mengadakan pertemuan seperti itu adalah DPRD Bali sebagai wakil rakyat.

“Pertemuan untuk penyerapan aspirasi berkaitan erat dengan peran dan fungsi DPRD. Seharunya DPRD yang melakukan. Tapi tidak jelas kapan DPRD Bali akan melakukan,” ujar Ariel.

Made Ariel memaparkan realitas sampai hari ini tidak ada Desa Adat yang mendeklarasikan diri mendukung rencana reklamasi Teluk Benoa. Sebanyak 39 Desa Adat dan puluhan ribu rakyat Bali telah menyatakan penolakan reklamasi itu artinya mayoritas rakyat Bali telah menolak reklamasi.

“Menyikapi gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa mencapai puluhan ribu ini, produk hukum apa yang akan dikeluarkan DPRD Bali dalam upaya menjaga Bali dan memenuhi aspirasi rakyat,” tanya Ariel.

“Berani tidak DPRD Bali mengeluarkan rekomendasi penolakan reklamasi Teluk Benoa dan memanggil Gubernur Bali menandatangani itu bersama rakyat Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa,” tantang Made Ariel kepada anggota DPRD Bali yang hadir di pertemuan tersebut.

Menjaga Demokrasi
Dalam pertemuan yang juga dihadiri jajaran Kepolisian dan TNI, Made Ariel juga menyerukan kepada semua pihak untuk berkomitmen menjaga demokrasi agar tidak ada lagi upaya-upaya pelarangan menggunakan baju tolak reklamasi bahkan sweeping dan perusakan baliho-baliho tolak reklamasi Teluk Benoa. Karena selama ini, pihak yang menolak reklamasi saja yang terus dipersoalkan.

“Jika kita berkomitmen menjaga demokrasi, saya minta dengan hormat pihak TNI dan Polri menjaga kawan-kawan kita. Tidak memaksa bahkan sampai melakukan pemukulan. Tidak melakukan sweeping terhadap setiap orang yang menggunakan kaos tolak reklamasi. Tidak ada perusakan baliho aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa,” kata Ariel.

“Lihatlah mereka yang pro reklamasi Teluk Benoa. Tidak pernah disweeping. Tidak pernah dipersoalkan. Hanya rakyat yang menyatakan tolak reklamasi Teluk Benoa ini yang terus dipermasalahkan,” ujar pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.

Wakil Ketua DPRD Bali, Nyoman Sugawa Kory, memberikan pernyataan penutup sekaligus respon tidak langsung atas desakan terhadap DPRD Bali agarsegera bersikap dan menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa. Menurutnya, DPRD Bali tidak mungkin menganulir rekomendasi dari DPRD periode sebelumnya.

Tidak hanya itu, politisi Partai Golkar tersebut juga membantah Perpres nomor 51 tahun 2014 itu berlaku secara nasional, bukan hanya di Teluk Benoa.

“Itu Perpres kan secara nasional. Bukan hanya soal Teluk Benoa,” kilahnya.

Gagal Paham
Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana membantah keras pernyataan Sugawa Korry. Gendo menuding Sugawa Korry gagal paham terkait persoalan reklamasi Teluk Benoa, baik mengenai Perpres 51 tahun 2014 maupun rekomendesi yang pernah dikeluarkan DPRD Bali.

“Saat ini, DPRD tidak punya produk politik atau rekomendasi apa pun terkait reklamasi Teluk Benoa karena produk hukum sebelumnya telah dicabut. Jadi jika DPRD periode saat ini mengeluarkan rekomendasi untuk memenuhi aspirasi rakyat yang menolak reklamasi Teluk Benoa, maka tidak ada satu pun rekomendasi yang dianulir,” ujar Gendo.

“Wakil Ketua DPRD juga tidak memahami soal Perpres 51 tahun 2014. Dia menyebutkan Perpres 51 tahun 2014 berlaku secara nasional dan bukan hanya di Teluk Benoa. Di situlah letak kegagalan Sugawa Korry memahami Perpres 51 tahun 2014,” Gendo menambahkan.

“Sejatinya Perpres No 51 Th 2014 sebagai perubahan Perpres 45 tahun 2011 itu diterbitkan khusus untuk mengatur Teluk Benoa. Sugawa Korry gagal paham dalam urusan reklamasi Teluk Benoa,” tandas Gendo. [b]

The post Simakrama Polda Bali Pojokkan Gerakan Tolak Reklamasi appeared first on BaleBengong.

Scared Of Bums menempuh jarak 380 km untuk konser mereka di dua kota.

Photo 28-08-16 21.11.08
Di era-era tahun awal Scared Of Bums sekitar tahun 2005, Negara adalah kota langganan gigs Scared Of Bums diluar Denpasar. Dalam setahun bisa tiga sampai empat kali Scared Of Bums konser di Negara. Di tahun-tahun itu komunitas band indie di negara masih sangat solid dan diperhitungkan. Manager Scared Of Bums kala itu Muzz berasal dari Negara dan Eka Rock (Superman Is Dead) sering memberikan rekomendasi  di event-event di Negara.

Ada catatan penting saat itu, Negara punya kompilasi band indie bertajuk Negara Rock City, yang didalamnya berisikan band-band cross-genre Negara seperti Bad G, Ugly Juliet, Dying in Peace, dan lain-lain. Pergerakan teman-teman di Negara patut diacungi jempol, sebab tahun-tahun itu untuk merekam karya banyak sekali tantangannya.

IMG_2853
Jadi ketika Scared Of Bums mendapat tawaran untuk konser di Negara mereka tanpa ragu langsung mengiyakan, demi menyapa teman-teman lama. Scared Of Bums punya harapan scene di Negara bisa kembali giat seperti dulu lagi.  “Banyak potensi di Negara dan tentunya mengenang masa-masa kami lagi nakal-nakalnya dan hyperactif, cewek-ceweknya tuh bikin betah disana hahaha…” kata Nova, drummer Scared Of Bums.

Awalnya Scared Of Bums sempat ragu untuk main di dua kota ini dihari yang sama, mengingat jarak tempuh Denpasar – Negara – Karangasem – Denpasar sekitar 380 km, ya mengelilingi Bali. Atas permintaan panitia Hut SMA Negeri 1 Negara Ke-53 Scared Of Bums main hari Sabtu 27 Agustus 2016, jam 12.00 wita. Tapi di venue acara agak sedikit molor, Scared Of Bums selesai main sekitar jam 13.30 wita.

Let’s Go!
Perjalanan Scared Of Bums ke Negara dari Denpasar berangkat pada hari Jum’at 26 Agustus 2016 jam 3 sore. Keberangkatan H-1 ini dilakukan dengan pertimbangan untuk menjaga kondisi tubuh personil dan kru. Malamnya bisa istirahat dan pagi bisa manggung dengan tubuh lebih segar. Pukul 19.00 team Scared Of Bums sampai di Negara dan langsung sound-check.

Amah Amah Store
Setelah selesai sound-check Scared Of Bums langsung meluncur ke Amah Amah Store, untuk BERNOSTALGILA. Muzz sahabat Scared Of Bums sudah menunggu di sana dengan suguhan beer, menjelang tengah malam minum-minum dan ngobrol-ngobrolnya gerombolan ini pindah ke hotel. “Araknya? Bikin Nagih! Haha” pekik personil band ini hampir berbarengan. Tidak terasa sudah sampai jam 03.00, sebagian sudah banyak yang skip. Alih-alih berangkat lebih awal agar bisa istirahat lebih lama …is Bullshit! Padahal emang niatnya untuk gila-gilaan.

IMG_2201
Konser di Siang Bolong
Keesokan harinya semua tim bangung sekitar pukul 09.00 pagi. Karena Araknya bagus, jadi kondisi tim aman semua. Setelah makan dan persiapan, jam 11.30 tim Scared Of Bums berangkat menuju venue di SMA N 1 Negara. Konser di siang bolong dimulai sekitar 12.30 – 13.30. Keinginan untuk langsung berangkat setelah makan siang sedikit tertuda, demi disandera adik-adik celana gemes untuk berfoto.
IMG_2857
Kurang lebih pukul 02.30 akhirnya tim Scared Of Bums keluar dari kota Negara menuju Karangasem. Diperjalanan tim sedikit gelisah karena ternyata perjalanan di jalur Bali Barat lumayan padat. Sampai di Singaraja kira-kira pukul 16.30, melewati kota Singaraja beruntung untung jalanan cukup lengang. Kecepatan mobil travel di jalur ini bisa mencapai rata-rata 90 km/jam.  Menempuh jalur darat ini seperti arung-jeram, banyak jalanan lurus tapi naik-turun. Jalan kembali bersahabat ketika memasuki jalur Tulamben – Amed. Sekitar pukul 18.00 akhirnya Scared Of Bums sampai di kota Karangasem.

Photo 28-08-16 21.10.52
SOUND SATIONS “ROAD TO SOUNDRENALINE” 2016
Pukul  18.30 Scared Of Bums sudah tiba di venue dan kemudian tampil jam 20.00. Sebenarnya belum genap sebulan yang lalu Scared Of Bums maen di acara komunitas indie sebagai band penutup di Karangasem. SOUND SATIONS “ROAD TO SOUNDRENALINE”, untuk acara brand besar seperti ini bagi Scared Of Bums memiliki tantangan tersendiri, terutama dari audience karena segmennya berbaur.  Bulan lalu penonton konser Scared Of Bums lebih spesifik penikmat dan pelaku scene indie dimana mereka sudah benar-benar tahu Scared Of Bums, sedangkan di Sound Sations segmentnya lebih luas. Ternyata perkiraan itu salah, Scared Of Bums punya fans setia yang layak diperhitungkan. Saat Scared Of Bums main, penonton setengah lapangan memang berdiri tapi yg memadati di depan adalah teman-teman #5013 Karangasem bahkan kami tau ada beberapa diantara mereka yang selalu hadir di konser kita di seputaran Bali. Antusiasme dan semangat mereka patut dihargai. Dua konser ini punya rasa yang berbeda, Negara dengan suasana hangat. Terasa sekali persaudaraan dan keakraban yang kental. Karangasem dengan event yang megah dan penonton yg super agresif.  Untungnya saat Scared Of Bums perform sebelum mulai rusuh. Hahahaha

Photo 29-08-16 23.32.06
LOLOT – Manusa Raksasa

Gelaran SOUND SATIONS “ROAD TO SOUNDRENALINE” di Karangasem bertepatan dengan peluncuran album LOLOT – Manusa Raksasa. Bagi Scared Of Bums, Lolot adalah legenda bukan cuma di scene Band berbahasa Bali, tapi di kalangan scene Underground dan Indie. Lolot punya cerita yang kuat.
Secara pribadi Scared Of Bums punya kedekatan dengan Lolot. Dulu saat Scared Of Bums rekaman di Pregina dibantu oleh mantan drummer Lolot, kemudian gitaris lolot Donnie Lesmana adalah produser album pertama Scared Of Bums.

Nova drummer Scared Of Bums juga sempat mengisi dua lagu di album Lolot sebelumnya.

Scared Of Bums juga sering konser bareng di stage yang sama, tapi yang paling berkesan bagi Scared Of Bums adalah saat konser di acara Honda Bali dan Unity in Music taun lalu.  Lolot berkolaburasi dengan Scared Of Bums di set terakhir dengan 2 setup alat band. “Sepanggung dengan band yang menjadi influence dan legend sensasinya sangat berbeda.” kenang Bocare.
Perjalanan karir band ini patut dijadikan panutan. Lolot meledak semenjak album pertama mereka dan menjadi raja event di Bali. Sempat surut di pertengahan karier, “Saya salut Kak De Lolot masih tetap berkarya terus.” ujar Nova. Sampai akhirnya mereka kembali dengan formasi yang solid dan bisa merajai Bali lagi. Eksistensi yang luar biasa, salute.

IMG_2877
#5013official yang NYAKCAK!
Sekitar pukul 23.00 setelah Lolot selesai tampil di akhir konser SOUND SATIONS semua team balik menuju Denpasar dan sampai di Denpasar sekitar pukul 01.00 pagi. Semua team Scared Of Bums atau lebih dikenal dengan #5013official berada dalam satu mobil, kecuali team dokumentasi yang berangkat dengan sepeda motor karena mereka harus melanjutkan perjalanan ke acara Weekend Warrior.

Yang paling berkesan dari perjalanan ini adalah ternyata tim #5013official masih bisa diadu untuk “gila-gilaan” dan bekerja sama dengan baik. Bonusnya pemandangan Bali Barat sangat menakjubkan.

Team #5013official yaitu: Manager : Dede Flamable Road Manager : Regentara. Teknisi : Ade Meiada, Dede Premana, Ajicobz dan Tanksi Putra. Dokumentasi : Gede Godhel dan Arimbawa Ndud. Karena soundman kita berhalangan, kita di bantu sahabat kita dari “Bersimbah Darah” : Rico Anarcho sebagai soundman kita di Negara. Rico juga sempat mendokumentasikan perjalanan kita lewat vlognya dan kita republish di Instagram Scared Of Bums. Di karangasem soundman di backup oleh teknisi kita Dewa Edwin dan Nyom Stage sebagai forogafer. #5013official juga dibantu travel handal, mantan vocalis SLC #chandratravelbali yang mengantarkan Scared Of Bums di tour singkat ini dengan aman dan nyaman.

Satu yang #5013official sesalkan, karena waktu yang terbatas sekali sampai tidak sempat untuk berkumpul dengan #5013mc untuk merasakan kesegaran Lau Karangasem yang masih segar baru turun dari pohonnya. Tanpa team #5013official, Scared Of Bums tidak akan bisa menempuh 2 konser dalam 1 hari dari ujung barat ke timur, prestasi yg wajib dicatat dan dibanggakan.

Formasi SCARED OF BUMS adalah : Bocare (Vocal – Guitar) Arx (Bass – Troath) Poglax (Lead Guitar) dan Nova (Drum)

~diceritakan oleh: Novafuxnbumz

Untuk informasi booking dan media silahkan menghubungi: +62 857 3929 7430 (Saylow Alrite)

 

The post Scared Of Bums menempuh jarak 380 km untuk konser mereka di dua kota. appeared first on BaleBengong.

Hal-hal yang Sebetulnya Perlu diketahui oleh Nasabah Asuransi (bagian 3)

Masih melanjutkan postingan sebelumnya, terkait Kesalahan Terbesar Pola Pikir Nasabah, dalam kasus ini asuransi Prudential saat melakukan Pembelian Polis Jaminan Kesehatan, Kesalahan Ketiga yang saya tuliskan disitu adalah bahwa ketika saya memutuskan untuk menanamkan investasi dalam Asuransi Kesehatan yang saya beli, besaran uang yang saya terima pada saat jatuh tempo adalah sebesar uang yang dibayarkan, […]

Pesona Dewata #1 : Wadahi Kreativitas Anak Muda Bali Lewat Album Kompilasi

foto by Pesona Dewata

foto by kabarportal.com

Kabarportal.com – Pesona Dewata Production luncurkan album kompilasi 2016, album kompilasi pertama ini diluncurkan pada minggu 28 agustus 2016 yang berlokasi di Warung Chenel, Jl. Tukad Musi Renon – Denpasar. Album kompilasi Pesona Dewata #1 ini berisi lima belas lagu dari enam musisi Bali.

“Album kompilasi ini didukung oleh enam musisi Bali  dari enam musisi tersebut Aura Biroe salah satunya tinggal di luar pulau Bali yakni Lampung-Sumatera Selatan, jadi sangat special terasa untuk album kompilasi yang kami luncurkan ini”. Jelas Dextha salah satu panitia acara.

Ditambahakn oleh Dextha, “Dalam album kompilasi tersebut, secara keseluruhan untuk lagu dan proses rekamannya memang diserahkan keada artisnya sendiri, disini Pesona Dewata Production hanya sebagai wadah untuk menaungi para musisi muda Bali”.

Musisi yang terlibat dalam kompilasi tersebut diantaranya, Oggiest Band, Panpung, Dextha Arjun, Swalapatra Band Bali, Aura Biru Musisi serta Better Band. Ketika ditanya untuk promosi dari album kompilasi ini, Dextha mengatakan jika hardcopy  hanya dicetak sebanyak duaratus keeping dalam format audio CD yang dibandrol dengan harga Rp 25. 000.

Tapi tidak menutup kemungkinan jika ada permintaan kami akan cetak kembali, karena sementara kami cetak sebanyak duaratus keping saja dulu, untuk penjualannya sendiri masih menggunakan system door to door. Pada lounching album tersebut dimulai sejak pukul delapan malam yang di buka oleh penampilan dari band asal Mengwi Badung- Crusty Capsule, Idisela-sela acara juga diisi dengan pembagian doorprice dari para sponsor .[G14]

Atribut Tolak Reklamasi dan Perlawanan Sehari-hari

Atribut Bali Tolak Reklamasi menjadi wajah sehari-hari. Foto Anton Muhajir.

Atribut Bali Tolak Reklamasi menjadi wajah sehari-hari. Foto Anton Muhajir.

Pemandangan sama selalu muncul setiap saya bertemu Pak Putu Semiada.

Seperti beberapa hari lalu di sebuah acara konser. Atribut tolak reklamasi kembali nampak mendominasi penampilan lelaki murah senyum ini. Dia mengenakan baju kaos tolak reklamasi Teluk Benoa.

Topi bersimbol tangan kiri mengepal.

Jika kita bertemu Pak Putu saat aksi tolak reklamasi, maka kita kan melihat lelaki yang sudah punya cucu ini mengenakan atribut lebih “rame” dari biasanya. Bermacam pernak-pernik tolak reklamasi dipastikan memenuhi sekujur tubuhnya, dari udeng, baju, kacamata, tas, kain, hingga saput.

Saya sempat berkelakar, “jangan-jangan CD Pak Tu juga ada gambar tangan kiri mengepal?”. Dia menjawab “belum” sambil tertawa.

Yang membuat saya berdecak kagum adalah beberapa atribut itu dia buat sendiri. Kalau tak salah tas, udeng dan saput adalah hasil karya seninya sendiri.

Pak Putu adalah bagian dari arus yang dieembuskan gerakan ini, sebuah arus yang mempertemukan kesenian dan perlawanan. Hasrat memadukan seni dan melawan ini dihinggapi berbagai kalangan, entah mereka kelompok “seniman” maupun “warga biasa”

Pak putu tidaklah sendiri. Sosok-sosok dengan bermacam pernak-pernik simbol perlawanan terhadap upaya “urug laut” di Teluk Benoa itu mudah ditemui saat aksi di lapangan. Semangat tolak reklamasi tampaknya begitu merasuk.

Simbol-simbol perlawanan terhadap rencana ambisius investor tidak lagi sebatas ramai di jalanan, melainkan ramai di tubuh para penolak reklamasi. Semangat perjuangan ini begitu membadan.

Pernak-pernik itu bukanlah aksesoris biasa, yang hanya digunakan pemakainya untuk terlihat keren. Melainkan menandakan hal lebih dalam, yaitu isi hati si pemakai yang tegas menunjukan diri sebagai pihak “kontra” reklamasi.

Aksesoris-aksesoris tolak reklamasi adalah “statemen politik” manusia akar rumput yang lugas. Karena hal buruk bagi rakyat haruslah ditolak dengan lugas. Bukannya mengambang dan bertele-tele seperti halnya para pejabat atau politisi.

Banyak cerita yang saya dengar, termasuk dari pak Putu, bahwa tidak semua orang legowo terhadap kehadiran pernak-pernik ini. Ada saja yang nyinyir dan antipati terhadap kehadirannya.

Maklum saja, kritik dan protes terhadap investor rakus terkadang tak melulu menyesakan bagi pejabat-pejabat busuk yang berada di atas, namun juga orang-orang di sekeliling kita yang bertabiat sama seperti para rakus.

Memang penindasan bisa bekerja efektif jika ada kebijakan atau aturan-aturan hukum yang mendukungnya. Tetapi selain itu penindasan bisa beroperasi jika ada subjek-subjek di akar rumput menyetujui, bersepakat, atau memiliki kesadaran yang sama seperti si penindas. Para nyinyir ini mungkin bagian darinya.

Nyinyir atau penyepelean ini bisa juga sebagai respon mereka yang memilih abu-abu. Kita terlalu lama dibesarkan rezim Orba, dan terkadang sikap menggugat penguasa secara terang-terangan masih terasa kagok bagi orang-orang yang dibesarkan rezim ini.

Kita yang hidup pada masa itu acapkali merespon kebusukan politik negara dengan menjadi abu-abu. Karena menyatakan “tak setuju” secara gamblang bisa berujung penjara. Sikap abu-abu di hari ini barangkali warisan Orba yang masih menjalar.

Respon warga tak sepenuhnya negatif. Banyak juga mengundang dukungan, misalnya respon seseorang yang dengan seketika menunjukan tangan kiri mengepal ketika kita mengenakan atribut tolak reklamasi. Tentu saja, yang awam bisa dibuatnya terpancing bertanya kepada kita tentang hiruk pikuk persoalan reklamasi ini.

Jadi kehadiran pernak-pernik tolak reklamasi dalam dunia sehari-hari bisa berarti gugatan, pemantik solidaritas, dan “jembatan” edukasi. Oleh karena itulah si pemakai dituntut untuk tahu persoalan dan siap menerima resiko.

Wajah-wajah si pemakai atribut terlihat selalu sumringah dan bersemangat. Kentara mereka yang terlihat gembira melawan ini berhasil melewati berbagai tembok sensor di sekeliling mereka, entah berupa nyinyir atau penyepelean.

Mereka berhasil merawat “keberanian” sekalipun penjegalan terhadap gerakan ini menggunakan cara-cara kasar, entah intimidasi, tipu dan fitnah, ataupun perusakan seperti perobekan-perobekan baliho.

Manusia-manusia beratribut tolak reklamasi semakin menjamur, dan ini berarti “keberanian” tak hanya terawat tetapi terus berkembang biak. Rakyat sepertinya tak mau lagi memilih menjadi abu-abu.

Mereka memilih kontra reklamasi dan bergerak maju. Para rakus lebih baik mengurungkan niatnya. Ngeri membayangkan apa yang terjadi jika para rakus tetap ngotot. [b]

The post Atribut Tolak Reklamasi dan Perlawanan Sehari-hari appeared first on BaleBengong.