Category Archives: Berbagi Tak Pernah Rugi

Bantuan Anda Telah Kami Salurkan

Sumbangan ke korban bencana di Mentawai, Sumatera Barat dan Wasior, Papua Barat telah dikirimkan.

Tak banyak, sih. Masing-masing cuma Rp 2.550.000. Tidak ada apa-apanya jika dibanding sumbangan dari perusahaan-perusahaan besar ke para korban bencana, apalagi dibanding jumlah korupsi Gayus Halomoan Tambunan.

Sumbangan itu kami kumpulkan melalui kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi, lebih singkat disebut Berbagi saja, Bali Blogger Community (BBC) pada Minggu, 14 November 2010 lalu. Kegiatan dalam rangka perayaan tiga tahun komunitas blogger Bali ini diadakan di Lapangan Renon, Denpasar.

Continue reading

Perempuan-perempuan BBC Memang Oye!

Dengan mobil pick up, Sakti Soediro membawa barang-barang sisa dari Berbagi Tak Pernah Rugi Bali Blogger Community (BBC). Dialah salah satu wanita tangguh di BBC.

Sakti pula yang begitu usai terjadi bencana Gunung Merapi aktif mengumpulkan sumbangan dari berbagai kelompok. Sakti, perempuan single yang baru saja patah hati itu, membuat pos-pos penyaluran sumbangan untuk pengungsi di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Sudah dua kali dia mengirimkannya ke Jogja, tanah kelahirannya. Maka, dia pula yang kami titipi barang-barang sisa kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi kali ini untuk kemudian dikirim ke korban bencana di Merapi.

Berbagi Tak Pernah Rugi merupakan kegiatan rutin BBC. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Kalau biasanya dibuat dalam bentuk pelatihan teknologi informasi, kali ini kami mengadakannya dalam bentuk aksi amal untuk korban bencana. Sekalian perayaan BBC yang ketiga tahun dan solidaritas pada bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi.

[selengkapnya]

Melintas Batas dengan Keterbatasan

Luh Putu Eka Swandewi, 23 tahun, berteriak senang membaca pesan di layar komputer jinjing (laptop) di depannya. “Hore.. Akhirnya aku berhasil,” katanya sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Beberapa temannya di ruangan menyambut teriakan itu dengan tepuk tangan.

Eka ikut bertepuk tangan. Dia melihat layar komputer jinjingnya. Yahoo baru saja memberinya ucapan selamat: Congratulations, Eka.

Setelah belajar menggunakan program komputer untuk kantor seperti Word dan Excel pada empat kali pertemuan sebelumnya, hari ini Eka belajar internet. “Saya ingin terhubung dengan dunia yang lebih luas untuk mencari teman yang lebih banyak,” kata Eka.

Dia tak sendiri. Sebelas peserta pelatihan yang lain juga mendapat ucapan selamat dari Yahoo. Artinya, mereka semua berhasil membuat email.

Bersama penyandang difabel lain, Eka belajar tentang internet. Mereka menyimak materi dari Agus Sumberdana, anggota Bali Blogger Community (BBC), yang memberikan pelajaran di depan. Tiap kali selesai menyimak, Eka segera mempraktikkan apa yang disampaikan Agus.

Misalnya ketika Agus meminta peserta menulis Google di side bar. Eka dan teman-temannya segera melakukannya. Di kotak pencari, peserta belajar menulis kata kunci: Cara Membuat Email.

Setelah itu, para peserta mempraktikkan apa yang mereka pelajari dari Agus dan internet tersebut. Lima anggota BBC membantu para penyandang difabel tersebut untuk belajar internet. Sebagai bagian dari pelatihan tersebut, para peserta membuat email.

Setelah masing-masing peserta berhasil, itu pun harus berulang-ulang gagal terlebih dulu, tiap peserta kemudian mencoba menulis email tersebut untuk dikirim ke teman-teman mereka.

Eka misalnya menulis ke dua tema, keduanya warga negara asing, dalam Bahasa Inggris. “Hai, this my new email. I learn make a new email today. I am learn make an email for get new friend. I send you my email, so we can keep in touch.”

Begitulah internet berguna bagi Eka. Untuk berhubungan dengan orang-orang yang dikenalnya melalui jaringan tanpa batas. Maka dia mengaku sangat senang ketika akhirnya bisa belajar tentang internet dari yang sebelumnya belajar tentang program komputer. “Kalau sudah bisa internet, saya kan bisa menjelajah ke mana-mana,” ujar Eka.

Pelatihan internet setengah hari itu sendiri dilaksanakan oleh tiga lembaga untuk penyandang cacar di Bali yaitu Yayasan Kristen untuk Kesejahteraan Umum (Yakkum), Yayasan Senang Hati, dan Yayasan Bunga Bali. Adapun pematerinya dari BBC, komunitas yang sering memberikan pelatihan internet untuk warga.

”Kami ingin memberi bekal agar teman-teman kami siap bekerja,” kata Dayu Windiyani, panitia pelatihan dari Yayasan Senang Hati.

Namun bagi Eka, mencari kerja bukan menjadi tujuan utama. Bagi Eka, yang kakinya lumpuh sehingga dia harus berjalan dengan kursi roda, hal yang lebih penting adalah agar dia lebih berdaya dan mampu melakukan apa yang orang lain bisa lakukan.

Begitu belajar tentang internet, maka Eka langsung terhubung dengan dunia yang nyaris tanpa batas tersebut. Dari ruangan di kantor Dinas Sosial Kabupaten Badung yang juga kantor Yakkum di Abiansemal, Kabupaten Badung itu, Eka langsung berkirim email untuk temannya yang sedang di Italia. Kini, Eka tak hanya melewati keterbatasan fisik, dia juga melewati batas-batas ruang.

Internet membuat Eka dan difabel lainnya melewati semua batas itu

Karena Keterbatasan Bukan Penghalang

Sabtu (14/11) ini adalah minggu ketiga kami, Bali Blogger Community (BBC), memberikan pelatihan komputer untuk difabel di Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Abiansemal, Badung. Buatku sendiri ini yang kedua kali karena minggu lalu aku tidak ikut.

Dari sekian kali pelatihan yang kami adakan, menurutku pelatihan kali ini memang paling mengesankan. Bisa jadi karena pesertanya adalah para difabel atau penyandang cacat.

Maaf kalau ini terlalu mewakili sudut pandang arus utama (mainstream). Tapi melihat difabel tak terhalang oleh keterbatasan tubuh memang memberikan kesan mendalam bagiku. Para difabel ini antusias belajar tentang desain grafis, menggunakan tabel, atau sekadar menulis di komputer. Karena itulah pelatihan ini bagiku terasa sangat berbeda dibanding pelatihan-pelatihan yang pernah kami berikan.

Lihatlah misalnya peserta yang duduk di kursi roda. Ada pula peserta yang menggerakkan mouse dengan tangan kirinya. Ada pula “keterbatasan” lain yang ternyata bukan penghalang bagi mereka.

Pelatihan itu sendiri terbagi dalam beberapa materi. Ada yang tentang Corel Draw untuk belajar desain. Ada tentang Excel untuk belajar tentang tabel. Ada pula tentang Word untuk belajar menulis. Tiap peserta belajar sesuai minatnya dengan masing-masing pembimbing dari teman-teman BBC.

Jadinya ruangan berbentuk L itu tak hanya fokus pada satu tema tapi pada masing-masing materi yang dipelajari. Suasananya sih jadi agak campur aduk. Tapi semua toh berjalan lancar.

Dari BBC ada sepuluh orang: Aprian, Mas Tri, Gus Tulank, Bani, Bowo, Eka Ozawa, Yuna Elis, Saylow, Lina PW, dan Rahaji. Dua nama terakhir lagi jadi selebritis di Twitter gara-gara #kasmaran.

Pelatihan setengah hari itu diakhiri makan siang yang dimasak para difabel juga. Menunya ayam goreng, sambal tomat, dan sayur plecing. Nikmatnya ala mak jaaan..

Sabtu depan [21/11] pelatihan akan kembali dilanjutkan. Materinya tentang internet. Untuk itu kami harus menyiapkan laptop dan koneksi internet untuk sekitar 12 peserta. Jangan hanya bantu doa, mari sumbangkan laptop dan koneksi kita semua..

*Foto bergaya usai pelatihan pake Iphone barunya Saylow. 🙂

Pelatihan Excel untuk Difabel

Dengan duduk di kursi rodanya, Ketut Sudianti, 28 tahun, menggerakkan tetikus (mouse) di tangannya. Dia berusaha menjumlahkan angka-angka di kotak-kotak program Excel di laptopnya. Dua perempuan lain, Putu Ita Puspitasari, 20 tahun, dan Eka Suandewi, 23 tahun, berada di kanan kiri Sudianti. Ketiganya adalah penyandang difabel.

Sabtu siang lalu mereka merupakan bagian dari 13 difabel lain yang sedang belajar mengoperasikan Excel, program yang biasa dipakai terutama untuk keuangan. ”Kami belajar agar nanti biasa mengoperasikan kalau kerja,” kata Sudianti yang diiyakan Ita dan Eka.

”Ini pengalaman pertama kami belajar Excel. Tapi kami pasti bisa. Yang penting kan niatnya,” tambah Ita. Dia terlihat sudah biasa mengoperasikan komputer tersebut.

Bagi ketiga difabel tersebut, keterbatasan tubuh bukan penghalang. Meski harus duduk di kursi roda, atau menggerakkan kursor dengan tangan kiri, dan seterusnya, mereka terlihat bersemangat mengikuti pelatihan yang diberikan Bali Blogger Community (BBC) selama sekitar empat jam tersebut.

Sekitar 12 peserta itu pun belajar tentang bagaimana memasukkan, menjumlahkan, atau mengalikan angka-angka yang dituliskan di papan. Mereka berada di ruangan berbentuk L seluas kira-kira 4x 8 meter persegi di gedung Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung yang juga kantor Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Abiansemal, Badung. Peserta didampingi anggota BBC yang membimbing cara menggunakan program tersebut.

Pelatihan tesebut merupakan bagian dari Kursus Singkat Menuju Kerja yang diadakan Yakkum Bali, Yayasan Senang Hati, dan Yayasan Bunga Bali. Tiga lembaga pendamping difabel di Bali ini bekerja sama dengan lembaga lain seperti BEDO dan VSO Indonesia mengadakan pelatihan selama tiga bulan.

Dayu Windiyani, pengurus Yayasan Senang Hati yang mewakili panitia pelatihan mengatakan pelatihan tersebut terdiri dari dua hal penting yaitu soft skill seperti motivasi diri dan hard skill seperti keterampilan komputer, memasak, dan seterusnya. ”Kami ingin memberi bekal agar teman-teman kami siap bekerja,” kata Dayu.

Materi yang diberikan, menurut Dayu, berdasarkan pengalaman difabel lain yang sudah bekerja. Misalnya tentang apa saja kemampuan yang sering dibutuhkan oleh perusahaan penerima kerja. Pengalaman ini diperkuat hasil riset masing-masing organisasi terkait dengan kemampuan difabel yang sesuai kebutuhan perusahaan.

Dari sinilah pelatihan kemudian dibuat dengan menekankan pada kemampuan seperti Bahasa Inggris, Komputer, dan semacamnya tersebut. Materi itu kemudian disampaikan lebih banyak dalam bentuk praktik langsung. ”Target kami pada Januari nanti para peserta pelatihan sudah siap untuk training ke perusahaan-perusahaan,” ujar Dayu.

Peserta pelatihan sejak 8 September hingga 28 November itu adalah penyandang difabel dari tiga yayasan tersebut. Pesertanya diseleksi dari berbagai daerah seperti Karangasem, Tabanan, Klungkung, dan daerah lain.

Adapun pemateri pelatihan berasal dari berbagai relawan. Salah satunya adalah anggota BBC yang memberikan pelatihan tentang komputer, terutama tentang program Excel. ”Kami senang karena bisa membagi ilmu yang kami harap dapat membantu meningkatkan kapasitas teman-teman difabel,” kata Agus Sumberdana, anggota BBC.

BBC sendiri memang mempunyai kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi. Kegiatan ini berupa pelatihan tentang teknologi informasi baik komputer maupun internet yang diberikan pada komunitas-komunitas seperti sekolah alternatif, banjar, dan sekarang kalangan difabel. Karena itulah ketika diajak oleh panitia untuk memberikan pelatihan, BBC segera menerimanya.

”Bagi kami berbagi adalah sebuah konsep menyisihkan sedikit waktu, sumber daya yang kami miliki dan dipadukan dengan beberapa orang sehingga akan lebih banyak orang yang berdaya,” ujar Agus.