Ayam geprek kubu gendis : “Nendang dilidah, bersahabat dikantong”

foto by mesariartworkKabarportal.com – Hi  jika kalian penyuka sajian food western dan Indonesia food, tempat yang satu ini merupakan refrensi yang sangat tepat. Terletak di Perumahan Bualu Indah, Jl. Flamboyan VII no B 54 Nusa Dua Bali, salah satu tempat nongkrongnya para wisatawan dalam dan luar negeri.

Café yang mulai buka dari jam 5 sore hingga 11 malam ini menyajikan hidangan yang cukup membuat lidah kita bergoyang dan ingin kembali untuk mencicipinya, harga yang dibandrol pun terbilang cukup bersahabat di kantong, mulai dari 400 untuk jenis minumannya dan mulai 800 untuk harga  makanannya.

Ada berbagai paket dan makanan yang ditawarkan dari café dengan menu handalan ayam gepreknya ini, mulai dari sandwich hingga menu dissert pun tersedia disini. So tunggu apalagi ? jika kalian sedang berada diBali, tempat ini merrupakan refrensi yang sangat bagus untuk sekedar nongkrong atau menghabiskan malam di Bali.

Yuk follow Instagramnya di @ayamgeprekkubugendis

Hayooo, pasti kamu yang danai aksi ForBALI

Masak sih kalian mudah percaya siasat penipu? Saya makin jarang  mengikuti timeline Twitter. Sekalinya nengok, ada hastag tipu menipu level rendah memanfaatkan akun-akun palsu yang dijual peternak akun bot, lagi-lagi mengeluarkan jurus siapa mendanai aksi.

Ini bukan kali pertama siasat baper dikerahkan gerombolan berduit. Sampai ada akun-akun anonym yang umurnya panjang untuk tiap saat mencoba mengarahkan topik. Misal, kok tolak reklamasi terus, itu pantai dikapling hotel kok nggak diprotes? Lah, ini sak laut mau dikapling.  

Dari mana dana gerakan ForBALI atau deklarasi desa pekraman (adat) tolak reklamasi yang kini masif tiap pekan? Yaelah, puluhan ribu orang yang pernah ikut aksi atau minimal beli atau bikin kaos Bali Tolak Reklamasi (BTR) bisa jawab. Siapa mendanai aksi ForBALI? Ya saya, kamu. Pak Jokowi juga bisa ikut patungan, trus anaknya yang gemar Vlog memvideokan.

Saya contohkan beberapa peristiwa yang tak mungkin dimiliki tim kampanye penuh tipu. Uang tak bisa membeli kenangan, kak.

Ganti shift kerja

Selain ditolak sejumlah organisasi elit industri pariwisata, reklamasi ini juga ditentang kelas pekerjanya. Tak sedikit anak muda yang utak atik minta ganti shift kerja untuk bisa ikut aksi yang sering dibuat saat akhir pekan. Pekerja hotel kan malah sibuk di musim orang libur.

Nganten dengan undangan 13 alasan tolak reklamasi Teluk Benoa

BTR-nganten

I Kadek Susila dan Gusti Ayu Ary Budiani mengundang handai taulan dengan undangan khusus kampanye aksi tolak reklamasi di Teluk Benoa. Ada logo ForBALI dan infografis 13 alasan tolak reklamasi Teluk Benoa.

“Tiap ngasi undangan ke orang dibilang udangan untuk aksi demonstrasi,” Susila aka Bobby tertawa. Undangan ajakan demonstrasi cukup beralasan. Karena di sampul depan ada logo Bali Tolak Reklamasi yang memenuhi halamannya. Gambarnya pulau Bali sedang dikeruk dengan alat berat. Jika tak teliti, tulisan Undangan Pawiwahan (pernikahan) tak akan terlihat.

Lalu di halaman isi juga penuh dengan foto besar aksi demonstrasi. Dalam foto terlihat band Nosstress sedang konser di depan Kantor Gubernur Bali ditonton ratusan massa aksi. “Bobby sampai minta izin Nosstress untuk menggunakan foto ini,” kata Candra, manajer band yang digawangi Man Angga, Kupit, dan Cok ini. Ia hanya geleng-geleng melihat keseriusan Bobby mengampanyekan tolak reklamasi di area teluk samping rumahnya ini. Ceritanya di sini http://www.mongabay.co.id/2015/09/11/beginilah-pernikahan-berkonsep-aksi-tolak-reklamasi-teluk-benoa/

Bendera BTR masuk liang kubur

dari FB

dari FB

Cerita sedih juga mewarnai, misalnya ketika seorang simpatisan meninggal. Andika, dipanggil Deta dikubur berbekal bendera BTR dengan tiang dililit kain hitam putih yang selalu dibawanya saat aksi. Rekannya di ForBALI melayat ke Gelgel, Klungkung dan menyertai prosesi seperti aksi-aksi di sisa nafas Deta yang meninggal karena kecelakaan ini.

Artwork BTR

Soal karya seni bernada BTR tak terhitung, daftarnya sangat panjang. Dari poster karya desainer kiri Alit Ambara, kartunis Bogbog, sampai gambar anak TK. Versi nelayan tolak pengurugan sampai leak puputan. Terakhir, logo ForBALI ada di simbol-simbol spiritualitas seperti kamen, udeng, juga layangan, tradisinya rare angon 🙂

Kamu punya kenangan apa? Nilai peristiwa dan upaya itu, apa layak disandingkan dengan tarif untuk pemelintir isu reklamasi jadi SARA?

kartun DIEANT layangan BTR-anker-juli2016

dari FB

dari FB

Ohya, untuk kawan yang lupa deal-deal rencana reklamasi ini dia tarif, eh kronologisnya (dari laman ForBALI.org)

12 September 2012:

MOU antara TWBI dan UNUD terkait kajian kelayakan dengan dalih Tri Dharma Perguruan Tinggi.

18 September 2012:

TWBI mengajukan surat permohonan kepada UNUD untuk pembuatan kajian kelayakan dan AMDAL.

1 Oktober 2012:

Penandatanganan surat perjanjian kerjasama antara PT TWBI dan LPPM UNUD untuk pembuatan kajian kelayakan.

5 November 2012:

TWBI mengajukan surat permohonan audiensi kepada Gubernur Bali dengan nomor 009/TWBI/L/XI/2012.

12 November 2012:

LPPM UNUD melakukan presentasi pertama dokumen studi kelayakan di BAPPEDA Bali.

14 Desember 2012:

LPPM UNUD melakukan presentasi kedua dokumen studi kelayakan di BAPPEDA Bali.

20 Desember 2012:

DPRD Bali menerbitkan rekomendasi untuk tindak lanjut kajian kelayakan oleh LPPM UNUD dengan nomor 660.1/142781/DPRD. Rekomendasi inilah yang menjadi dasar dikeluarkannya SK 2138/02-C/HK/2012.

26 Desember 2012:

Gubernur Bali menerbitkan SK 2138/02-C/HK/2012 tentang Izin dan Hak Pemanfaatan, Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa. Tidak ada publikasi apapun mengenai hal ini.

1 Januari 2013:

Setelah penerbitan SK I tsb, mulai santer diberitakan di beberapa portal berita bisnis bahwa sebuah konsorsium multinasional akan membangun sirkuit F1 di Teluk Benoa

3 Juli 2013:

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengesahkan Peraturan Menteri dengan nomor 17/PERMEN-KP/2013 yang mengizinkan reklamasi di zona konservasi non inti. Tidak ada publikasi apapun mengenai hal ini.

3 Agustus 2013:

Presentasi oleh tim LPPM UNUD dalam dialog terbuka di kantor Gubernur. Dalam dialog ini Gubernur menyatakan tidak akan ngotot mempertahankan rencana reklamasi jika hasil studi kelayakan menyatakan tidak layak.

12 Agustus 2013:

DPRD Bali menerbitkan rekomendasi bernomor 900/2569/DPRD kepada Gubernur Bali untuk meninjau ulang dan/atau Pencabutan SK Gubernur Bali nomor 2138/02-C/HK/2012.

16 Agustus 2013:

Gubernur Bali mencabut SK 2138/02-C/HK/2012, namun menerbitkan SK 1727/01-B/HK/2013 tentang Izin Studi Kelayakan Rencana Pemanfaatan, Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa dan mendorong supaya kajian kelayakan sebagai bagian dari usaha reklamasi diteruskan.

19 Agustus 2013:

Draft laporan final studi kelayakan oleh LPPM UNUD yang menyatakan reklamasi Teluk Benoa layak bersyarat.

20 Agustus 2013:

Rapat koordinasi tim pengulas studi kelayakan oleh LPPM UNUD, hasilnya: reklamasi tidak layak.

23 Agustus 2013:

ForBALI melaporkan Gubernur Bali dan DPRD ke Ombudsman atas dugaan maladministrasi atas keluarnya SK Reklamasi Teluk Benoa. Laporan ForBALI Ombudsman (pdf)

2 September 2013:

Rapat senat UNUD di kampus Bukit; reklamasi Teluk Benoa dinyatakan tidak layak. Namun di hari yang sama, beberapa portal berita bisnis merilis berita bahwa reklamasi Teluk Benoa dinyatakan layak bersyarat dan dapat diteruskan.

9 September 2013:

ForBALI mengirimkan surat kepada Rektor UNUD, mendesak supaya Rektor UNUD melarang akademisinya terlibat dalam studi kelayakan reklamasi Teluk Benoa. Rektor UNUD menolak dengan dalih melibatkan diri adalah hak pribadi masing-masing akademisi.

18 September 2013:

Denpasar Lawyers Club dan Aliansi Jurnalis Independen Bali mengadakan diskusi publik “Menyoal Pro-Kontra SK Reklamasi Jilid 2”. Dalam diskusi ini perwakilan LPPM UNUD menegaskan lagi bahwa hasil studi kelayakan tidak layak, Pemprov bersikukuh SK Jilid II bukan SK Reklamasi, dan ForBali mengupas modus-modus SK Jilid II.

20 September 2013:

Prof. Ketut Satriyawan, ketua LPPM UNUD menegaskan kembali bahwa reklamasi Teluk Benoa tidak layak.

30 September 2013:

UNUD kembali menyatakan hasil studi kelayakan reklamasi Teluk Benoa tidak layak. Rapat Sabha Desa Pekraman Tanjung Benoa juga menyatakan menolak seluruh rencana dan/atau kegiatan reklamasi di kawasan perairan Teluk Benoa. Surat penolakan tertanggal 30 September 2013 yang dikeluarkan dari rapat tsb telah dikirimkan ke DPRD dan Gubernur.

3 Oktober 2013:

DPD RI menyatakan akan memanggil Gubernur Bali terkait dugaan pelanggaran UU dalam rencana reklamasi Teluk Benoa. Akan dihadirkan juga  Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kementerian Perhubungan, dan Menko Perekonomian

18 Oktober 2013:

Warga Tanjung Benoa kembali menegaskan sikapnya menolak reklamasi Teluk Benoadalam aksinya di depan kantor Gubernur Bali.

22 Januari 2014:

ForBALI, musisi-musisi Bali, dan beberapa organisasi masyarakat pemerhati lingkungan hidup seperti Walhi, Kiara, dll melakukan demonstrasi penolakan reklamasi Teluk Benoa dan penyelamatan pesisir Indonesia di depan Istana Negara Jakarta.

16 Februari 2014:

Jaringan Aksi Tolak Reklamasi (JALAK) Sidakarya melakukan aksi damai pembacaanpernyataan sikap, pengumpulan tanda tangan, dan cap jempol darah sebagai bentuk  penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Aksi ini berlangsung selama dua jam di depan kantor kepala desa Sidakarya.26 Februari 2014

26 Februari 2014:

JALAK Sidakarya menyerahkan spanduk berisi tanda tangan dan cap jempol darahwarga kepada Gubernur dan DPRD Bali. Spanduk ini diterima oleh Kabag Humas DPRD Bali.

27 Februari 2014:

Gubernur Bali mengadakan konferensi pers terkait penyerahan spanduk  bertandatangan dan bercap jempol darah yang diserahkan oleh JALAK Sidakarya pada hari Rabu, 26 Februari 2014. Di spanduk tsb ditemukan banyak makian, namun yang digarisbawahi oleh Gubernur adalah tulisan “Penggal Kepala Mangku P. Tulisan ini dianggapnya sebagai ancaman fisik yang serius, dan ditindaklanjutinya dengan pelaporan ke Polda Bali.

28 Februari 2014:

JALAK Sidakarya membantah tuduhan penulisan “Penggal Kepala Mangku P” di spanduk bertandatangan dan bercap jempol darah yang mereka serahkan kepada Gubernur dan DPRD Bali pada hari Rabu, 26 Februari 2014. Pihaknya memang menggalang aksi pengumpulan tanda tangan dan cap jempol darah tsb, namun menegaskan bahwa ketika spanduk tsb diserahkan, tulisan tsb tidak ada. Hal ini mereka anggap sebagai bentuk pengalihan isu reklamasi.

1 Maret 2014:

I Wayan Tirtayasa, seorang aktivis JALAK Sidakarya ditangkap oleh Polda Bali. Ia dijerat dengan pasal 336 KUHP ayat 2.

3 Maret 2014:

3 aktivis JALAK Sidakarya menyerahkan diri ke Polda Bali diantar oleh warga Sidakarya sebagai pejuang lingkungan hidup.

25-27 Maret 2014:

Organisasi-organisasi masyarakat sipil terkemuka seperti Walhi, Kontras, dan Greenpeace Indonesia mendesak pembebasan empat aktivis lingkungan dari Sidakarya. Mereka merilis siaran pers dan mengirimkan surat kepada Kapolda Bali Irjen Pol AJ Benny Mokalu.

28 Maret 2014:

Karena besarnya desakan dari organisasi-organisasi masyarakat tersebut, keempat aktivis lingkungan hidup dari Sidakarya dibebaskan oleh Polda Bali.

30 Mei 2014:

Presiden SBY mengeluarkan Peraturan Prsiden Nomor 51 tahun 2014 yang mengijinkan reklamasi dilakukan di wilayah konservasi Teluk Benoa.

 

MUSIK DAN PERGERAKAN BERSAMA RUDOLF DETHU

Bisa dibilang, melalui kata dan tulisan Rudolf Dethu, scene musik Bali kemudian didengar dan dibaca. Tak hanya oleh penduduk Indonesia, tetapi juga warga dunia. Belakangan, Dethu juga aktif dalam beberapa movement yang aktif dalam melawan ketidakadilan. Di sela-sela aktivitasnya, whiteboardjournal berbincang dengan Dethu mengenai musik, rockabilly dan pergerakan yang ia mulai melalui nada dan bahasa.

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan aktivis Rudolf Dethu (R).

H: Mas Dethu aktif di berbagai aktivitas, tapi sepertinya musik merupakan salah satu katalis utama diantaranya, ada alasan tertentu?

R: Saya mengawali segalanya sebagai penikmat musik. Dulu saya sempat bekerja di kapal pesiar, mengikuti keluarga saya yang berprofesi di bidang pariwisata. Hampir lima tahun saya bekerja di kapal pesiar, ternyata saya tidak terlalu menikmatinya. Tapi di saat yang sama, saya mendapat banyak musik dari luar negeri yang saya suka. Saat itu saya mengumpulkan CD, dan vinyl dari kunjungan saya bersama kapal pesiar ini. Dari musik yang saya kumpulkan, saya lalu membuat materi siaran radio saya sendiri. Dan dari situ saya baru merasa bahwa musik adalah jiwa saya. Dari situ saya lantas mencoba lebih dalam dengan menjadi manajer band, dan berbagai aktivitas lainnya.

Sekian tahun mendalami musik, saya lalu sadar bahwa musik memiliki kekuatan besar yang bisa jadi inti pergerakan. Ketika kami menghadapi berbagai isu sosial dan alam yang harus dilawan, kami kemudian melihat bahwa musik bisa jadi salah satu corong suara. Akhirnya sampai sekarang kalau kami bikin movement, selalu ada divisi musik untuk menggalang massa. Karena musik adalah bahasa yang universal, bisa menembus segala macam segmen. Inilah kenapa musik selalu kuat posisinya dalam setiap pergerakan yang kami mulai. Tapi positifnya, band yang kami ajak dalam pergerakan tak hanya berperan melalui musiknya. Ketika harus turun ke jalan, mereka juga ikut disana. Jadi keterlibatan mereka nyata, bukan cuma tempelan.

H: Salah satu pencapaian besar dari Dethu adalah menjadi manajer dari Superman Is Dead. Membawa sebuah band yang relatif tak dikenal dari Bali menjadi salah satu yang terdepan di Indonesia, kenapa justru meninggalkan band ketika band sedang di puncak?

R: Saya sempat “meninggalkan musik”, dalam artian saya pernah dalam masa tak memegang band selama beberapa tahun. Ketika itu saya mulai merasa jenuh, karena setiap kali ada pentas untuk band yang saya manajeri, saya jatuhnya jadi selalu stress karena harus mempersiapkan berbagai hal. Saya merasa bahwa saya tak bisa lagi menikmati musik ketika ada panggung. Saya merasa bahwa kekuatan utama saya ada pada berbincang-bincang, menulis dan mengabarkan berita kepada semua, dan hal ini hilang ketika saya berperan sebagai manajer band.

Saya lantas memutuskan untuk berhenti jadi lalu berfokus pada usaha clothing yang saya miliki saat itu. Ketika itu saya juga ingin mendalami dunia tulis menulis. Maka jadilah satu buku biografi Superman Is Dead yang berjudul Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! itu. Selain itu saya juga sempat menulis buku yang berjudul Blantika Linimasa yang mendokumentasikan scene musik Bali.

H: Apa yang kemudian menjadi trigger untuk kembali menjadi manajer band sekarang ini?

R: Yang membuat saya kembali ke dunia music showbiz adalah Leonardo and His Impeccable Six. Saya sangat mencintai band itu. Baik di panggung, maupun di luar panggung. Leonardo Ringo adalah sahabat saya.

Suatu saat ia datang kepada saya dan meminta saya memanajeri mereka. Saya tak mungkin menolak permintaannya, karena saya sangat menggemari musik mereka. Tak lama setelah itu, The Hydrant menghubungi saya dan meminta hal yang sama. Yang saya pikir saat itu adalah sepertinya pas dua band ini, kuat secara attitude, slick tampilannya dan sama-sama klimis (tertawa).

Prinsip saya dalam menjadi manajer sangat sederhana sebenarnya. Saya tidak akan memanajeri band yang saya tidak suka musiknya. Sebesar apapun bandnya, kalau tidak suka, saya tidak akan mengambilnya. Toh ketika menjadi manajer saya juga tak pernah menggaungkan nama saya di atas nama band-nya. Posisi yang saya ambil cenderung lebih ke ghostwriter dalam menjadi manajer band. Band yang saya pegang juga semuanya memiliki kedekatan secara personal dengan saya pribadi, ini penting bagi saya. Karena saya sebenarnya tak memiliki strategi khusus dalam menjadi manajer. Saya tidak seprofesional itu. Kalau boleh jujur, I’m not very good at being a manager. Yang biasa saya lakukan adalah menceritakan band saya melalui foto dan cerita. Dengan dekat dengan setiap personelnya, maka cerita yang keluar natural adanya. Tidak dibuat-buat. Kalaupun ada gimmick dalam hal tulisan misalnya, yang harusnya pakai tanda seru satu, saya tambah jadi tiga (tertawa).

H: Bagaimana perjalanan Mas Dethu ketika itu dan bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi sekarang?

R: Kalau dibandingkan, kondisi sekarang jelas lebih mudah. Teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang ketika awal saya membangun jaringan dan skena di Bali, sekarang sudah menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Jadi ketika saya memiliki progam sekarang, mereka akan dengan senang hati ikut memberitakan, atau bahkan mengajak band saya ikut bermain di acara mereka. Jauh lebih mudah dibanding ketika dahulu.

H: Kalau pergulatan di scene bagaimana? Terutama mungkin ketika dahulu?

R: Pergulatan skena di jaman dahulu jelas lebih berat. Dulu itu ngeri banget. Terutama di skena punk rock-nya ya. Mereka bukan cuma memaki, tapi juga menggunakan kekerasan fisik. Di jaman awal SID, kami adalah band punk rock yang datang dari Bali untuk bersenang-senang, tapi ketika kami keluar dari Bali, ternyata keadaan yang ada sangat berbeda. Contohnya, kami biasa mengkonsumsi alkohol sebagai bagian dari rutinitas panggung, tapi ketika kami keluar, hal yang menurut kami sederhana, ternyata jadi masalah tersendiri (tertawa). Dan dari situ, banyak yang kemudian nge-judge kami dengan tuduhan imoral, miskin moral dan semacamnya. Bahwa kami berusaha menyebarkan budaya negatif. Padahal minum alkohol adalah hal yang sangat normal di Bali. Yang disayangkan adalah ketika ada yang tidak sepakat dengan kebiasaan kami, mereka menggunakan kekerasan fisik untuk melawannya. Untungnya SID itu mampu membuktikan bahwa meski mereka kena berbagai macam stigma, mereka mampu bertahan. Sekarang saya rasa keadaannya lebih mudah. Scene jaman sekarang lebih open-minded terhadap berbagai budaya yang ada.

H: Ada karakter yang cukup menonjol dari musik yang muncul dari Bali, terutama mungkin tampilan rockabilly yang kuat, darimana karakter ini muncul?

R: Sebenarnya mungkin karakter ini muncul secara tidak sengaja. Di banyak aspek, Jakarta adalah tempat pertama yang menerima budaya dari luar negeri. Termasuk dalam musik punk, jadi anak punk dengan spike pertama ada mungkin di Jakarta. Hal yang sama juga berlaku pada subkultur lain, semua sudah berkembang lebih dahulu di kota-kota besar. Sementara di Bali, ada satu tempat dimana kami masih bisa steal the show, yakni melalui punk rock ala Amerika dan rockabilly. Dan ini pas dengan kondisi kota Bali yang penuh kegembiraan dan suasana santainya. Budaya street-punk kurang laku di Bali, agak susah untuk jadi depresi di alam yang sejahtera seperti di Bali. Se-street punk apapun orang yang ada di Bali, kalau pulang ke rumah juga akan tunduk pada ibunya dan tidur di rumah, tak akan di jalanan juga. Rockabilly dalam hal ini pas untuk menggambarkan nuansa gembira dari Pulau Bali.

Tapi dari kondisi yang demikian juga ada dilema tersendiri. Awalnya ketika mengajak anak-anak ini untuk ikut bergerak, mereka kebanyakan tak mau. Mereka tidak biasa diajak protes, karena keadaan yang nyaman. Tapi pelan-pelan mereka akhirnya mau untuk ikut turun karena mereka melihat keadaan di sekitar mereka berbeda. Yang menarik adalah ketika anak-anak ini turun, pendekatan yang mereka gunakan juga asik. Dimana mereka turun ke jalan sembari menyanyi, dan bersenang-senang. Mereka memperjuangkan aspirasi dengan rasa gembira di dada. Tak pernah ada kerusuhan di dalamnya.

H: Dethu aktif dalam mengkampanyekan semangat keberagaman melalui musik. Bagaimana sejauh ini peran musik sebagai motor utama pergerakan?

R: Bagi saya, keberhasilan utama kami dalam berkampanye adalah mengumpulkan ribuan nama baru untuk bergabung dalam pergerakan dan turun ke jalan bersama. Musik sekali lagi menjadi alat bagi kami untuk mengundang orang untuk ikutan. Dalam beberapa kali aksi yang kami gelar, banyak orang bergabung hanya karena melihat ada personil Navicula, Dialog Dini Hari atau Superman Is Dead di situ, tanpa tahu isu apa sebenarnya yang kami angkat.

Kami memang menerapkan strategi dimana kami tidak pilih-pilih siapa orang yang bisa bergabung dengan kami. Kalaupun ada yang cuma ingin ikut keren-kerenan saja, kami akan menerima dengan tangan terbuka. Seiring waktu, mereka akan belajar bersama kami tentang masalah apa yang kami lawan bersama. Semangat inilah yang menjadi dasar tumbuh kembang pergerakan kami. Dengan ini pula, kami semakin percaya bahwa musik adalah senjata, ini mungkin terdengar klise, tapi kami merasakan sendiri buktinya. Kampanye kami selalu berjalan tanpa uang, atau modal tertentu, hidupnya mungkin hanya dari jual kaos, tapi musiklah yang membuat suara pergerakan kami lebih lantang untuk melawan penindasan dengan modal uang trilyunan.

Sekarang, kalau SID main, akan ada ratusan bahkan ribuan orang yang memakai kaos Bali Tolak Reklamasi. Dan ini terjadi bahkan di luar Bali, rasanya seperti ribuan orang tersebut tahu dan menghadapi masalah reklamasi bersama kami.

Semangat ini powerful sekali. Mereka juga sangat militan dalam mendukung dan menyuarakan kegelisahan kami. Tak hanya di musik punk rock, musik folk juga sama pergerakannya. Mungkin hampir sama dengan musik era 50 atau 60’an jaman dahulu dimana musik folk dan budaya hippies menjadi katalis perlawanan.

H: Belakangan, Mas Dethu cukup aktif dalam mengkampanyekan keberagaman. Apakah ini ada hubungannya dengan latar belakang Mas Dethu sebagai warga Bali yang lekat dengan bermacam budaya? Dan kenapa keberagaman penting bagi Mas Dethu?

R: Saya memiliki pengalaman yang tak mengenakkan dalam hal ini. Ketika menjadi manajer SID, salah satu tuduhan yang sering menghampiri kami adalah tuduhan bahwa kami adalah band rasis yang anti orang Jawa. Ini sebuah tuduhan omong kosong yang entah darimana datangnya. Ada yang bilang bahwa tembok latihan kami bertuliskan “Anti Jawa”, atau bahwa ada tato “Fuck Java” di tubuh personil SID, dan semua tuduhan tersebut bohong besar. Padahal pacarnya Bobby (gitaris/vokalis SID) orang Surabaya dan kru kami ada yang dari Tegal. Sayangnya, banyak orang yang percaya dan isu ini menjadi semakin besar. Karena meski isunya sangat dangkal, ternyata banyak anak muda yang terpengaruh dan dari situ timbul kebencian yang tak berdasar.

Ketika saya masih kesal dengan isu tadi, muncul lagi isu besar mengenai pornografi yang jelas-jelas mengoyak semangat pluralisme di Indonesia. Digerakkan hanya oleh sekelompok kecil orang yang anti keberagaman, tiba-tiba muncul undang-undang yang memojokkan orang Bali karena budaya kami akan terganggu dengan undang-undang itu. Trus ada lagi peraturan tentang pelarangan minuman beralkohol, ini semakin menunjukkan bahwa keberagaman sedang terancam di sini. Padahal, minuman beralkohol sebenarnya adalah bagian dari kebudayaan lokal – hampir semua daerah memiliki minuman alkohol khas masing-masing. Juga bahwa seharusnya negara tidak ikut campur pada keseharian orang-orangnya. Toh, minuman tersebut kami dapatkan secara legal, orang lain tidak memiliki hak untuk mengatur apa yang kami konsumsi. Sekarang ada kekerasan seksual dikaitkan dengan minuman beralkohol, ini omong kosong. Ini pandangan sempit yang cenderung menyederhanakan masalah. Yang salah orangnya, bukan minumannya.

Di Bali, yang saya lihat adalah kami adalah daerah yang menjunjung tinggi keberagaman, dan terbukti bahwa keberagaman berpengaruh pada perilaku masyarakatnya, Bali adalah salah satu tempat yang tingkat kriminalitasnya paling rendah.

Dari yang saya lihat, ketika paham keberagaman itu telah dipegang dan dihidupi pada sebauh masyarakat, maka jadinya masyarakatnya akan lebih ramah dan humanis. Ini terbukti pada peristiwa Bom Bali, ketika bom meledak, tak ada yang kemudian menjarah toko, merampas uang turis atau vandalisme lain. Kearifan seperti ini akan terganggu bila keberagaman diusik.

H: Bagaimana Dethu melihat intoleransi yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir?

R: Saya jelas sedih. Hal ini menggerakkan saya bersama beberapa teman untuk keliling kampus dan menyurakan semangat toleransi pada mahasiswa sebagai representasi generasi muda. Dan yang membuat saya semakin sedih adalah ketika menjalankan itu, kami sering mendapat ancaman. Saya yakin bahwa intoleransi ini tumbuh karena generasi kita miskin ilmu pengetahuan, karena kalau mereka tahu, mereka harusnya semakin toleran terhadap budaya lain. Ini sangat berbahaya. Jadi meski capek, saya akan terus melawan gerakan intoleran. Di titik tertentu, gerakan seperti ini juga merupakan food for the soul bagi saya.

H: Beberapa tahun terakhir, kalangan di Bali cukup aktif dalam mengkampanyekan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa”, apa sebenarnya masalah yang dihadapi dan bagaimana perkembangannya hingga sejauh ini?

R: Jadi begini, ada sedikitnya tiga masalah utama dalam proyek reklamasi Teluk Benoa. Satu adalah isu sosial dan lingkungan. Bali sudah memiliki ribuan kamar hotel yang surplus, jadi buat apa membuat hotel baru kalau yang ada sekarang saja masih sisa? Kalau alasannya untuk menampung tenaga kerja – ini alasan klise yang selalu dijadikan excuse dari pengembang, yang ada adalah orang-orang pun tak akan mau bekerja kalau nantinya hotel mereka sepi dan tak laku. Kalaupun nantinya kamar-kamar tersebut laku, maka Bali yang sekarang sudah macet, bisa semakin penuh lagi jalanannya. Kalau macet dan semakin penuh, apakah kita akan bisa menikmati hiburan alam di sana? Tentu tidak.

Yang kedua adalah masalah di Teluk Benoa sendiri. Teluk Benoa itu adalah muara dari 6-7 sungai besar di Bali. Jika nantinya di tengah Teluk Benoa akan diisi sebuah pulau buatan, maka pasti air sungai tersebut akan meluap ke daerah sekitar. Tak perlu jadi Einstein untuk tahu bahwa kalau nanti ada pulau baru di tengah Teluk Benoa, akan jadi banjir di sana. Ini logika sederhana saja. Kalau pengembang bisa dapat izin AMDAL, maka izin tersebut patut untuk dipertanyakan kebenarannya.

Belum lagi mengenai fungsi kawasan tersebut yang merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi. Sayangnya, beberapa bulan sebelum lengser dari jabatan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono mengubah fungsi kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan pariwisata yang memungkinkan area tersebut untuk direklamasi. Dan yang mencurigakan adalah izin dari SBY yang membuka izin bagi pengembang persis sesuai luas wilayah yang diinginkan oleh penggerak reklamasi.

Pihak pengembang juga selama ini berkata bahwa seolah-olah proyek ini dibuat demi “kemaslahatan” penduduk Bali. Kalau memang benar mereka membuat proyek ini untuk orang Bali, harusnya mereka melakukan pengembangan di luar daerah Selatan yang sudah overload. Padahal kalau mereka benar-benar setulus itu, ada daerah utara Bali yang lebih butuh pengembangan lebih lanjut. Ini menjadi bukti kesekian tentang tipu daya mereka.

Awalnya rakyat tidak tahu menahu, kami yang sedari awal curiga tentang motif dari proyek ini lantas semakin khawatir ketika kekuatan besar seperti mantan Presiden SBY ikut campur didalamnya. Ketika kami telusuri lebih jauh, hampir semua aparat pemerintah juga sudah dibeli oleh pengembang. Rakyat Bali disini jadi yatim piatu yang tak dipedulikan. Setelah kami giat mensosialisasikan, rakyat kemudian sadar bahwa pengembang tak memperhatikan mereka sama sekali, dan hanya memikirkan berkembangnya bisnis real estate mereka di proyek ini. Bahwa proyek reklamasi adalah murni bisnis real estate semata, tak ada urusannya dengan pengembangan masyarakat dan semacamnya.

Sekarang, rakyat sudah sangat marah. Jika dulu campaign kami masih bernama “Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi Teluk Benoa”, sekarang ada tambahan “Puputan Teluk Benoa”, yang berarti bahwa rakyat Bali telah siap berperang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup ekosistem Teluk Benoa. Ketika Presiden Jokowi akan mengunjungi Bali, oknum keamanan menyebar ke jalanan untuk mencopot poster, baliho atau atribut di jalanan yang dibuat sendiri oleh rakyat untuk menolak proyek reklamasi ini. Untungnya, rakyat tidak takut untuk mempertahankannya.

Terakhir, ada kabar dari orang dalam istana yang menyatakan bahwa proyek reklamasi akan tetap dijalankan. Saya lalu berkata beliau ini bahwa kalau istana memberi lampu hijau untuk proyek ini, maka istana juga harus siap melihat rakyat Bali berjuang hingga tetes darah terakhir untuk mencegah proyek ini berjalan. Ini bukan omong kosong, rakyat sudah siap mati untuk ini. Karena pergerakan rakyat ini juga bukan pergerakan yang instan, telah 4 tahun lebih kami berjuang dan ini bukan gerakan main-main.

Dan tampaknya, sebenarnya pengembang juga telah menyadari kekuatan yang kami miliki. Tapi entah kenapa mereka enggan menyerah. Hingga suatu ketika, pemimpin pengembang ini menggelar press conference dan memimpin sendiri sesi itu sembari menyatakan bahwa beliau telah mengeluarkan uang 1 trilyun untuk melancarkan jalan proyek ini, jadi kalau proyek ini dihentikan, orang-orang yang menerima uang 1 T dari saya juga harus dikuak. Kami lantas agak bertanya-tanya siapa saja yang telah menerima uang tersebut. Tapi di sisi lain kami juga merasa bahwa kalau si pemimpin ini sudah turun tangan sendiri untuk ngomong kepada publik tentang modusnya, ini berarti pergerakan yang kami mulai ada dampaknya. Setelah kami nonton bareng sesi press conference itu, saya bersama teman-teman bertepuk tangan, karena at some point itu pencapaian bagi kami (tertawa). Mungkin dalam hal ini kami kalah secara materi, tapi selama masih punya dukungan dari masyarakat dan KPK saya masih optimis. Kalau dulu kita bisa menurunkan Suharto dari kursi presiden, maka harusnya kita juga bisa menggagalkan usaha developer ini. Ini jadi semangat kami.

RD2

H: Apa visi dari gerakan MBB yang Mas Dethu inisiasi ini?

R: Belakangan saya aktif dalam membuat gerakan pluralisme yang saya namai Forum MBB − Muda, Berbuat dan Bertanggung jawab. Disitu saya berusaha untuk menyebarkan semangat keberagaman. Pergerakan ini merupakan perpanjangan dari movement yang saya mulai ketika kami melawan UU Pornografi di tahun 2008. Meski saat itu saya dan kawan-kawan gagal untuk melawan disahkannya UU Pornografi, ada pencapaian tersendiri disitu. Dari pergerakan saya tersebut, terbentuk jaringan yang berisi individu-individu yang mau bergerak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ini menjadi modal besar bagi saya ketika saya bergabung di gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Awalnya saya sendirian di MBB ini, tapi sekarang saya bergerak bersama Arman Dhani untuk mengkampanyekan semangat pluralisme dan hak-hak sipil. Masih dengan metode dan semangat yang dulu saya pelajari di pegerakan yang telah lalu, saya ingin MBB bisa hidup dan berkembang sembari terus mengkampanyekan semangat pluralisme di Indonesia. Tetap dengan pendekatan pop yang kuat. MBB memiliki website dengan konten yang kuat, facebook page dengan jumlah like ribuan dan terus berkembang hingga sekarang dengan isi yang selalu berfokus pada movement dalam menolak ketidakadilan.

Awal dari MBB ini mungkin ada pada saat dimana saya berperang dengan eks vokalis Rocket Rockers yang dulunya merupakan rekan yang saya hormati di scene punk lokal. Ketika dia tiba-tiba berubah menjadi sosok yang anti keberagaman, saya lalu bertanya, kenapa dia bisa begitu, padahal dia anak punk yang harusnya semangat utamanya adalah liberation. Momen transisi yang drastis ini membuat saya bertanya-tanya, lantas ngapain dia selama ini jadi vokalis band punk, mending bikin lagu religi saja (tertawa). Tapi di satu sisi saya khawatir juga, karena semangat anti keberagaman ini mulai bergerak di area yang saya hidupi. Ini bibit-bibit anti pluralitas yang harus dibasmi, bayangkan, ada dari mereka yang bilang bahwa bersalaman dengan orang yang merayakan Natal itu haram, ini kan absurd. Saya lantas memutuskan untuk melawan. Karena mereka yang anti pluralitas ini lebih militan dan aktif dari kita, maka kita juga harus memulai pergerakan.

Program yang kami persiapkan adalah menyebarkan semangat toleransi, tentang alkohol dan hak publik. Saya sedang membuat proposal tentang acara mengenai kekerasan seksual, di dalamnya kami juga akan mengajarkan mengenai fenomena ini. Aksi ini juga merupakan respon pada pemerintah yang dengan sembrononya mengkambinghitamkan minuman beralkohol sebagai tersangka utama dalam kekerasan seksual ini. Padahal ini juga ada hubungannya dengan ketidakbecusan pemerintah dalam masalah edukasi seksual. Dengan hanya mengkambinghitamkan minuman beralkohol, ini bukan tindakan yang menyelesaikan masalah.

H: Selama ini masyarakat umum hanya mengenal Bali dengan pantai, Kuta, tari Kecak atau baju Bali. Jatuhnya cenderung jadi eksotisme saja. Sebagai salah satu representasi Bali, mungkin bisa diceritakan tentang apa yang sedang terjadi di kultur kreatif di sana?

R: Pantai, hingga Tari Kecak mungkin masih menjadi jualan utamanya. Tapi di scene anak muda, mereka sudah memiliki cara tersendiri dalam berkarya. Masyarakat Bali cukup terbuka dengan budaya urban, dan ini mereka kombinasikan dengan budaya yang ada disana. Seperti tempat yang saya kelola misalnya, Rumah Sanur secara arsitektur menggabungkan budaya Bali dengan gaya urban. Eksotisme masih ada, namun budaya urban juga berkembang di sana, anak muda Bali sudah paham bahwa kalau kami tetap tak berkembang, hasilnya akan membosankan juga, jadi mereka membuat bentuk karya baru yang berbeda dengan apa yang orang tua mereka lakukan dahulu.

H: Bagaimana Mas Dethu melihat pola yang demikian, karena bisa jadi dengan kebudayaan lokal yang semakin tersisihkan, anak-anak mudanya akan lupa dan kehilangan identitas kebudayaannya?

R: Kalau saya pribadi melihat bahwa langkah anak-anak muda Bali yang menggabungkan budaya lokal dengan gaya urban adalah hal yang tepat untuk dikembangkan sekarang ini. Saya rasa, budaya lokal Bali tak akan hilang, karena budaya kami dicintai oleh banyak orang dan selalu ada yang menjaganya. Para millenial ini harus dibiarkan untuk berkreasi, biar ada kebudayaan Bali jadi lebih ekletik. Ini hal yang positif yang harus dikembangkan.

H: Apa rencana Dethu di masa yang akan datang? Ada proyek tertentu mungkin?

R: Untuk proyek pribadi, saya ingin mengembangkan Rudolf Dethu Showbiz yang akan menjadi tempat bagi band atau musisi lokal yang memiliki semangat untuk menampilkan musik yang membawa kebahagiaan, dan berkualitas. Di luar itu, saya ingin membesarkan MBB. Dua proyek ini ingin saya kembangkan bersama, jadi dengan berkembangnya showbiz, saya bisa meningkatkan appeal MBB juga. Inginnya Rudolf Dethu Showbiz bisa jadi industry of cool yang mengingatkan bahwa rock ‘n’ roll bisa juga menjadi agen perubahan.

Artikel ini saya pinjampakai dari Whiteboard Journal

Unboxing AndroMax E2+ dan beberapa Catatan Khusus

Ndak jauh beda dengan kehadiran para pendahulunya, kemasan AndroMax E2+ masih memiliki dimensi yang sama, desain yang sama dan isi penjualan yang sama. Gak heran sih ya. Wong secara dimensi layar yang digunakan rata-rata juga masih menyerupai satu sama lainnya. Selain ponsel, ada batere terpisah dengan bertuliskan Hisense yang kelihatannya diperuntukkan bagi ponsel AndroMax series […]

Tenis Meja adalah Salah Satu Hobi Dr. Arcandra Tahar

archanda tahar

Orang sukses adalah sosok yang memiliki pencapaian yang luar biasa di dalam karir dan juga di dalam kehidupan pribadinya. Salah satu sosok orang sukses berkelas internasional yang berrasal dari Indonesia adalah Dr. Arcandra Tahar. Beliau adalah sosok intelektual muda yang telah memegang 3 paten di bidang teknologi. Pribadinya yang kharismatik dan berwawasan, membuatnya dipercaya sebagai pimpinan berbagai organisasi internasional di Houston, Amerika Serikat. Akan tetapi, Di balik sosoknya yang berwibawa dan memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, beliau adalah pribadi yang juga menyenangi dunia olah raga. Salah satu olah raga yang digemarinya adalah tenis meja atau yang disebut juga dengan pimpong. Olang raga ini sering dimainkan oleh Dr. Arcandra Tahar bersama rekan-rekannya. Jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang hal ini, mari simak uraian berikut.

Tenis meja bagi Bapak Dr. Arcandra Tahar bukan hanya sekedar hobi. Olah raga yang satu ini juga beliau jadikan sebagai sarana untuk berkumpul dengan warga indonesia lainnya yang berada di Amerika Serikat. Tidak hanya itu, beliau juga memiliki prestasi yang gemilang pada cabang olah raga tenis meja. Beliau pernah menjuarai turnament tenis ganda putra dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Ini merupakan prestasi yang membanggakan. Di sela-sela kesibukannya, beliau tetap bisa menorehkan prestasi di bidang olahraga.

Nah, itulah sekelumit uraian tentang Dr. Arcandra Tahar dan hobinya. Profesional muda yang satu ini memang sangat gemar berkumpul bersama warga Indonesia yang ada di Houston. Ada banyak hal yang mereka bahas di sana. Mulai dari hal politik, hingga mengenai sosial budaya. Di sela-sela waktu seperti inilah, Dr. Arcandra Tahar menyempatkan waktu untuk melatih kemampuannya bermain tenis meja. Pribadinya yang ramah, membuatnya disenangi oleh masyarakat luas. Baik yang merupakan warga negara Indonesia, maupun warga negara asing. Semoga artikel kali ini dapat menambah informasi anda tentang Dr. Arcandra Tahar dan hobinya. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya dan salam sukses.